
Lili dan Kiki telah menunggu di sebuah ruangan bermeja panjang bersekat kaca. Beberapa saat kemudian Celine pun datang didampingi oleh petugas tahanan.
Celine duduk di hadapan mereka, dari balik sekat kaca. Wajahnya begitu suntuk, kumal, kelopak matanya bengkak dan menghitam. Pakaian yang digunakan Celine adalah pakaian tahanan.
Lili menempelkan telapak tangan kanannya ke kaca. Celine memandang sendu lalu ikut menempelkan telapak tangannya juga di sana. Kini mereka hanya dibatasi oleh selembar kaca tebal.
"Apa yang terjadi, Lin?" tanya Lili dengan pelan. Wajah Lili pun sama sendunya ketika melihat keadaan Celine yang berantakan itu.
"Tolong gue, Lik. Gue ga mau tinggal di sini," ucap Celine kemudian ia pun terisak.
"Lu pasti ga nyaman banget ya tinggal di sini? Atau ada yang berani macam-macam sama elu?"
Kiki melihat percakapan dua orang sahabat itu. Ia merasa haru, sebab di saat tuduhan ditimpakan ke sahabatnya, Lili masih saja peduli dan mengkhawatirkan sahabatnya itu.
Celine menempelkan wajahnya di atas meja. Ia begitu tampak menyedihkan.
"Lu percaya aja sama gue, Lin. Lu cerita aja sama gue. Dan kalau ada yang macam-macam sama elu, gue bakal sewa pengacara yang paling mahal buat ngeluarin lu dari sini," ucap Lili.
Celine menangis dengan suara yang semakin emosional. Hal itu menarik perhatian petugas jaga.
"Ah, tidak apa-apa, Bu. Mungkin dia perlu diberi ruang berbicara empat mata saja dengan sahabatnya. Dia seperti ini karena kehadiran saua. Sa-saya, saya permisi. Li, saya tunggu di luar saja ya," ucap Kiki.
Ucapan Kiki mampu mencegah petugas untuk kembali membawa Celine ke dalam tahanan sementara.
"Masih mau dilanjutkan?" tanya petugas jaga kepada Celine. Celine pun mengangguk. Kemudian, petugas jaga tersebut kembali membiarkan Celine duduk di sana.
"Di saat seperti ini bisa-bisanya lu masih mengkhawatirkan gue, Li," ucap Celine.
*
Sementara di luar ruangan, Kiki pun merasa perutnya sakit.
"Aduh, saya malah kebelet boker. Kalau nanti Lili nyariin saya gimana nih? Ah, saya kasih tahu aja deh," batin Kiki.
Kiki pun meraih ponselnya. Ia menelepon Lili.
*
Ponsel Lili yang berada di tas dengan kantung terbuka, pun bergetar. Tas itu berada di bangku panjang, di sebelah Lili duduk. Getaran itu membuat ponsel bergeser kemudian terjatuh ke lantai.
Mendengar ponselnya jatuh, Lili pun memungutnya dan menaruhnya di meja. Tanpa sengaja ia telah menekan tombol 'menerima panggilan' di layarnya.
*
Mengetahui panggilan itu telah diterima Lili, Kiki pun berceloteh. Ia meminta ijin untuk buang air, jadi nanti Lili tidak perlu mencari-carinya.
Namun, ocehan Kiki tidak kunjung direspon oleh Lili.
"Haloo... Mbak? Mbak Lili?" ucap Kiki memanggil-manggil Lili melalui sambungan telepon itu.
"Sebenarnya ini semua memang kesalahan gue, Li."
__ADS_1
Dari sambungan telepon itu Kiki bisa mendengar suara Celine. Kiki pun menahan rasa mulasnya demi mendengarkan obrolan yang ada di sambungan telepon itu.
*
"Lu selama ini udah baik sama gue. Gue minta maaf, Li, karena gue malah mengkhianati elu," ucap Celine.
"Maksud lu apa?" tanya Lili.
Celine pun celingukan lalu setelah dirasanya cukup aman ia pun mendekatkan wajahnya dan berbicara pelan.
"Gue ga suka elu dekat-dekat dengan cowok gue," ucap Celine.
"Cowok elu? Memangnya siapa cowok lu yang dekat sama gue?" tanya Lili penasaran.
"Arjuna," jawab Celine.
"Apa? Sejak kapan? Sejak kapan Arjuna jadi cowok elu? Selama ini gue ga pernah lihat kalian jalan?" lanjut Lili heran.
"Kami pacaran secara virtual, Li. Kenapa gue tahu banget judul puisi pertama yang Arjuna bawakan saat doi pertama siaran, itu karena gue adalah pendengar setia doi sejak dulu," jelas Celine.
Air mata Lili menetes begitu saja. Ia sungguh tak percaya dengan apa yang sedang ia hadapi. Baginya cerita ini mungkin adalah cerita karangan Celine saja.
"GUE ADALAH PENDENGAR SETIA DOI SEJAK DOI BELUM PUNYA PENDENGAR SAMA SEKALI!" Celine berbicara dengan suara tinggi.
"Celine..." Lili semakin sedih.
Teriakan Celine menarik perhatian petugas. Petugas pun segera membawa Celine kembali. Celine meronta-ronta. Kondisinya sangat kacau.
"Motif pembunuhan itu hanya karena cemburu," gumam Lili.
Air mata Lili kembali tumpah dengan wajah tersenyum dan sedikit terkekeh.
"Konyol sekali. Dia benar-benar punya kelainan jiwa," gumamnya sembari menghapus air mata di pipinya.
Lili pun berdiri dan pergi meninggalkan tempat itu. Lalu, Kiki datang di hadapannya.
"Sudah selesai?" tanya Kiki.
"Sudah," jawab Lili.
"Sekarang kita mau kemana lagi?" tanya Kiki.
"Pulang," jawab Lili.
"Em... tunggu tunggu," ucap Kiki mencegah langkah mereka.
"Ada apa? Lu kepo sama yang terjadi di dalam tadi? Bisa ga sih ceritanya nanti aja?" protes Lili.
"Bukan, bukan itu," jawab Kiki.
"Terus?" tanya Lili.
__ADS_1
"Saya kebelet. Bisa nunggu sebentar ga?" ucap Kiki.
"ASTAGA! KIRAIN APAAN!" bentak Lili.
"Sssh... sssh... Malu, sssh..." ucap Kiki.
"Ya udah buruan sana," ucap Lili.
*
Hari ini menjadi hari yang melelahkan bagi Lili. Perasaannya begitu lelah. Seolah semua energinya sudah tersedot habis. Ia berjalan seperti agar-agar yang tidak punya tulang, sering oleng dan rawan terjerembap jatuh.
Usai dari kantor polisi, Kiki pun mengajak Lili makan malam.
Mereka lalu tiba di sebuah restoran. Kali ini Kiki dengan tulus ingin mentraktir Lili. Selama ini sering kali Lili yang mentraktir Kiki atau setidaknya mereka membayar makanan mereka masing-masing.
Hal itu karena pendapatan Lili jauh lebih tinggi dibandingkan pendapatan Kiki yang hanya dari hasil serabutan, freelancer sana-sini.
Kiki pun memesan makanan seafood, sementara Lili hanya menurut saja dengan apapun yang dipesankan Kiki. Kiki menganggapnya wajar karena mungkin Lili sedang merasa tidak enak kalau makanan yang dipesannya akan kemahalan.
Setelah semua pesanan tiba, Kiki pun memulai dan mengajak Lili menyantap makanan-makanan enak itu. Lili tampak sangat tidak bersemangat.
"Mbak? Kok ga nafsu gitu makannya? Kamu butuh nutrisi loh, kan udah seharian kerja, belum lagi jenuh sama masalah-masalah yang datang. Ayolah, Mbak, makan yang banyak," bujuk Kiki.
"Iya, Ki. Kayaknya gue memang lagi ga berselera. Makanan gue minta dibungkusin aja deh ya?" pinta Lili.
"Oh, gitu. Ya udah sih. Eh, tapi saya ga yakin juga kalau sampai di apartemen bakal langsung kemakan," ucap Kiki.
"Yah, bakal gue makan kok. Daripada mubazir di sini mending dibawa pulang. Mau kapan pun dimakannya kan bisa gue taruh di kulkas terus dihangatkan pas mau gue makan," jawab Lili.
"Bukan masalah makanannya, Mbak. Tapi, kamunya. Kamu harus makan, ga boleh telat. Nanti kalau kamu sakit gimana?" Kiki begitu perhatian kepada Lili.
"Gini, gini. Sekarang kamu mau makan apa? Terserah, bilang aja. Cuma mau cilok doang, oke. Atau es krim?" tawar Kiki.
"Ya udah, es krim," ucap Lili.
"Emh, kalau gitu kita ke restoran es krim. Saya tahu tempat yang enak dimana," ucap Kiki.
Kiki pun membayar seluruh pesanan dan meminta dibungkuskan saja untuk dibawa pulang.
Setelah itu mereka pun pindah ke restoran es krim.
Di restoran es krim, Lili memesan satu ember es krim dengan beraneka rasa sekaligus. Kiki sampai geleng-geleng melihatnya.
Lili memakan es krim dengan begitu emosional. Sesekali ia menangis dan merengek seperti anak kecil.
"Sssh... shh..." Kiki menenangkan Lili sambil celingukan. Ia malu apabila jadi pusat perhatian dikarenakan tangisan Lili itu.
"Ki, lu mau gue kasih tahu sebuah rahasia besar ga?" ucap Lili.
DEGG...
__ADS_1
"Sebuah rahasia?" Kiki baru saja tersentak dengan istilah yang baru saja Lili ucapkan itu. Wajah Kiki memucat dan hampir-hampir keluar keringat dingin.