
Kepalanya pusing. Di mana-mana dilihatnya lingkaran hitam. Dijulurkan kaki ke dekat api. Tubuhnya seperti meriang. Sesuatu terasa menjalari dari dalam. Mungkin ia sempat pingsan. Lalu perutnya kehilangan kontrol sehingga ****** ******** terkena kotoran. Ia mengumpat marah.
Setelah tenang dilepas seluruh pakaian, telanjang bulat merangkak menuju semburan air deras yang mengalir dari lereng gunung. Digantungnya pakaian dalam di atas inti tebing supaya dibasuh derasnya arus.
Ia kembali ke api, menyelimuti tubuh dengan kawat nyamuk, karena nyamuk pasti mengambil kesempatan menyengat setiap inci kulit yang telanjang.
Kawanan monyet berkumpul di pepohonan di sekelilingnya. Ada dua kelompok besar, satu kawanan monyet yang bertubuh kecil dan satu kawanan monyet penjerit bertubuh besar, yang bisa mengaum seperti harimau.
Awalnya ia takut mereka berkumpul untuk membuat perhitungan atas monyet yang mereka bunuh selama perjalanan. Setelah itu ia takut mereka merebut perbekalannya yang berharga, maka semua barang dikumpulkan di sekelilingnya dekat api. Terhuyung-huyung ia berjalan ke ceruk mengambil ****** ***** yang sudah dibersihkan aliran air.
Kawanan monyet memperhatikannya dengan sikap penasaran. Akhirnya mereka tak lagi takut-takut dan mendekatinya. Kelihatannya mereka tidak punya rencana jahat. Lebih mungkin inilah kali pertama mereka melihat monyet berpenampilan selucu dirinya. Yang terpikir olehnya hanya satu, pasti menyenangkan kalau bisa menjebak seekor.
Setelah diasapi semalaman, ia punya persediaan daging untuk dua minggu.
Ia sempat menimbang-nimbang untuk melempar dengan batu, tapi pasti tak ada gunanya. Ia terlalu lemah, padahal gerakan mereka sangat cepat. Berjam-jam ditonton mereka bermain sirkus di puncak pepohonan, sambil memusatkan segenap pikiran agar salah seekor meleset dari dahan lalu jatuh dengan kepala duluan.
Dicoba mengucapkan doa permohonan, “Semoga ada yang jatuh, seekor pun cukup. Tolong, buatlah monyet itu jatuh,” tapi tak berhasil. Monyet-monyet itu berhasil melakukan aksi rutin mereka tanpa gangguan apapun.
Saat hari mulai gelap, ia dikuasai ketakutan. Ia sama sekali tak bersenjata, tak punya apa-apa untuk melindungi diri selain api. Bagaimana kalau ia jatuh tertidur malam nanti dan apinya padam? Bagaimana kalau ada macan yang menunggu tak jauh dari gua untuk menyergapnya tiba-tiba? Apa yang harus dilakukan? Dicari-carinya galah panjang yang bisa dipakai sebagai tombak, tapi semua dahan di sekelilingnya kering dan rapuh.
__ADS_1
Dalam ketidakberdayaan dan ketakutan, dikumpulkan lebih banyak kayu untuk membuat api. Mendadak ia mendapat ide brilian. Dalam sebuah film ia pernah melihat bahwa kaleng semprot bisa dipakai sebagai penyembur api.
Dikeluarkannya kaleng cairan pengusir serangga dan pemantik dari ransel. Ditekannya tombol semprot dengan tangan kanan lalu menyalakan pemantik menghasilkan nyala besar. Disiapkan semua alat pertahanan diri kaleng semprot, pemantik, senter, serum antibisa ular.
Malam itu ia berbaring di dekat api.
Lagi-lagi ia berhalusinasi. Rian merangkak mendatanginya dalam gelap. Dia melihat api dan menemukannya sedang tidur. Dia tahu ia sudah memakan sejumlah beras dan kacang.
“Seharusnya kau berbagi, Made. Kau selalu harus berbagi,” bisik Rian. “Makanan yang ada tidak cukup untuk kita berdua, jadi kau berpikir mau pergi dari sini tanpaku?”
Rian tersenyum sendiri, mengangkat parang, lalu menebaskannya ke tengkoraknya.
“Jangan, jangan!”
Ia gemetar ketakutan sambil merintih. Nyala api menghadirkan bayang-bayang menakutkan. Di luar jangkauan cahaya api hanya ada hutan dan kegelapan.
“Orang yang bertindak, orang yang bertindak,” bisiknya berulang-ulang sambil meringkuk di dalam kawat nyamuk.
*
__ADS_1
Sudah lima hari ia sendirian di hutan. Belum pernah ia merasa sangat kesepian dan sepenuhnya terputus dari hubungan antarmanusia. Rasanya tak tertahankan. Untuk kali pertama dalam hidup disadari penuh betapa ia membutuhkan kehadiran manusia lain.
Ia ingat pernah membaca satu buku yang di dalamnya terdapat kalimat “orang yang membutuhkan orang lain.” Setiap orang harus belajar hidup sendiri, demikian kesimpulan si pengarang, sepenuhnya tak tergantung pada orang lain, kebahagiaan dan rasa aman harus muncul dari diri sendiri.
Saat membaca buku itu dulu, ia setuju. Sekarang ia sadari kebenaran tentang tokoh yang ada dalam buku, ia mudah bersikap sinis. Made ingin sekali melihat bagaimana dia bersikap kalau berada di posisinya sekarang.
Ia harus melanjutkan perjalanan. Secara fisik kondisinya sudah lebih sehat, demamnya hilang, kakinya lebih baik. Kembali dibuatnya sup dari sesendok beras dan sesendok kacang, lalu dihabiskannya sampai tak tersisa sedikit pun di dasar kaleng.
Setelah duduk di dekat api untuk mempelajari peta, diperkirakan jarak tujuan bisa ditaksir. Semoga jarak ini bisa ditempuh dalam satu hari berjalan kaki. Akan ditunggu Rian menyusulnya. Sepertinya ini logis dilakukan. Rian juga pasti berusaha untuk sampai di tujuan. Sama sepertinya, Rian tahu di tujuan ada tempat tinggal dan makanan. Mereka pasti bertemu di tujuan. Itu seandainya Rian masih hidup.
Ia mulai hilang harapan bahwa ia masih hidup. Mungkin dia tak sanggup berjalan, tenggelam di sungai, atau mengalami patah tulang. Bahkan seandainya tidak tenggelam, pakaiannya pasti basah, padahal dia tak bisa membuat api seperti Made. Lalu, bagaimana kakinya? Ia yakin Rian terserang ruam seperti yang Made alami, tapi dia tak punya obat dan makanan.
Rian bisa mati kelaparan. Temannya yang malang pasti kedinginan saat malam. Ia merasa sangat jahat.
Untuk kali pertama pikirannya mengembara jauh. Dalam pikiran ini ia merasa sudah diselamatkan dari hutan. Ia berhasil sampai ke sebuah desa. Setelah itu, ia naik pesawat ke kota lain. Made menelepon keluarga Rian untuk mengabarkan berita kematian Rian, tapi masih punya utang untuk menjelaskan secara pribadi apa yang terjadi dan bagaimana kejadiannya. Bagian tersulit adalah menghadapi orang tua Rian.
Made ke sana naik bus. Perjalanan di kota memakan waktu tiga hari via darat. Beberapa jam sekali bus berhenti agar penumpang bisa beristirahat dan makan di McDonald’s. Ia masuk ke restoran seperti penumpang lain, tapi sesampainya di konter Made memesan empat burger, enam kantong kentang goreng, dua susu kocok ukuran besar, tiga potong pai apel.
Bagian pemesanan mengira Made memesan makanan untuk satu kelompok, nyatanya ia duduk sendirian. Digigitnya burger, kejunya meleleh, bawang dan acarnya mengeluarkan bunyi renyah. Susu kocok habis dengan cepat. Pemesan lain memandang terkesima. Mereka belum pernah melihat ada orang makan seperti itu.
__ADS_1
Akhirnya ia sampai di rumah orang tua Rian.
“Tolong percayalah, ini bukan salahku. Kutunggu lima hari, tapi dia tidak muncul. Kusisihkan makanan untuknya, tidak kumakan sendiri. Aku terus memanggil-manggil. Setiap hari kutunggu dia tak pernah muncul. Terpaksa kuteruskan perjalanan. Percayalah, aku tak punya pilihan lain.”