
Ini adalah minggu kedua pasca luka tembak di kaki Lili. Saat ini Lili sudah bisa berjalan tanpa bantuan tongkat, walaupun ia masih belum diperbolehkan berlari dan melakukan aktivitas berat seperti jongkok berdiri tiba-tiba atau sambil membawa benda berat.
Lili sudah beraktivitas normal di kantornya. Bagaimana dengan Victor? Kebaikan hati Victor mulai terlihat luntur lagi. Ia kembali sering mengeluarkan modus-modus buayanya kepada Lili.
Namun, Lili tidak pernah tergoda atau lalai dari godaan Victor. Entah kenapa pertahanan dirinya begitu kuat seolah membatasi diri dari Victor adalah harga mati.
Bahkan, Lili sampai meminta kepada atasannya agar jangan pernah dipertemukan satu proyek dengan Victor. Untungnya atasan Lili yang sama-sama perempuan itu paham dan mengatur yang terbaik bagi Lili dalam bekerja.
Waktu coffee break tiba. Lili menikmati kopi latte-nya di pantry. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Ternyata itu adalah sebuah pesan chat dari Kiki.
Kiki
Uji kejiwaan Mbak Celine sudah selesai. Kita bisa menemuinya hari ini.
Lili
Oke, nanti gue akan ijin balik cepet. Kita ke sana sore ini.
Usai membuat janji dengan Kiki, Lili pun menikmati kembali kopi seduhannya.
"Sudah lima hari gue nunggu elu, Lin. Sebenarnya apa yang terjadi? Gue kasihan sama elu. Mungkin elu lagi kena fitnah," batin Lili.
"Lili? Kamu ngapain sendirian di sini?" sapa Bu Eva, atasan Lili.
"Hehe... Saya memang suka healing sendirian di sini, Bu," jawab Lili.
Atasan Lili itu pun membuat kopinya sendiri sambil mengajak ngobrol Lili.
"Oh iya, gimana kelanjutan kasus kematian temanmu yang waktu itu?" tanya Bu Eva.
"Arjuna? Emh, sekarang sudah ada penunjukan tersangka, Bu. Sayangnya... " ucap Lili ragu.
"Sayangnya kenapa? Tersangkanya buron?" sambung Bu Eva.
"Bukan, Bu. Tersangkanya sudah diperiksa, bahkan kabarnya baru selesai uji kejiwaan," jawab Lili.
"So? Jadi tersangkanya punya gangguan jiwa apa gimana?" tebak Bu Eva.
"Belum tahu, Bu. Oh iya, sore ini Lili ijin pulang cepat ya, Bu? Saya mau datang ke kantor polisi," ucap Lili.
"Kamu datang ke kantor polisi? Kok malah kamu yang ke sana? Bukannya kamu sudah selesai memberikan keterangan minggu lalu?" tanya Bu Eva penasaran.
__ADS_1
"Bukan saya lagi yang diperlukan untuk memberikan keterangan di sana, Bu. Masalahnya tersangka itu adalah sahabat saya sendiri," jelas Lili.
"Hah? Sahabat? Kok bisa?" tanya Bu Eva heran.
"Iya, saya juga ga habis pikir, Bu. Sahabat saya yang selama ini begitu akrab dengan saya, kami biasa bergantian menginap, pokoknya kami sangat dekat. Saya lihat dia orangnya begitu ceria dan perhatian, pokoknya orangnya baik. Saya sampai sekarang pun belum percaya kalau dia jadi tersangka pembunuhan," jelas Lili.
"Kamu yang tabah ya, Li. Di dunia ini semua hal bisa terjadi. Seseorang yang kita kira baik bisa saja ia adalah serigala berbulu domba, sedangkan seseorang yang terlihat busuk di mata kita bisa saja ia justru orang yang paling peduli dan banyak berkorban untuk kita," ucap Bu Eva.
"Ga ada yang benar-benar pasti di muka bumi ini, Li. Semua berjalan begitu dinamis. Suatu hal kadang ada di atas, kadang ada di bawah, kadang lurus, kadang bisa juga bengkok. Kita ga bisa menebak apa yang Tuhan gariskan. Kita hanya bisa berusaha untuk berbuat baik," lanjut Bu Eva.
"Iya, Bu. Ibu benar. Terima kasih, Bu, sudah menenangkan Lili," ucap Lili.
"Iya, Lili. Tapi saya yakin kok, kamu orang yang kuat. Kata-kata saya barusan sebenarnya berlaku untuk saya juga. Kalau bukan diri sendiri yang memotivasi diri, siapa lagi? Buat apa menunggu orang lain kan?" lanjut Bu Eva.
Mereka pun berbincang dengan tawa-tawa kecil yang turut membuat suasana menjadi lebih cair dan santai.
*
Waktu pun berlalu. Hari telah sore. Tiba saatnya Lili bersiap untuk pergi ke kantor polisi. Ia pun menunggu Kiki datang menjemputnya.
Kali ini Kiki datang dengan menggunakan motor berbodi besar miliknya.
Menjadi sebuah kesenangan ketika Lili bisa berpegangan pada Kiki saat berboncengan. Tubuh Lili menumpu di atas punggung Kiki dengan tangan yang dilingkarkan di pinggang Kiki.
Kiki sengaja melaju kencang agar Lili berpegangan erat padanya.
"KI!"
"APA?"
"JANGAN KEBUT-KEBUT! NGERI GUE."
"BIAR AJA. SUPAYA KITA GA KESOREAN."
Pandai benar Kiki mencari-cari alasan. Alasan sebenarnya adalah Kiki ingin dekat-dekat dengan Lili seperti ini.
"LOH? KOK JALANNYA KE SINI?"
"JALAN BIASA DITUTUP, JADI KITA HARUS MEMUTAR."
Sekali lagi Kiki baru saja berbohong. Kiki hanya ingin berputar-putar bersama Lili lebih lama.
__ADS_1
Waktu pun berganti. Akhirnya mereka sampai di kantor polisi.
Sebelum menemui Celine, mereka terlebih dahulu mengobrol dengan polisi yang pernah berjumpa dengan mereka.
Polisi itu pun memberitahukan kondisi yang terjadi pada sahabat Lili itu.
"Berdasarkan pemeriksaan selama kurang lebih lima hari ini diketahui hasilnya bahwa teman Nona itu mengidap personaliti disorder," ucap polisi itu.
"Apa? Bapak yakin?" tanya Lili terkejut.
"Permisi? Apa itu semacam penyakit kejiwaan ya?" selah Kiki.
"Ya, itu adalah kelainan pada kepribadian Nona Celine," jelas polisi itu.
"Bapak yakin? Proses ujinya mungkin ada yang selip kali Pak?" protes Lili.
"Kami sudah melakukan uji kejiwaan sesuai prosedur, Nona. Kami punya pakar yang mumpuni. Uji kejiwaan pun dilakukan beberapa langkah, baik itu secara auto-anamnesa maupun hetero-anamnesa," jelas polisi tersebut.
"Oh, begitu. Iya Pak, kami percaya kok Pak. Pasti tim Bapak ga mungkin melakukan uji-uji itu secara sembarangan," ucap Kiki.
"Halah elu. Bilang aja kalau lu ga ngerti yang barusan dijelasin pak polisi," gerutu Lili.
"Sssh... Jangan diperjelas gitu dong, Mbak," ucap Kiki dengan suara lirih.
"Lalu, bagaimana Pak, apakah motif pembunuhannya sudah diketahui dengan pasti?" tanya Lili.
"Untuk hal itu Saya belum bisa menjelaskannya, karena proses penyidikan masih berjalan. Yang jelas pembunuhan itu adalah pembunuhan yang terencana," jelas polisi tersebut.
"Astaga, Celine! Gue ga percaya, sebenarnya apa sih isi kepala lu, sampai lu berbuat seperti ini?" gerutu Lili.
"Tenang, Mbak, tenang. Setelah ini kita kan mau menemui Mbak Celine secara langsung," ucap Kiki menenangkan Lili.
"Jadi, bagaimana, mau langsung ketemu saja?" tawar polisi itu.
"Iya Pak. Iya, langsung sekarang saja," jawab Lili.
"Kalau begitu mari ikut Saya," ucap polisi itu.
Lili dan Kiki menyusuri kantor polisi itu berdasarkan arahan dari polisi di depan mereka.
Mereka pun tiba di sebuah ruangan dengan meja panjang bersekat kaca. Mereka akan melakukan percakapan di sana. Lili dan Kiki pun menunggu, Celine sedang dipanggil untuk menuju ke sini.
__ADS_1