Dicintai Brondong Online

Dicintai Brondong Online
21. Dipatuk Ular


__ADS_3

Lili bertemu dengan pemilik toko buku yang sudah tua. Sewaktu kecil toko itu adalah tempat favoritnya sehingga pria tua pemilik toko itu ingat betul dengan Lili kecil.


Mereka pun duduk di sofa dalam toko, juga Kiki yang selalu mendampingi Lili. Mereka bercakap-cakap sambil menyeruput kopi buatan pria tua itu.


Pria tua itu bertanya perihal kedatangan Lili ke tempat yang sudah lama sekali tidak ia kunjungi. Lili pun menceritakan dengan jujur perihal yang terjadi pada Arjuna, orang yang ia yakini sebagai teman masa kecilnya.


"Ya, Mbah ingat. Dulu kamu memang punya teman laki-laki yang kadang-kadang kamu ajak ke sini. Saya ingat selera buku yang dipinjamnya. Sebentar," ucap pria tua itu.


Pria tua itu pun pergi dan kemudian kembali dengan membawa tiga buah buku tebal. Setelah diletakkan di atas meja, Lili mengingat-ingatnya. Sepertinya ia familiar dengan buku-buku itu.


"Buku apaan nih? Ah, kamu, bukannya sewa untuk dibaca malah sewa untuk jadi bantal tidur!" Itu adalah kata-kata Lili kecil yang muncul tetiba di dalam ingatannya.


"Enak aja. Sini, sini! Emangnya kamu! Aku sewa ini buat dibaca tahu!" protes anak laki-laki yang berada dekat dengan Lili kecil.


Lili menyentuh ketiga buku itu pelan.


"Ketiga buku ini. Untuk usia anak-anak belasan tahun, buku-buku ini adalah bacaan yang berat. Mbah masih ingat ketika itu Mbah sampai keheranan dengan selera temanmu itu," jelas pria tua itu.


"Jalaluddin Rumi... Sutardji Calzoum Bachri, dan satu lagi William Shakespeare. Hufff..." ucap Kiki memeriksa buku-buku itu kemudian menghembuskan napas dengan kasar.


"Wah, sayang banget," ucap Kiki.


"Ada apa?" tanya Lili.


"Ini dua halaman kotor begini. Seperti kecipratan lumpur," jawab Kiki sambil menunjukkan halaman di salah satu buku itu.


"Ya, buku ini pernah kembali dalam keadaan kotor. Sepertinya sudah coba dibersihkan oleh penyewanya, tapi masih harus Mbah juga yang membersihkan sisa-sisanya. Sepertinya ini ulah temanmu, tapi Mbah lupa. Mungkin saja orang lain, tapi seingat Mbah jarang yang mau sewa buku ini selain temanmu itu," jelas pria tua pemilik toko.


Di benak Lili kembali melintas sekelibat ingatan ketika ia dan Arjuna kecil bermain-main di sebuah lembah. Ketika itu Arjuna kecil tidak sengaja menjatuhkan buku itu dan dalam keadaan terbuka mengenai tanah berlumpur.


"Gue sekarang ingat di mana tempat gue dan Arjuna sering main bareng!" batin Lili.


Sejak tadi Lili hanya berkeliling desa tanpa ingat dimana tempat ia sering menghabiskan waktu bermain bersama Arjuna kecil. Ini adalah pertanda yang sangat membantunya. Ia pun bergegas pamit untuk mendatangi lembah itu.

__ADS_1


Kiki masih terus mendampingi Lili. Ia mengendarai motor dan membonceng Lili untuk menuju tempat yang Lili ingat. Tentunya, atas arahan Lili kepada Kiki.


"Lu ngapa sibuk banget sama spion sih?" tanya Lili yang tengah dibonceng menggunakan motor.


"Kaya ada yang ngikutin kita deh," jawab Kiki.


"Ah? Masa?" Lili memutar pandangannya ke arah belakang.


"Ga ada tuh. Cuma perasaan lu aja kali, Ki," sambung Lili.


"Ya, semoga," ucap Kiki sambil sesekali masih melirik ke spionnya.


Tak lama, mereka pun berhenti di depan sebuah jalan setapak. Lili memutuskan untuk memberhentikan motor mereka di tepi jalan ini saja kemudian akan melanjutkannya dengan berjalan kaki.


Kiki tak sampai hati membiarkan Lili berjalan dengan mengapit tongkat di ketiaknya. Awalnya Kiki membiarkan perempuan keras kepala itu berjalan di depan, tapi akhirnya Kiki memaksa Lili untuk naik di punggungnya.


Berulang kali Lili menolak tapi akhirnya ia berhasil Kiki bujuk untuk berada di punggung Kiki. Kiki pun berjalan sambil menggendong Lili.


Mereka menyusuri jalan setapak dengan kiri-kanannya dipagari oleh semak belukar.


Waktu berlalu, akhirnya mereka tiba di ujung jalan setapak. Di depan mereka tampak lembah terbuka dengan telaga kecil dan sebuah pohon peneduh di tepi jelaga itu.


"Pohon itu, Ki! Di sana! Disana!" ucap Lili antusias.


Namun, tiba-tiba ada yang jatuh ke atas kepala Lili. Itu adalah seekor ular. Lili berteriak panik dan Kiki langsung menurunkan Lili.


Kiki bingung dan sama takutnya dengan Lili. Ular itu sudah Lili lempar ke tanah tapi sayangnya jarak lemparannya masih terlalu dekat.


Dengan cekatan Kiki mencari ranting untuk meraih ular itu agar kemudian dibuangnya ke tempat yang lebih jauh. Tapi, sayangnya kaki Lili sudah terlanjur dipatuk ular. Kaki yang sama dengan kaki yang luka karena bekas terkena tembakan.


Lili merengek-rengek dan panik. Kiki berhasil membuang ular itu lebih jauh tapi tidak berhasil mencegahnya mematuk kaki Lili.


Kiki lalu melepaskan kemeja flanelnya dan menyisakan kaos yang digunakannya. Dengan cekatan Kiki membalut kuat-kuat bekas gigitan ular tersebut.

__ADS_1


Tiba-tiba dari arah belakang muncul Victor. Tanpa berbasa-basi Victor langsung membopong Lili.


"Hei! Abang yang waktu itu kan? Mau kemana lu Bang? Lu mau kurang ajar lagi sama cewe gue?" Kiki mengejarnya.


"Udahlah, jangan banyak bacot. Gue mau bawa Lili ke Puskesmas," ucap Victor sambil berlari-lari membopong Lili.


"Tunggu Bang!" ucap Kiki sambil berlari di belakang Victor.


"Dia teman sekantor gue. Mana mungkin gue tega ngebiarin dia kritis kaya gini," jawab Victor terengah-engah.


Di ujung jalan setapak terlihat sebuah mobil terparkir bersampingan dengan motor matic pinjaman Kiki.


Kiki membantu membukakan pintu mobil dan Lili dimasukkan ke dalam mobil. Tak lupa Kiki memberikan tongkat milik Lili dan ikut dimasukkan ke dalam mobil.


Victor pun membawa Lili ke Puskesmas dengan mobilnya. Kiki hendak menyusul dengan motornya, namun ia sempat terdiam sejenak lalu berputar ke belakang memandang ke arah jalan setapak yang tadi mereka telusuri.


Waktu bergulir, Lili sudah mendapatkan pertolongan di Puskesmas.


"Lu kenapa tiba-tiba ada di sini, Victor?" tanya Lili yang sedang beristirahat di ranjang pasien.


"Tadi sewaktu gue ada di balai desa, gue lihat elu. Tapi elu cepat banget ngilangnya. So, gue cari-cari lu keliling kampung. Untung motor yang lu pakai tadi diparkir di pinggir jalan, jadi gue penasaran and ngecek ke dalam hutan tadi," jelas Victor.


"Lagian, lu ngapain sih masuk-masuk ke hutan kaya tadi? Kan jadinya lu kena patuk ular tuh," lanjut Victor.


"Gue ada urusan di sana," jawab Lili.


"Sekarang gue tanya, ada urusan apa lu di dalam hutan tadi? Gue sih curiganya lu mau mesum bareng bocah tadi," ucap Victor.


"Eh, bacot! Jaga omongan lu ya! Ah, bye the way, ya terserah gue juga sih di sana mau ngapain. Apa pedulinya elu," balas Lili.


"Peduli lah! Kalau gue ga ada, siapa yang nganterin elu ke sini buat berobat?" lanjut Victor.


"Oh gitu ya? Ya udah deh, makasih ya, lu udah nganterin gue berobat," ucap Lili.

__ADS_1


"Tapi tunggu, elu ada urusan apa di balai desa tadi? Lu orang sini juga?" tanya Lili kepada Victor.


__ADS_2