
“Kita tidak boleh bertindak tanpa Kiki,” protes Lili. “Itu salah. Tadi kita janji hanya membawa rakit mendekat. Lagi pula Kiki tahu apa yang dilakukannya. Dia bisa menunjukkan yang terbaik…”
Orang itu menyelah tak sabar, “Kiki bahkan tak tahu aturan dasar soal rakit.”
“Begitupun empat tetap lebih baik dibanding tiga. Tolong, sebaiknya kita tunggu Kiki.”
“Oke, Lili, kembali saja kalau kau mau. Biar aku dan dia yang melakukannya.”
Lili ketakutan, tapi memilih ikut. Lili dan dia naik rakit sementara orang lain tetap di air, perlahan-lahan mendorong rakit ke tengah sungai. Setelah air sungai mencapai leher barulah dia naik ke rakit. Dari situ arus mengambil alih. Kecepatan mereka mulai bertambah. Bebatuan di pertengahan sungai jauh lebih sedikit daripada dekat pinggir sungai.
Orang yang membawa rakit itu keliru. Mereka bukan cuma terbentur-bentur beberapa kali, melainkan terhempas dari batu ke batu, sampai rakit miring ke samping. Lili dan orang itu sempat tercebur ke sungai. Mereka mencengkeram rakit karena takut hanyut.
Entah bagaimana caranya kami berhasil naik ke rakit lagi. Lili tampak linglung, pucat, gemetar hebat sampai tak bisa bicara. Rakit utama sanggup menahan semua gempuran yang diterimanya, tapi gelondongan tambahan, yang disatukan dengan tali, bukan pasak, mulai renggang.
Mereka berhasil menyeberangi sungai dengan selamat, tapi tak punya galah maupun dayung sehingga tak bisa mendayung rakit ke darat. Kembali orang itu melompat ke sungai lalu memegang tali yang terikat di bagian depan rakit.
Setelah berhasil memantapkan posisi di sebuah batu besar, orang itu mengerahkan segenap kekuatannya untuk menarik rakit ke darat. Bersama-sama kami menarik rakit naik ke pangkal daratan dan mengikatnya.
Orang itu memandang Lili dengan tatapan puas. “Kau lihat sendiri! Hebatkan?”
Mereka jalan kaki kembali ke kamp lewat hutan dalam keadaan basah kuyup. Lili kesulitan berjalan. Dia mengeluh kakinya (yang basah lagi) terasa sakit. Sekonyong-konyong terdengar bunyi letusan. Kiki pasti menembak sesuatu.
Lili berlari ke depan menuju arah bunyi tadi. Tak ada jalan setapak, jadi Lili menyerjang ranting, melompati gelondongan kayu tumbang, merangkak di bawah cabang-cabang pohon yang menggelantung rendah. Gerakan Lili menimbulkan bunyi sangat gaduh sehingga muncul satu pemikiran mengerikan. Kiki bisa saja menganggap Lili hewan buas yang sedang menerjang semak-semak.
“Kiki, Kiki,” panggil Lili. “Lu dimana?”
“Sebelah sini!” sahut Kiki.
Lili temukan Kiki sedang mencermati satu pohon besar.
“Lu tadi nembak apa? Dapat sesuatu?”
__ADS_1
“Ah, macan. Tembakanku meleset karena macan itu terlalu tinggi di pohon. Lihat, pohon karet.”
Kiki menggores batang pohon dengan parang. Dari bekas sayatan merembes tetesan putih kental seperti lem. “Bisa kupakai untuk memperbaiki sepatu botku.”
Benang nilon yang dijahitkan Kiki ke sol sepatunya sudah berlepasan.
Mereka kembali ke tenda mengambil kaleng kosong untuk menampung getah. Dalam perjalanan kembali ke pohon karet mereka bertemu yang lainnya.
“Kami berhasil menyeberangi kelok itu!” seseorang memberi tahu dengan penuh semangat.
“Wah, hebat sekali. Sulit tidak?” tanya Kiki tak acuh.
“Gampang banget,” sahut yang lain.
“Hebat,” ulang Kiki tanpa secuil pun nada iri dalam suaranya.
“Berarti besok kita bisa berangkat pagi-pagi.”
Lili berbaring di dalam tenda. Yang lain membalik dayung untuk mengeringkan sisi yang satu lagi. Kiki menaruh kaleng berisi getah di dekat api.
“Karet harus ditunggu sampai agak keras sebelum bisa dipakai,” jelas Kiki.
Dengan sikap resah seperti biasa, Kiki mengeluarkan tali pancing dan mata kail. Dia mencungkil-cungkil tanah gembur di hutan dengan parang, sampai menemukan benda yang dicarinya, cacing tanah gemuk. Setengah badan cacing diikatkannya ke mata kail, lalu dia pergi memancing.
“Umpanku digigit! Keparat kecil! Umpanku digigit!” Kiki memberitahu Lili dengan sukacita. Tak lama kemudian dia menarik keekor ikan kecil. Dibelahnya ikan menjadi dua lalu dijadikan umpan yang lebih besar dengan memakai tali pancing yang lebih tebal.
“Ayo cobalah!” desak Kiki. Dia kembali ke sepatunya.
Lili ayun kail berumpan di atas kepala lalu dilemparkannya tali pancing ke sungai. Lili belum sempat menggulung tali ketika tali melurus dan menegang. Umpan Lili dimakan ikan besar, bisa Lili rasakan betapa kuat tarikannya.
“Santai!” kata Lili di dalam hati. “Tangkapanlu ga bakal ke mana-mana.” Perlahan-lahan Lili tarik ikan ke arahnya. Sesekali tali dikendurkannya sedikit, lalu dikencangkan lagi. Setelah beberapa menit si ikan kecapekan sehingga lebih mudah ditarik. Ternyata ikan lele yang sangat besar.
__ADS_1
Kiki yang sedang membungkuk dekat api berpaling ke arah Lili. “Hoho,” serunya. “Bagus! Kau betul-betul jago!”
“Jangan terlalu senang dulu,” kata Lili sesumbar. “Ini cuma mangsa kecil. Sekarang akan gue tangkap ikan betulan.”
Lili tarik mata kail dari mulut ikan lalu memasang umpan baru, yaitu setengah badan ikan kecil tangkapan Kiki tadi. Lili datang ke pinggir sungai untuk menonton memancing.
Tali pancing Lili tebal, tapi terlalu pendek. Lili ikatkan satu ujung tali ke cabang pohon. Sekali lagi Lili ayun kail di atas kepala, melemparnya ke air, dan menunggu. Tali pancing di tangannya menegang. Bisa dirasakannya tarikan arus yang mengalir mantap.
Lalu sesuatu menarik dengan kuat. Tali pancing seketika menegang sampai berdengung seperti senar gitar. Karena dililitkannya ke tangan, tali sempat mengiris dagingnya. Untung dia berhasil melepaskan tangan.
Cabang pohon bergetar, bergoyang-goyang. Mendadak tali pancing putus dan mengendur. Ikan itu berhasil lolos, membawa serta umpan dan mata kail.
Lili tertegun. Lili sudah sangat sering memancing, tapi belum pernah dirasakannya tarikan sekuat tadi.
“Astaga, ikan tadi pasti besar sekali!”
Lili perlihatkan jarinya terluka. Orang lainnya mengambil kotak P3K dan membalut luka itu dengan cermat.
Lili tertawa waktu diceritakannya soal ikan besar yang berhasil lolos. “Tunggu saja,” kata Kiki meyakinkan mereka. “Kau pasti bisa menangkap yang seperti itu lagi.”
“Oh, betul. Lalu bagaimana caranya, Ki?” tanya Lili. “Pakai tali pancing panjang dan dua kali? Bisa-bisanya lu menghadiahkan dan menjual semua perlengkapan memancing kita tanpa menyisakan secukupnya untuk kita sendiri.”
“Tenang saja. Punya kita cukup, kok.” Kiki mengibaskan tangan.
Setelah Lili selesai membershikan ikan hasil tangkapan, Kiki menusuknya dengan batang bambu hijau lalu menaruhnya di atas dua dahan bercabang untuk dibakar. Perlahan-lahan mereka membolak-balik ikan.
Lemak ikan berkeretak jatuh menetes ke api. Dagingnya sangat lembut dan lezat, mereka hampir tak tahan ingin menyantap semua tanpa menyisakan sedikit pun untuk besok pagi.
Kiki memperbaiki sol sepatunya dengan getah karet. Setelah menaruh bot dekat api, dia tidur. Dari dalam tenda dipandangi Kiki, sang penghuni hutan, yang begitu nyaman berada di hutan rimba.
Paginya Kiki mengumumkan bahwa kedua dayung siap digunakan. Mereka pun memanggul ransel masing-masing ke rakit terikat.
__ADS_1