Dicintai Brondong Online

Dicintai Brondong Online
40. Pendengar Misterius


__ADS_3

Waktu bekerja usai. Lili kembali dari kantor pada sore hari. Ia sengaja melarang Kiki untuk menjemputnya. Lili tidak menginginkan kehadiran Kiki di sisinya, sebab ia sangat kecewa oleh kenyataan bahwa Kiki adalah orang suruhan Celine untuk mendekati Lili.


Baru saja keluar dari pintu utama gedung kantornya, Lili dihampiri oleh Victor dengan mobilnya. Ia menurunkan kaca jendela lalu menyapa Lili.


"Balik bareng gue yuk?" tawar Victor.


Lili terus saja melangkah. Mobil Victor melaju pelan mengiringi langkah Lili.


"Ayolah. Gue yakin lu pasti udah putus sama pacarlu yang bau kencur itu kan? Daripada lu balik sendirian, mending bareng gue," ucap Victor.


Lili lalu menghentikan langkahnya.


"Gue mau balik sendiri. Tapi makasih ya BAPAK VICTOR, atas tawarannya," ucap Lili.


"Ayolah. Sekalian kita ngobrolin projek yang nanti lu berangkat ke Bali itu," bujuk Victor.


Lili tersenyum. "Urusan pekerjaan kita selesaikan di kantor. Oke? Gue duluan, jangan bujuk gue lagi karena jawaban gue akan tetap sama," ucap Lili.


"Oh, oke. Jaga diri lu ya, Li," ucap Victor. Ketika itu Lili sudah melanjutkan langkahnya.


Lili berjalan ke halte untuk menaiki bus. Sepanjang jalan ia hanya seorang diri. Ia pun duduk di halte. Ia lalu membuka ponselnya dan online aplikasi audio live streaming.


Lili menggunakan headset-nya mendengarkan siaran podcast. Ada dua orang pengisi siaran yang bercakap-cakap. Mereka bertukar pikiran tentang perasaan dan hubungan asmara. Selama perjalanan, mulai dari Lili menunggui bus datang, menaiki bus, sampai turun dari bus ia masih terus mendengarkannya.


Lili sejak tadi tidak berinteraksi dalam siaran tersebut. Ia hanya 'parkun' atau parkir akun.


Lili pun berjalan kaki di jalanan menuju apartemennya. Langkahnya diiringi musik yang diputarkan di dalam siaran tersebut. Angin sore berhembus sepoi-sepoi. Sungguh sangat asri sore ini bagi Lili.


Memang lelah rasanya tubuh Lili, ia harus berjalan kaki dan bergabung dengan para penumpang bus. Tapi, suasana sore sungguh menyegarkan pikiran Lili. Ia melihat anak-anak bermain di jalanan komplek perumahan itu, ada pula beberapa orang ber-jogging sore.


"Hai... " Lili menyapa orang-orang yang berpapasan dengannya.


Salam sapa adalah hal yang tidak biasa dilakukan orang-orang perkotaan yang belum saling mengenal. Tapi, kali ini Lili melakukannya. Ia mendapatkan sapaan balik yang ramah juga senyuman yang hangat.


Hal tersebut memperbaiki mood Lili. Ia menjadi ceria dan bersemangat.


Sesampai Lili di apartemen, ia pun langsung membersihkan diri.


Setelah membersihkan diri, Lili pun memanaskan makanan yang disimpannya di kulkas. Ia memanaskan makanan tersebut di microwave. Ia juga menyeduh kopi latte kesukaannya. Ia lalu menikmati makanan dan minumannya.


Sambil bersantai ia duduk di depan jendela. Sambil menikmati senja di langit, Lili pun menyalakan aplikasi audio live streaming. Lili kembali memulai siarannya, siaran pembacaan sajak dan puisi.

__ADS_1


Ada seorang pendengar misterius. Pendengar itu memiliki akun bernama Barista Coffee. Ya, itu adalah pendengar yang sudah mengirimkan puisi buatannya untuk Lili bacakan tadi siang.


 


Barista Coffee


Puan, apa kabar engkau di senja ini?


Barista Coffee


Aku merindu


Barista Coffee


Suaramu candu


Barista Coffee


Membuat sanubariku bergetar dan merona


Barista Coffee


Kalah merona dengan langit senja yang merah


"Lu siapa sih? Asik banget kata-kata lu itu," ucap Lili dengan sumringah.


"Apa? Lu mau ngirimin puisi lagi untuk menjawab pertanyaan gue?" ucap Lili.


"Oke, gue bacain. Seperti biasa ya, kirim ke DM," lanjut Lili.


"Oh, kali ini puisinya cukup pendek ya. Gue bacain nih," ucap Lili.


Apa yang lebih cinta daripada menyuka yang tak mengenal


Biarkan terus seperti ini. berjarak.


Jangan kenal aku, jangan perkenalkan dirimu.


Beribu metafora siap kuhujamkan untuk berderu rindu. tapi tidak untuk perjumpaan kita.


Mereka fatamorgana yang hilang kapan saja.

__ADS_1


Sampaikan salam pada fajar. sebab aku kan menghilang.


Dan jumpai kau esok malam.


~Barista Coffee


"Wow, keren ya. Tapi kok ga ada judulnya? Juga tanggal ditulisnya," tanya Lili.


"Hah? Masa? Lu baru buat barusan? Spontan gitu?"


"Gila sih. Jangan-jangan lu sastrawan beneran nih? Tersanjung gue kedatangan seorang sastrawan di live gue," lanjut Lili.


"Masa sih bukan sastrawan? Buktinya lu bisa nulis puisi secara spontan gitu," ucap Lili setelah membaca typingan di layar.


"Lu naik dong? On mic? Kita kenalan? Teman-teman yang lain juga penasaran tahu sama elu. Ayo, Barista Coffee?" bujuk Lili.


"Oh, lagi ga kondusif ya di tempat ku sekarang. Tapi lain waktu lu mau kan ngobrol-ngobrol via on mic?" ucap Lili.


"Oke kalau gitu, teman-teman, kita tunggu nanti kalau udah kondusif katanya Barista Coffee mau on mic. Kita tunggu sama-sama ya teman-teman. Kalau lain waktu gue live terus ada dia langsung aja ditagih janjinya ini," ucap Lili.


Siaran bertajuk sajak dan puisi pun berubah menjadi sesi bincang-bincang. Para pendengar typing di layar dan Lili menjawab juga bertanya balik dengan bercuap-cuap langsung secara audio.


"Sudah lama rasanya gue ga merasakan kehangatan seperti ini. Apa karena selama ini gue terlalu fokus dengan masalah-masalah yang gue pandam sendiri ya?" batin Lili.


"Walaupun gue dan orang-orang di dunia virtual ini ga saling kenal, sensasinya justru terasa asik."


"Gue harus melupakan semua masalah-masalah gue. Ya. Di sini gue bisa bicara apapun, gue bisa jadi siapapun, tanpa harus merasa enggak enakan, tanpa harus merasa segan," lanjut Lili membatin.


"Oke, berhubung gue udah siaran selama 2 jam dan gue capek, gue mau endlive dulu guys," ucap Lili kepada para pendengarnya.


"Tadi gue mulai live pas gue baru aja pulang kerja. Sekarang gue mau istirahat. And siapa di antara lu yang mau live, gue bakal gantian join, juga jangan lupa dengan teman-teman semua jangan lupa join. Kita ramaikan room teman-teman yang live ya, biar semangat," lanjut Lili.


"Akhir kata gue selaku host mohon-mohon maaf apabila ada kata-kata gue yang menyinggung. Kita jumpa lain waktu, teman-teman. Selamat malam, selamat beristirahat atau melanjutkan aktivitasnya. See you..." pamit Lili.


Usai siaran, Lili pun meletakkan ponselnya di meja. Iya mengambil buku novel dan hendak mulai membacanya. Ia berbaring di sofa depan televisi.


Baru beberapa saat Lili membaca buku, dengan halaman yang belum jauh terbaca, tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada sebuah notifikasi di sana.


Host kesayanganmu, Barista Coffee, sedang live. Ayo join!


Demikian isi notifikasi tersebut.

__ADS_1


"Katanya di tempat doi suasananya lagi ga kondusif? Tapi kok live? Apa tadi dia bohong ya? Mungkin dia malas aja gitu waktu gue suruh on mic. Tapi kenapa malas, toh akhirnya doi live juga? Ah, gue jadi penasaran," batin Lili.


Lili pun memasuki siaran Barista Coffee. Setelah ia mendengarkan live tersebut, ternyata...


__ADS_2