Dicintai Brondong Online

Dicintai Brondong Online
56. Tersesat di Hutan (5)


__ADS_3

“Sejak dulu pamanku suka baca buku-buku kepercayaan kuno.  Waktu itu aku belum tahu Paman mempelajari Kabbalah.  Paman menekuni jalan hidup yang khusus dan punya kebiasaan makan tertentu, tak pernah ke dokter, dan menolak minum obat apapun.  Tiap kali merasa kurang sehat, Paman puasa satu-dua hari sampai kesehatannya membaik.”


“Paman tak punya anak, tapi aku dekat dengannya seperti anak sendiri.  Saat usiaku delapan belas, Paman memintaku menemuinya.  Dia duduk tegak.  Kepalanya penuh rambut putih, matanya tajam.  Waktu itu umurnya delapan puluh tiga tahun.  Paman mengeluarkan buku kecil dari dompet.  Buku yang sangat mungil, tipis, halaman-halamannya kuning karena usia.”


“Buku ini kubawa di sakuku seumur hidup, kata Paman.  Buku berisi kekuatan khusus ini selalu menjagaku.  Aku sudah tua, sedangkan kau tak lama lagi akan pergi merantau ke Asia.  Lebih butuh perlindungan dibanding aku.  Ambil dan jaga baik-baik.  Jangan sampai terpisah darimu.  Buku ini pasti menjagamu.”


“Aku berterima kasih, mencium Paman, pulang, sambil berpikir semua ucapannya cuma omong kosong.  Tiba di rumah, kudapati ibuku menangis.”


“Paman Nissim kena serangan jantung.”


“Aku buru-buru ke rumah sakit.  Pamanku sudah tak sadar.  Kuserahkan buku kecil ini ke Bibi.  Bibi menyelipkan buku itu ke bawah bantal Paman.  Setelah sadar, Paman meminta Bibi mengembalikannya padaku karena dia tak lagi membutuhkannya.  Paman meninggal di rumah sakit.”


“Wah, ceritanya…” ucap Lili.


“Mungkin cuma kebetulan, mungkin juga Paman merasa waktunya memang sudah tiba, tapi buku ini selalu kubawa untuk berjaga-jaga.  Setahun yang lalu aku mendaki gunung.  Aku menyimpang dari jalan dan sampai di emperan yang berbahaya.”


“Batu yang kupakai untuk bertahan malah lepas.  Aku jatuh, tapi celana jinsku tersangkut di karang bergerigi.  Aku pun selamat.”


“Saat itu buku ini ada di saku celanaku.  Mungkin cuma kebetulan juga, siapa yang tahu?  Tetap saja, buku ini membuatku merasa aman.  Kadang-kadang aku berpikir, selama membawa buku ini, aku tak bisa cedera.  Kelak kalau anakku masuk wajib militer,, aku tak terlalu yakin mau memberinya buku ini atau tidak.”

__ADS_1


“Haha, lu belum punya anak.  Tapi, berikan saja padanya waktu umurmu delapan puluh tiga tahun,” usul Lili.


Kaki Lili masih sakit karena ruamnya tidak dibersihkan.  Kiki menyuruhnya mengeringkan kakinya secermat mungkin dan merawatnya baik-baik.  Lili mengoleskan lebih banyak lagi minyak dan berjemur di bawah matahari.  Namun, lalat dan nyamuk beterbangan di sekitar kakinya yang telanjang.  Terpaksa dia menutupi kaki dengan kain tipis.


Malam itu tetua adat memberi tahu mereka bahwa tetangganya bersedia membantu membuat rakit.  Besok mereka akan menebang beberapa pohon dan membawanya ke desa dengan cara mengapungkannya di sungai.  Tetua adat bilang rakit akan selesai dalam tiga-empat hari, tergantung cuaca.


Batang pohon harus benar-benar kering sebelum bisa digunakan.  Saat itu akhir November, musim hujan datang.  Mereka berharap ada beberapa hari terik supaya batang-batang kayu itu bisa kering.


Kiki dan Lili memberikan orang-orang itu upah.  Mereka juga berniat membeli bahan makanan dari tetua adat, beras, daging, buah-buahan, sayur-sayuran, selama mereka tinggal di desa.  Kalau istrinya bersedia, mereka juga ingin menggajinya untuk menyiapkan makanan.  Mereka akan membayar harga makanan sekaligus jerih-payahnya.  Tetua adat setuju.


“Jadi sekarang kalian dapat hotel dengan fasilitas lengkap,” ucap tetua adat.


Enaknya tidur di tikar jerami mewah malam itu.  Desa ini sungguh damai.  Penduduknya cepat sekali tidur.  Kuda-kuda merumput di antara gubuk reyot, sosok mereka menghadirkan bayang-bayang panjang di rumput berembun.


Domba-domba tidur di bawah pohon pepaya.  Babi-babi yang berkubang di lumpur terlihat seperti sedang bermimpi, menggeliat-geliat resah dalam tidurnya.  Anjing-anjing terlalu malas untuk menggonggong.


Subuh-subuh Kiki sudah pergi bersama penduduk desa untuk mencari pohon yang akan ditebang.  Saat pulang ke gubuk siang harinya, dia menemukan Lili berbaring di tikar.  Lili tidak melakukan apa-apa.  Kiki pun memberi tahu bahwa ia sudah memilih tujuh pohon besar.  Di saat yang sama tetua adat bersama teman-temannya sedang membelah pohon-pohon itu.


Di luar panas, jadi mereka lebih senang berbaring di dalam kamar gelap yang sejuk.  Kiki yang tak betah berdiam diri saja, memperhatikan sebuah karya seni yang indah, dengan resah mengedarkan pandang mencari-cari apa yang bisa dikerjakan.

__ADS_1


Dia mengumpulkan sepatu yang solnya sudah hampir lepas, mengambil palu dan sejumlah paku, lalu dengan tekun melubangi kulit bagian atas sepatu dan sol karet.  Setelah lubangnya cukup, Kiki memasukkan kawat untuk menyatukan kedua bagian, menariknya sampai rapi dan ketat, persis seperti menjahit.


Selesai mengerjakan ini, dia memperhatikan alas kakinya sendiri, yang kedua solnya sudah sejak lama hilang di hutan.  Kiki pergi ke desa untuk mencari kulit yang bisa dimanfaatkannya untuk membuat sol baru.


Beberapa waktu Kiki tawar-menawar harga dan akhirnya menukar kulit rusa milik penduduk dengan satu pisau batu yang selama ini ia bawa-bawa.  Dia memotong kulit rusa dengan ukuran persis seperti bentuk sepatu, melubangi sekeliling tepi kulit, dan akhirnya menjahitkan kulit ke alas kaki dengan benang pancing.


“Hampir tak ada yang tak bisa dikerjakan dua tanganku,” demikian Kiki membual.  “Kamu ga pernah tahu kapan waktunya butuh keahlian tertentu.”


Kiki menghabiskan siang bersama keluarga tetua adat, menanyainya dengan cermat seputar keberadaan sumberdaya di wilayah ini.  Si orang tua menjawab pertanyaan Kiki dengan sabar.  Kiki mendengar adik laki-laki tetua adat tak sengaja menemukan bongkahan emas di pinggir sungai.  Menindaklanjuti penemuan itu, penduduk pun pergi untuk mendulang emas di sana, namun hasilnya mengecewakan.


Kiki kembali ke gubuk dengan penuh semangat dan mendesak untuk berangkat.  Dia menceritakan berita yang didengarnya dan bersiap membuat rencana.


“Penduduk desa tidak menggunakan teknik menambang yang rumit.  Mereka tak bisa menilai potensi yang mungkin dimiliki wilayah ini.  Besok aku mau melihat sendiri.  Kalau emas yang dibicarakan itu benar ada, aku akan kembali membawa mesin pendulang otomatis.  Semua yang diperlukan bisa dibeli lalu kubawa kemari.”


“Bahan bakar mesin nanti kubawa juga.  Sungguh keuntungan besar ada di desa ini, jadi aku bisa menetap dan beli makanan di sini.  Dampaknya untuk desa ini pun pasti bagus.  Membawa sedikit kemakmuran.  Aku bisa menggaji beberapa pegawai.  Penjual keliling akan mulai berdatangan, membawa barang-barang mereka kemari.  Penduduk desa juga bisa menjual hasil ladang pada mereka.”


Dalam lima menit Kiki sudah menjadi miliuner dan mengubah desa itu menjadi kota metropolitan yang sibuk.  Menanggapi cerocosan Kiki, Lili meneruskan aktivitasnya.


Keesokan paginya begitu fajar merekah, mereka menuju rumah tetua adat yang terletak di sisi lain desa, sejauh satu jam berjalan kaki dari gubuk.  Mereka membawa satu ransel berisi hadiah untuk penduduk di sana.  Dalam perjalanan mereka membarter beberapa mata kail, tali pancing, peluit, pisau, dengan kopu, telur segar dan cabai.

__ADS_1


__ADS_2