Dicintai Brondong Online

Dicintai Brondong Online
55. Tersesat di Hutan (4)


__ADS_3

“Babi-babi keparat itu mulai menyeruduk batang pohon berusaha merobohkannya dan menjadikan kami santapannya.”


Kiki menikmati kesempatan bercerita panjang-lebar.


“Dari atas pohon kami melepaskan banyak sekali tembakan.  Akhirnya mereka kabur ketakutan setelah kami membunuh delapan ekor.  Sepanjang ekspedisi kami tak perlu lagi berburu karena punya banyak sekali daging asap.  Daging babi hutan betul-betul kelezatan sejati.”


Di sini mereka tidak menjumpai banyak hewan buas selain monyet.  Mereka sering melihat hewan ini, bahkan lebih sering lagi mendengar suara mereka karena malam hari mereka selalu membuat kegaduhan luar biasa.


Setiap hari mereka menemukan jejak tapir dan rusa, tapi sialnya, kontak terbesar mereka dengan kerajaan hewan adalah berbagai macam jenis serangga.  Hewan ini malah membuat kami lebih menderita.


Serangga paling merepotkan adalah semut api, semut kecil berwarna cokelat yang menjalari pepohonan.  BIla salah satu dari mereka tak sengaja bersenggolan dengan dahan yang dijalari semut api, orang ini pasti langsung menyesal.


Sejumlah besar semut segera merayap ke bawah kemeja, menjalari lengan baju, masuk ke celana.  Sengatannya sungguh panas seperti api, yang terkena pasti menandak-nandak seperti orang gila.


Kiki memilih melepas semua pakaian untuk mengusir semut api.


Lili akan berteriak, “Dasar semut keparat!  Dasar semut sialan!  Tolongin gue!”


Dia akan menunjuk-nunjuk bagian tubuh yang tak bisa dicapainya, dan kami akan mengusir semut-semut kejam itu lepas dari badannya.


Kalau Lili yang jadi korban, cepat-cepat ia menceburkan diri ke kolam atau sungai, berharap bisa menenggelamkan serangga itu.  Tapi, rasa sakitnya sungguh mengerikan.


Selain semut api, lebah juga menjengkelkan, terutama kalau mereka mau makan.  Nyamuk pun hama yang selalu muncul.  Mereka menggigit setiap bagian tubuh yang tidak tertutupi pakaian.


Selain itu juga ada lintah.  Mereka menempel di tubuh, mendesakkan kepala ke bawah kulit, lalu mulai mengisap darah.  Kalau tidak berhasil menyingkirkan lintah-lintah ini tepat waktu, badan mereka akan menggembung.  Di sini kau harus berhati-hati mengeluarkan mereka.  Koreklah kepala lintah dari bawah kulit dengan peniti, kalau tidak kau bisa terkena infeksi.


Suatu ketika Lili menemukan bercak-bercak merah di kedua kakinya.  Dia mengeluh, bercak-bercak itu terasa sakit.  Kiki tampak cemas.


“Ini sama sekali tidak bagus,” kata Kiki.  “Bercak-bercak itu bisa menyambar ke seluruh kaki.  Seorang temanku dulu pernah mengalaminya.  Penyakitnya begitu parah sampai dia tak bisa jalan, dan kami terpaksa memanggulnya di bahu.  Kuharap kamu tidak mengalami hal serupa.”

__ADS_1


Lili yang ketakutan mendengar ucapan Kiki segera membalurkan minyak estrak daun herbal ke seluruh kaki.


Hari ini mereka bergerak cepat.  Lili berhasil mengimbangi langkah Kiki.  Suasana hati mereka sudah membaik.


“Setidaknya kita masih bisa mengarungi sungai,” ujar Kiki.  Siangnya Kiki melihat seekor unggas yang bertengger di salah satu dahan pohon tinggi.  Kiki menyuruh Lili diam, merangkak maju dengan mantap, lalu membidik tepat-tepat.  Letusan senapan dan pekikan unggas pecah bersamaan.


“Kena! Berhasil!” teriak Kiki riang lalu berlari di antara pepohonan untuk menjemput buruannya.


“Aw! Aduh!”


Kaki menghambur keluar dan berlari ke sungai seperti orang gila.  Dia menceburkan diri, keluar beberapa saat kemudian, lalu cepat-cepat mendatangi Lili sambil menggosok-gosok seluruh badan.


“Lebah jahannam!” teriak Kiki marah.  “Sekujur badanku disengat!”


Kiki melepas kausnya.  Lili menghitung sengat yang menancapi punggung Kiki.  Sembilan.  Telinga kiri Kiki sudah merah dan bengkak, sementara tengkuknya juga merah padam.


“Lu pasti ga serius kan Ki?  Mana boleh kita tinggalin unggas ini begitu saja di sana semetara kita kelaparan.”


“Kamu sangat menginginkannya ya?” tanya Kiki yang masih gusar.  “Ambil sendiri.”


Dengan enggan Lili mengambil unggas itu.  Mula-mula ia menyemprot sekujur tubuh dengan minyak herba pengusir serangga, baik kulit yang terbuka maupun pakaian.


Kiki memandangi Lili sambil menyeringai.  Mereka mengendap-endap mendatangi tempat jatuh unggas itu, mendatangi dari arah berlawanan.  Tak lama mereka melihat serangga terbang itu mendengung-dengung di atas unggas.  Kiki mengendap maju, Lili mengikuti.


“Tenang saja,” kata Kiki.  “Bau pengusir serangga pasti membuat mereka menjauhi kita.”


Lili berdiri kira-kira enam kaki dan mereka belum kena sengat.  Kiki maju selangkah lagi.  Lebah-lebah mengerumuninya dalam satu awan tebal.


“Aduh, aduh!” teriak Kiki, lalu mulai lari membabi-buta.   Ia membentur cabang pohon, terhuyung-huyung, dan lari tanpa berenti sampai melompat ke sungai.

__ADS_1


Keesokan paginya kondisi kedua kaki Lili sangat parah.  Bercak-bercak merah semakin menyebar dan dia kesakitan.  Ia kembali membaluri kaki dengan minyak herba sebelum melanjutkan perjalanan.


Yang pertama melihat kedatangan Lili dan Kiki adalah anak-anak sebuah pemukiman.  Mereka berlari ke arah desa sambil berteriak-teriak.  Beberapa perempuan desa keluar menyambut mereka.  Mereka benar-benar peduli dengan Lili dan Kiki.


Seorang pemuda disuruh memanggil salah satu tokoh desa dari ladang.  Sementara itu, seorang ibu menyuguhkan Lili dan Kiki makanan.  Kaldu domba, beras, kacang-kacangan, dan daging panggang.  Segalon jus pun diletakkan di meja selama mereka melahap makanan lezat yang sangat mereka dambakan.


Seorang tokoh tetua pulang dari ladang sambil memanggul parang di bahu.  Dia menjabat hangat tangan Kiki dan Lili.  Mereka pun menceritakan soal perjalanan masuk hutan dan segenap derita penyakit yang dialami.


Tetua adat itu menyarankan mereka untuk naik kuda.  Dia sendiri nanti yang akan mengantar sepanjang perjalanan kembali ke kota.


Kiki menjelaskan ukuran rakit harus cukup lebar dan kukuh untuk menahan beban mereka.  Tetua adat itu bersedia menanyai adakah tetangga yang mau membantu karena dia pasti tak sanggup menyelesaikannya sendiri.


Mereka membunuh waktu dengan mandi dan keramas di sungai.  Sekeluarnya dari air mereka buru-buru berpakaian karena nyamuk-nyamuk langsung mengerubungi.  Gerakan Kiki begitu terburu-buru sampai dompetnya jatuh dari kantongnya.  Cepat-cepat Kiki bungkukkan tubuh untuk memungut.  Dompet merahnya terbuat dari kain kedap air tapi tetap dibungkus dengan kantong plastik.


“Ki, gue sudah lama ingin tanya apa saja yang lu simpan di dompetlu,” kata Lili.


“Gue tahu di mana lu menyimpan KTP, uang dan jam tanganlu.  Apa yang lu sembunyikan sampai dompet itu ga pernah lepas dari lu?”


“Ceritanya panjang,” sahut Kiki sambil menyeringai.


“Gue tahan mendengarkannya,” sambut Lili.


Mereka pun duduk di bawah naungan.


“Kamu pernah ga dengar soal Kabbalah?” tanya Kiki.


“Semacam aliran mistis orang Yahudi, benar ga?” tanya Lili.


“Tepat.  Sebenarnya aku sendiri ga tahu lebih banyak selain itu.  Aku punya paman bernama Nissim, dalam bahasa Yahudi berarti ‘keajaiban’.  Paman Nissim lahir di Turki dan belajar di tashiva di Tiberias.  Dia berkelana di Eropa dengan mencari uang sebagai penyanyi di gereja Yahudi, algojo ritual, dan jadi tukang sunat.  Akhirnya dia menetap di Israel membuka toko mainan kecil.”

__ADS_1


__ADS_2