
Lili dan seseorang kembali ke rakit untuk mengikatkannya kuat-kuat di darat, menurunkan barang-barang, membawa semuanya ke kamp. Hujan mereda dan akhirnya berhenti. Kiki menemukan satu gelondongan kayu basah, membelahnya memanjang menjadi dua bagian, lalu menggunakan parang untuk mencincang kayu bagian dalam yang masih kering.
Tak lama mereka sudah menghangatkan tubuh di dekat api. Seseorang meminta Lili membantunya membawa lebih banyak kayu bakar. Lili tercengang menyaksikan kekuatannya. Orang itu memanggul seluruh batang pohon di bahunya.
Mereka memilih tempat berkemah yang indah di lereng bukit. DI kaki bukit ini membentang pantai kecil yang indah.
Seperti biasa, Kiki yang menyiapkan makan malam. Mereka makan nasi, daging yang dipanggang di bara api, dan sedikit irisan daging babi hutan pemberian tetua adat. Orang-orang cepat-cepat menaruh jatah dagingnya masing-masing.
“Selamat hari libur ya,” kata seseorang.
“Terima kasih ya.”
“Tapi aku tidak bisa menerima daging bagianmu satu-satunya.”
Diiringi senyum memaksa, seseorang menolak mengambil kembali jatahnya.
Kiki mulai memberi kuliah soal rakit. “Sungguh kejutan tak menyenangkan karena ternyata cuma aku yang paham cara menjalankan rakit. Aku tak bisa mengerjakan semuanya sendiri. Kalau tidak cepat belajar menangani bersama-sama, nyawa kita taruhannya. Kurasa salah besar kalau aku menanggung ini sendirian, sebaiknya kita jalan kembali…”
“Jangan kesusu, Kiki,” selah seseorang. “Memang butuh waktu tapi tak lama lagi kita pasti bisa mengarahkannya seperti profesional.”
“Waktu itulah yang tidak kita punya,” sahut Kiki berapi-api. “Kau paham tidak, kita tak punya waktu. Di bagian sungai nanti ada banyak arus berbahaya, Ini sungai yang berat, butuh seregu pendayung rakit terlatih untuk menyeberanginya. Aku sama sekali tak berminat mencobanya dengan kalian bertiga. Sebagai gantinya kita ikat rakit dengan tumbuhan merambat lalu kita tarik.”
“Ide bagus,” sambut seseorang setuju.
“Betul, memang ide bagus,” lanjut Kiki, “masalahnya pilihan itu tak selalu ada. Satu dua hari berlayar kita akan sampai di ngarai. Orang-orang bilang daerah itu tak bisa dilalui. Air terjun, arus sungai yang kuat, batu-batu menyembul di mana-mana.”
“Belum pernah ada yang berhasil melewati ngarai itu sebelumnya, kita pun pasti gagal. Sebelum sampai di ngarai, masih ada daerah berbahaya lain. Kalian harus tahu cara mengendalikan rakit, bagaimana menghentikannya jika perlu, kalau tidak resikonya sangat besar, kita bisa hanyut ke ngarai.”
“Kalau sampai terjadi, tamatlah kita. Baru memikirkannya saja aku sudah takut setengah mati. Hari ini kita berhasil menghentikan rakit dua kali, tapi itu pun cuma untung-untungan saja.”
__ADS_1
“Maksudmu apa kita ga bisa menyeberangi ngarai?” tanya Lili. “Tempo hari kaubilang sudah pernah melayari sungai dengan rakit lebih dari satu kali.”
“Aku tak pernah bilang begitu. Aku pernah berkali-kali melayari sungai ke tempat yang agak lebih jauh. Tapi, untuk sungai ini aku belum pernah melewatinya.”
“Lalu, bagaimana kita melanjutkan perjalanan?” desak seseorang ingin tahu.
“Itu dia masalahnya. Kita harus maju sedekat mungkin ke mulut ngarai lalu berhenti. Di sana kita bongkar rakit. Dua orang akan menyeberangi ngarai dengan berjalan kaki, sementara dua lagi menunggu. Pada waktu yang disepakati bersama, dua orang yang tinggal menghanyutkan gelondongan kayu rakit ke arus.”
“Selewat ngarai nanti, sungai melebar arusnya pun sangat pelan. Dua orang pertama harus berenang ke sungai untuk menangkap gelondongan yang dihanyutkan. Setelah dua orang di belakang menyusul, rakit kita satukan lagi. Dari situ keadaan sudah gampang, tapi sebelumnya sungguh berbahaya. Kalian tak tahu cara menggunakan galah. Seseorang bisa menggunakan galah dengan sangat ahli, persis seperti dayung.”
“Kalau begitu kenapa kita tidak membuat dayung saja?” tanya Lili.
“Ide bagus,” sambut Kiki setuju. “Besok kita cari pohon untuk membuat beberapa dayung.”
Larut malam itu mereka duduk sambil mengobrol pelan.
“Percayalah padaku,” kata seseorang bersikeras, “Kiki tak tahu apa yang diucapkannya. Jelas dia tak tahu apa-apa soal sungai dan membuat urusan ngarai ini menjadi masalah besar, seolah-olah tempatnya sangat berbahaya.”
Tepat usai sarapan, Kiki dan seseorang pergi mencari pohon untuk membuat dayung. Tak lama mereka menemukan beberapa batang agak di hulu sungai. Pohon itu sangat tinggi, dahannya amat banyak, tapi batangnya sangat rapuh sehingga untuk menebangnya hanya dibutuhkan beberapa kali tebasan parang.
“Setiap batang kita belah memanjang di tengah-tengah, dari setiap belahan kita buat satu dayung,” kata Kiki setelah mereka kembali ke kamp. Dia mulai mengukur dahan demi dahan.
“Aku pengin tahu bagaimana cara dia membelah batang itu tepat di tengah-tengah,” kata seseorang membisiki yang lain dengan nada sangsi.
“Kiki membuktikan keahliannya. Disayatnya dahan pohon berkayu keras sampai menjadi lempengan tipis, membuat irisan kecil di tengah-tengah gelondongan, memasukkan lempengan tadi ke dalam irisan, lalu memukulinya berulang-ulang dangan batu besar. Bagai sihir, gelondongan kayu pun terbelah dua.”
Kiki ternyata genius memainkan parang. Dengan cepat dia memotong-motong kayu yang terbelah menjadi bentuk dayung, lalu membentuk lebar dan panjangnya sesuai yang diijinkan. Di bagian bawah masing-masing dayung dia membuat cekungan dan mengerat tempat memegang yang nyaman.
Lili dan seseorang lain menangani belahan yang satu lagi, memotongnya sampai menghasilkan bentuk dasar dayung, lalu Kiki menyelesaikannya. Sekarang mereka herus membiarkannya benar-benar kering supaya ringan dan alot.
__ADS_1
Lili usulkan menaruh kedua dayung dekat api. “Kalau tidak kita bisa terjebak di sini delapan hari, lama sekali.”
“Tidak baik kalau dikeringkan pakai api,” kata Kiki. “Sayang sekali tidak ada pilihan, walau kita sedikit. Malam ini kita tidur di sini, besok kita teruskan perjalanan.”
Karena hari masih terang, Kiki memutuskan berburu.
“Ki!” panggil seseorang sebelum Kiki pergi, “bagaimana pendapatmu kalau kita dekatkan rakit sedikit lagi jadi besok bisa mulai menyeberang pagi-pagi.”
“Ide bagus,” sambut Kiki. “Mungkin sebaiknya kubatalkan berburu.”
“Tak perlu,” kata orang itu. “Aku dan dia akan menariknya pakai tali.”
“Boleh saja, kalau menurutmu kalian sanggup melakukannya tanpa aku.”
Kiki meraih senapan dan beberapa peluru, lalu berderap masuk hutan.
Lili bersikeras ingin menemani mereka, walaupun kakinya kembali diserang ruam-ruam.
“Kurasa kakiku harus tetap kering,” katanya. “Sakitnya minta ampun.”
“Makanya kau harus tunggu di sini.”
“Oh, bukan itu maksudku. Aku tetap mau menolong.:
Mereka melepas rakit lalu menyeretnya dengan tali yang diikatkan di bagian depan. Semakin dekat, pinggiran sungai semakin berbatu-batu dan semakin sulit pula menyeret rakit.
“Sebaiknya kita naiki rakit ini dan membawanya ke tengah sungai,” usul orang itu.
“Kau tidak bermaksud menyeberangi sungai ini kan?” seru Lili ngeri.
__ADS_1
“Kenapa tidak?” tuntut orang itu. “Buatku kelihatannya gampang. Kita bertahan saja di tengah-tengah rakit, biarkan arus yang membawa kita melewati batu-batu. Mungkin kita akan terbentur-bentur beberapa kali, tapi tak perlu dipermasalahkan.”