
"Lu mau nikah sama gue?" tanya Lili kepada Victor.
"Iya, Li. Gue serius," jawab Victor.
"Guenya yang ga mau," balas Lili.
"Ah, elu. Panjang lebar ngomong sama lu ujung-ujung balik ke situ-situ lagi jawabannya," ucap Victor melemas.
Lili memandangi pemandangan di luar kaca jendela mobil. Lili terbayang dengan masa lalunya. Sewaktu kecil, kala usianya sekitar lima tahun...
"Makanannya cepat dihabiskan! Makan aja lemot banget! Ini lagi, semua barang yang kamu pakai pasti kotor! Mama capek tahu! Harusnya Mama bisa jalan sama teman-teman Mama tapi gara-gara ngurus kamu, semua kehidupan Mama berhenti!" keluh wanita berparas cantik dan muda yang merupakan ibu tiri Lili.
"Harusnya dulu Mama ga usah resign dari pekerjaan Mama! Harusnya ga sia-sia gelar S2 yang Mama punya! Harusnya dulu Mama ga usah menikah dengan papa kamu, yang ternyata sudah punya buntut seperti kamu! Lihatlah sekarang, kerjaan Mama, jadi PEMBANTU! Ga ada waktu Mama untuk perawatan, healing, halaaaa tahi kucing dengan pernikahan!" lanjut ibu tiri Lili.
"Lik! Lili! Hei?" Ucapan Victor mengejutkan Lili dari lamunannya.
"Udah sampai, tuh," lanjut Victor menunjukkan pemandangan di depan mereka. Mereka sudah sampai di halaman parkir kantor.
"Lu ngelamun? Apa yang lagi lu pikirin, Li?" tanya Victor.
"Ah. Ga, bukan apa-apa. Ga penting," jawab Lili.
"Ya udah. Thanks ya udah mau nebengin gue," ucap Lili kemudian akan beranjak membuka pintu.
"Lik." Victor menahan tangan Lili. Lili kemudian menatap Victor dengan heran. Lili pikir kenapa berani-beraninya Victor menyentuhnya.
"Apa ada perkataan gue yang menyinggung elu barusan?" tanya Victor.
"Lepas! Ga, ga ada yang menyinggung. Gue orangnya ga baperan," ucap Lili.
"Li, mungkin sekarang-sekarang ini lu ga berpikiran untuk menikah. Atau hubungan lu sama pacar lu itu cuma have fun, itu hak elu," ucap Victor.
__ADS_1
"Mungkin selama ini lu lihat gue adalah orang yang ga baik, mata keranjang, lu benci banget sama gue itu terserah lu. Tapi yang namanya pernikahan itu sakral, tujuannya buat seumur hidup. Orang seperti gue yang banyak minusnya ini kenapa bisa berpikir tentang pernikahan? Lu tahu jawabannya? Karena elu, Li," jelas Victor.
"Gue udah capek, gue udah nemuin tambatan hati gue. Gue mau berlabuh. Gue janji, Li, gue akan nikahin elu, suatu saat. Gue akan menunggu lu," ucap Victor.
Lili melihat sorot mata yang berbeda dari Victor. Entahlah, biasanya Lili punya naluri yang tajam. Menurutnya tatapan dan ucapan Victor kali ini benar-benar tidak ada kecacatan sama sekali, tidak ada alasan untuk tidak mempercayainya.
Lili pun menunduk. Ia bicara dengan suara yang rendah di balik wajahnya yang lesu.
"Sampai kapan pun gue ga akan menikah, Victor. Sekeras apapun usaha lu buat ngedeketin gue. Kalaupun suatu saat gue deket sama elu, pernikahan tetap ga akan pernah terjadi," jelas Lili.
"Kenapa? Apa jangan-jangan lu adalah istri orang? Atau simpanan orang?" ucap Victor.
"Eh, ssss... " Lili geram. "Sompret banget lu ngebacot," lanjut Lili.
"Iya, perempuan yang udah ga bisa dinikahi adalah mereka yang sudah ada yang memiliki. Tebakan gue logis kan?" ucap Victor.
"Ga gitu konsepnya, Bambang!" ucap Lili kesal.
"Kampret! Masih aja nuduh gue perempuan begituan," ucap Lili geram.
"Gue punya alasan untuk menolak pernikahan, Su'ep! Bukan karena gue istri orang!" lanjut Lili.
"Ya, apa alasannya? Gue mau tahu. Kalau alasan lu ga logis, berarti lu benar istri orang," ucap Victor.
"Stop! Stop! Stop ngatain gue sebagai istri orang! Gini... " ucap Lili.
Victor sedikit bersungging senyum. Ia sebenarnya tidak benar-benar bermaksud untuk mengatai Lili sebagai istri orang. Ia hanya memancing emosi Lili agar Lili dapat buka suara.
Lili pun menceritakan alasannya untuk memilih tidak menikah. Ia secara normal masih punya ketertarikan terhadap lawan jenis, namun ia akan membatasinya tidak sampai ke pernikahan.
Hal itu karena ia memiliki trauma masa kecil di mana seorang perempuan apabila sudah menikah maka akan berakhir kehidupannya. Perempuan itu secara alamiah akan melahirkan anak, dan penjara rumah baginya akan semakin menjadi momok yang nyata.
__ADS_1
Bagi perempuan yang sudah menikah lalu mempunyai anak, maka karir, prestasi, pergaulan, semua tidak lagi dimiliki seperti sebelum semua terjadi. Maka itu, ia menyebutnya sebagai 'kehidupan yang berakhir'. Sebenarnya bukan Lili yang mengatakan itu semua, melainkan ibu tirinya dulu.
Selain itu, perempuan yang telah menikah akan sepenuhnya menitikberatkan cintanya hanya kepada suaminya saja juga anaknya. Tetapi, ketika itu suaminya akan tetap sama, kehidupannya tidak akan berubah.
Si suami masih memiliki karirnya, teman-temannya, prestasi-prestasinya di luar, bahkan hobi yang bisa dipilih-pilih sesuka hati. Perempuan yang dulu dipuja-puja akan dilupakan karena si perempuan sibuk dengan urusan yang menenggelamkannya di perut bumi dan selamanya tidak akan membiarkan perempuan itu muncul lagi ke permukaan. Sampai kapanpun.
Perempuan yang telah menikah akan tenggelam oleh kesibukan yang membuatnya lupa untuk mencintai diri sendiri, lupa untuk merawat dan melayani dirinya sendiri.
Demikian Lili menceritakan semua yang ia tahu dan rasakan, ia menceritakannya kepada Victor.
Mata Victor terpaku, ia menyimak setiap kata yang keluar dari mulut Lili dengan saksama.
"Semua bisa dibicarakan, Li. Dan soal tipe suami yang kata lu itu, ga semua lelaki akan melakukan yang seperti itu. Setiap perempuan akan menjadi ratu di tangan lelaki yang tepat," ucap Victor.
"Ya, semua orang punya lidah untuk mereka bicara, tapi tidak ada lidah yang bertulang. Mereka begitu lentur," ucap Lili.
"Li, percayalah sama gue," ucap Victor memohon.
"Gue mohon, Tor, hargai prinsip gue," pinta Lili.
"Prinsip. Oh ya, prinsip lu," ucap Victor sambil mengangguk-angguk. Kemudian, Victor pun melepaskan Lili.
Lili pun mengucapkan terima kasih dan pamit. Ia lalu pergi duluan, kembali ke kantor.
"Semakin ke sini gue semakin berambisi buat menaklukkan hati lu, Li. Gue bertekad untuk membuktikan bahwa pernikahan itu ga seburuk yang lu pikir itu. Gue akan buktikan, gue bisa membahagiakan elu," ucap Victor di dalam hati.
Setelah Lili melangkah agak jauh, ia pun ragu untuk meneruskan langkahnya. Kemudian ia menoleh ke belakang untuk melihat Victor yang ternyata masih duduk terdiam di dalam mobilnya.
Kedua tatap itu bertemu dari jauh. Lili pun segera kembali berbalik dan melanjutkan langkah kakinya yang kini semakin laju.
Melihat Lili yang sempat menoleh kepadanya, alis Victor pun reflek naik.
__ADS_1
"Apa? Lili barusan noleh loh? Berarti... berarti dia mulai melunak sama gue. Semoga tebakan gue ini benar, semoga," batin Victor.