Dicintai Brondong Online

Dicintai Brondong Online
24. Kantor Polisi


__ADS_3

Lili dan Victor tiba di kediaman Celine. Tanpa diduga di halaman tempat itu terparkir dua buah mobil sedan polisi. Lili turun dengan tergopoh-gopoh. Ia tidak ingin terjadi hal-hal buruk pada sahabatnya itu.


"Pelan-pelan, Lik. Pelan!" ucap Victor sambil membantu Lili.


Belum sampai Lili di pintu rumah Celine, Celine tengah digandeng oleh seorang polisi dan polisi lainnya menyertainya berjalan.


"Celine! Lu mau kemana, Lin? Pak? Ada apa ini Pak?" tanya Lili.


"Saudari Celine kami minta untuk memberikan informasi mengenai kematian seseorang. Yang bersangkutan harus ikut kami ke kantor," jelas singkat salah satu polisi.


"Lik, tolong Lik. Gue ga mau dipenjara, Lik!" ucap Celine Panik.


"Tenang, Celine. Mereka cuma mau elu buat ngasih informasi doang. Lu tenang ya? Gue bakal nemenin elu," ucap Lili.


Celine pun pergi bersama para polisi tersebut.


"Yuk," ucap Lili kepada Victor.


"Lu mau kemana Lik?" tanya Victor.


"Ke kantor polisi lah," ucap Lili sembari menyeret Victor.


Victor menahan langkah mereka. Ia mengkhawatirkan keadaan Lili.


"Lu harus istirahat," jawab Victor.


"Apa? Lu ga mikir ya? Itu sohib gue, Victor! Mana mungkin gue ninggalin dia gitu aja pas dia lagi dalam masalah kaya gini?" protes Lili.


"Kan elu sendiri tadi yang bilang kalau sohib elu itu cuma memberikan informasi di sana. Dia bukan tertuduh atau tersangka kan?" jawab Victor.


"Ga ada yang tahu apa yang terjadi, Victor. Gue harus ada di sana!" ucap Lili.


Victor pun membawa Lili kembali masuk ke dalam mobil. Lili lega, akhirnya Victor mau mengantarkannya ke kantor polisi.


Tapi, tunggu! Ini bukan jalan menuju kantor polisi. Mobil Victor melaju menuju apartemen Lili. Lili pun melotot ke arah Victor yang menatap lurus ke depan.


"Lu nyebelin banget sih!" ucap Lili geram dengan suara merendah.


"Udah gue bilang, lu butuh istirahat. Lu itu baru sampe dari perjalanan jauh. Lihat kondisi kaki lu itu. Kapan lu bisa sembuh kalau lu terus keras kepala kaya gini. Semua lu urusin," protes Victor dengan nada lembut.


Lili hanya diam dengan wajah yang cemberut.

__ADS_1


Setelah sampai, Victor pun membantu Lili masuk ke dalam apartemennya. Setelah Lili dan bawaannya masuk, Victor pun pamit.


"Hah? Tumben lu ga ganjen?" batin Lili.


Wajah Victor terlihat begitu suntuk. Mungkin Victor benar-benar sedang kelelahan. Maka, Lili pun mengucapkan terimakasih dan membiarkan Victor pulang.


Tak lama setelah mobil Victor menghilang dari pandangan, Lili pun segera meraih ponselnya. Ia menekan-nekan layarnya dan berbicara melalui sambungan telepon seluler.


"Halo? Ya. Gimana kabar lu? Udah sampe lu di rumah?" ucap Lili.


"Oh syukurlah. Lu sekarang lagi ngapain? Istirahat gak lu?" lanjutnya.


"Ini, Celine..."


"Iya, tadi gue ke tempat dia, terus... "


0"Ya, sebenarnya gue mau minta lu nemenin gue ke kantor polisi."


"Iya, Ki. Celine didatengin polisi dan dia sekarang dibawa ke sana."


"He em. Iya. Sip. Ya udah, gue tunggu lu di depan apartemen gue ya."


Walaupun baru sampai, Kiki ketika mendapatkan telepon dari Lili maka ia dengan sigap datang memenuhi permintaan Lili. Apalagi, ia mengenal Celine juga.


Memang agak sedikit lama Kiki datang, tapi itu tak masalah bagi Lili. Sesampai Kiki di depan apartemen Lili, mereka pun pergi dengan menggunakan mobil panggilan online yang sama. Mereka pergi ke kantor polisi.


Sesampai di kantor polisi, Lili kembali bertemu dengan seorang polisi yang pernah mewawancarainya setelah ia memeriksa keadaan jasad Arjuna.


"Jadi, Saudari Celine terlibat dalam kematian almarhum. Besar dugaan bahwa kematian itu disebabkan oleh pembunuhan," jelas polisi itu kepada Lili.


Lili hanya bisa memandangi Celine yang sedang diperiksa di sebuah ruangan. Ia memandangi dari seberang jendela ruangan itu.


"Terlibat, Pak? Saya tidak percaya," ucap Lili pelan.


"Maaf, Pak... Jadi status Mbak Celine apa Pak? Sebagai saksikah? atau... " tanya Kiki.


"Status Saudari Celine adalah tersangka. Dan dia untuk sementara akan tinggal di sini sambil menunggu proses sidang pengadilan," jelas polisi itu.


"Apa? Bagaimana bisa, Pak?" tanya Lili.


"Sebelumnya Nona sudah memberikan keterangan kepada kami. Kami sangat berterima kasih atas sikap kooperatif Nona, sehingga mempermudah kami dalam melakukan penyelidikan dan penyidikan," ucap polisi itu.

__ADS_1


"Malam itu di kawasan hutan Gunung Agungra teman Nona ini keluar saat malam-malam buta bukan? Kami masih memeriksa perihal kejadian tersebut. Dan yang menjadi petunjuk utama di sini adalah pisau yang kami temukan dan sidik jarinya cocok dengan sidik jari teman Nona itu," lanjut polisi itu.


Lili terlunglai lemas. Ia ditumpu oleh tongkat yang ia apit dan dipegang oleh Kiki agar tak terhuyung jatuh.


"Apa motif Celine melakukan itu Pak?" tanya Lili dengan suara yang emosional, ia begitu sedih.


"Untuk itu kami masih dalam proses pemeriksaan, Nona. Kami belum bisa mengatakan bagaimana secara pastinya," jawab polisi itu.


"Sebaiknya kita duduk di sana. Maaf, Pak. Teman saya ini tampaknya sejak awal memang sudah kelelahan," ucap Kiki.


"Baiklah. Silahkan. Oh iya, mau kami buatkan teh, atau kopi?" tawar polisi tersebut dengan ramah.


"Terima kasih, Pak. Mungkin teh saja kalau tidak merepotkan," ucap Kiki. Polisi itu pun menyanggupinya kemudian pergi.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Gue masih penasaran kenapa Celine melakukan ini!" ucap Lili.


"Mbak. Tenangkan dirimu dulu. Jangan mikirin apapun dulu. Setelah ini kita coba minta waktu buat ketemu Mbak Celine, ya. Tunggu dia yang cerita. Jangan menerka-nerka dulu. Kamu udah cape banget sekarang, Mbak," ucap Kiki menenangkan Lili.


"Iya, Ki. Makasih ya, kamu selalu ada di saat aku butuhin kaya gini," ucap Lili.


"Iya. Saya kan udah bilang, saya akan selalu ada buatmu. Saya ga akan pergi ninggalin kamu, Mbak," jawab Kiki.


Lili pun beristirahat sambil menyeruput teh hangatnya. Sedangkan Kiki, ia pergi sebentar untuk berbicara dengan polisi. Ia mengusahakan agar Lili dapat bertemu dengan Celine.


Kiki pun kembali dengan ekspresi yang lemas.


"Gimana? Bisa?" tanya Lili menyambut kedatangan Kiki.


Kiki menggeleng.


"Sebaiknya kita pulang aja, Mbak. Kita ke sini lagi besok," ucap Kiki.


"Loh? Kenapa?" tanya Lili.


"Kita harus menunggu proses pemeriksaannya selesai. Katanya prosesnya masih panjang, Mbak. Belum lagi uji kejiwaan yang harus Mbak Celine lewati juga nanti," jawab Kiki.


"Oh? Begitu ya? Ya ampun. Ternyata rumit sekali untuk ketemu Celine. Padahal jelas-jelas kita ada di gedung yang sama," keluh Lili.


"Ya, mau bagaimana lagi, Mbak. Jadi, gimana? Kita pulang aja dulu? Saya yakin banget Mbak sudah lelah," ucap Kiki.


"Maaf ya, Ki. Gue tahu sebenarnya lu ngomong kaya gitu karena membicarakan diri sendiri. Sebenarnya lu mau ngeluh kan kalau lu capek?" batin Lili.

__ADS_1


__ADS_2