Dicintai Brondong Online

Dicintai Brondong Online
28. Bobo Bareng


__ADS_3

Lili menawari Kiki agar bermalam di apartemennya saja. Hal itu dikarenakan motor berbodi besar Kiki dirasa begitu mencolok dan berpotensi untuk dibegal.


Motor berbodi besar tersebut adalah motor yang baru saja Kiki beli dengan sistem pembayaran kredit. Akan sangat disayangkan apabila motor barunya itu hilang sementara pembayarannya belum lunas. Asuransi kehilangan dianggap tidak akan terlalu membantu.


"Ya udah, saya tidur di sini," jawab Kiki. Lili pun akan kembali ke kamarnya untuk mengambilkan bantal dan selimut.


"Mbak, saya boleh numpang mandi ga? Lengket banget badan saya," pinta Kiki.


"Ya, boleh. Oh iya, mau sekalian pinjam baju gue ga? Masa tidur pakai baju kotor gitu, kan bekas debu jalan. Yang ada sama aja lu abis mandi atau enggak, kotoran tetap nempel," tawar Lili.


"Boleh, boleh, Mbak," ucap Kiki.


Begitulah Lili ketika seseorang sudah mendapatkan hatinya, ia akan menjadi seperhatian itu.


Setelah mandi, Kiki pun menggunakan T-shirt milik Lili dan sarung. Kiki lalu tidur di sofa dengan menggunakan bantal dan selimut yang juga disediakan.


Sementara, Lili tidur di kamarnya. Karena malam itu sudah larut dan mereka begitu mengantuk, mereka langsung tidur begitu saja tanpa memikirkan apapun lagi.


Kiki mengunci pintu utama apartemen dari dalam juga memeriksa jendela-jendelanya. Namun, tidak dengan Lili. Sudah menjadi kebiasaanya ketika tidur pintu kamarnya tidak ia kunci.


Lili tidak berpikir hal apapun. Mungkin lupa, atau baginya tidak akan ada bedanya ketika pintu kamarnya dikunci atau tidak saat Kiki juga ada di apartemen itu.


Waktu pun berlalu. Waktu menunjukkan pukul setengah empat subuh. Kiki memang selalu terbangun di jam-jam itu. Ia hendak menuju ke toilet, tapi ada hal yang tak biasa dirasanya. Setelah ia keluar dari toilet, suara itu masih belum hilang.


Ada seseorang terisak, ia mendengarnya sayup-sayup. Ketika didekati sumber suaranya, itu berada di kamar Lili.


Kiki menempelkan telinganya di pintu kamar Lili. Ternyata benar, Kiki memastikan bahwa itu adalah suara Lili.


TUK TUK TUK...


Kiki mengetuk pintu kamar Lili dengan ujung telunjuknya. Sebuah ketukan yang ragu-ragu. Di samping merasa tak enak membangunkan Lili, ia juga penasaran dengan apa yang terjadi di dalam.


Kiki pun memberanikan diri untuk membuka sedikit pintu kamar Lili yang tak dikunci itu. Kiki mengintip.


Kiki melihat Lili sedang tidur dengan sangat resah, tidak nyaman. Kepalanya ia palingan berulang-ulang, napasnya terisak-isak. Maka, Kiki segera mendekatinya dengan berlari.


Sesampai Kiki di tepi ranjang Lili, ia menoyor-noyor pipi Lili. Dirasakannya kulit Lili yang panas. Kemudian, ia tempelkan telapak tangannya di kening Lili. Benar, suhu tubuh Lili begitu tinggi. Keringat mengucur dari kepalanya.


Lili meracau tidak jelas sambil terus terisak.


Kiki duduk di sisi Lili dengan khawatir.


"Mbak! Mbak! Hei! Weyli Hanggraini!" panggil Kiki dengan suara yang semakin meninggi.

__ADS_1


Lili pun membuka matanya. Pandangannya gamang, ia bingung tapi masih merasakan ketakutan yang sama.


"Mbak, kamu mimpi buruk ya?" ucap Kiki.


"Heee... " Lili merengek. "Ga mau, ga mau," lanjutnya merengek sambil menutup matanya dengan kedua tangannya.


"Sssh... sssh... Ada saya di sini, jangan takut ya," ucap Kiki yang dengan spontan mendekap kepala Lili di dadanya.


Lili masih mengisak di dada Kiki. Kiki memejamkan mata dan menghela napas pelan. Ia mencoba menenangkan Lili sekaligus merasakan kedekatan mereka.


"Lu jangan tinggalin gue, Ki. Lu jangan kemana-mana, Ki," ucap Lili sesenggukan.


"Iya, iya. Saya di sini. Saya akan selalu di sini. Sssh... Sssh... " ucap Kiki.


Suara Lili pun mereda. Napasnya kembali beraturan, kemudian Kiki tak mendengarkan isakannya lagi.


Setelah dekapannya ia buka, Kiki melihat rupanya Lili sudah kembali tertidur dengan pulas.


"Hah? Tidur lagi? Ya ampun, menggemaskan sekali," ucap Kiki sambil memandangi Lili.


Kiki pun pelan-pelan membenahi posisinya. Ia lalu berbaring di samping Lili menghadap ke arahnya.


"Ga nyangka saya bisa mendapatkan pengalaman seindah ini. Saya bisa melihat wajahmu yang sedang tidur tepat di depan saya, Mbak," batin Kiki.


Pandangannya begitu luas ke seluruh wajah Lili. Perlahan ia pandangi tempat lengkung-lengkung senyuman biasa terukir, lalu menurun ke dagu, ke leher, dan celah di antara kerah baju Lili.


Kiki pun menelan ludah, lalu ia berkedip cepat. Ia tidak ingin meneruskan sorotan mata liarnya lagi.


Kiki lalu mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang. Sejenak ia memandangi langit-langit kamar lalu ia memejamkan matanya.


*


Beberapa jam kemudian saat matahari hampir terbit, sebuah teriakan membangunkan Kiki.


"AAAAA..."


"Apa? Kenapa?" Kiki bangun dengan panik.


Lili meremas selimutnya di dadanya.


"Ngapain lu di sini?" tanya Lili panik.


"Eh? Eh, Mbak, tadi kamu sendiri yang minta saya di sini," jawab Kiki.

__ADS_1


"Hah? Ah, bohong lu ya?" tuduh Lili.


"Ya udah kalau ga percaya. Coba cuci muka dulu sana siapa tahu jadi ingat," ucap Kiki.


"Hah? Masa sih?" tanya Lili bingung.


Kiki pun menempelkan telapak tangannya di kening Lili. Lili menghindar tapi tangan Kiki masih bisa menjangkaunya.


"Tuh kan, badan kamu masih panas, Mbak, kaya tadi subuh," ucap Kiki.


"Sebentar, saya ambilkan kompresan dulu," lanjut Kiki.


Lili pun memeriksa keningnya sendiri juga lehernya. Ia merasakan kulitnya begitu panas, ia juga menjulur-julurkan lidahnya beberapa kali. Ia menunjukkan ekspresi pahit di mulutnya.


"Iya, benar. Gue demam," ucap Lili.


Lili pun menggosok matanya, lalu tiba-tiba ada sehelai bulu mata yang jatuh ke dalam bola matanya.


Kiki sudah datang membawa sebaskom air hangat dan sebuah handuk kecil.


"Kenapa Mbak, matanya?" tanya Kiki.


"Tahu nih, kemasukan sesuatu," jawab Lili.


Kiki pun kembali duduk di tempatnya tidur tadi. Ia meniup mata Lili. Karena butuh tambahan penerangan untuk memeriksa mata Lili, tangan Kiki pun menyeberang di atas wajah Lili untuk menekan tombol lampu tidur agar menyala.


Lili melihat lengan Kiki dalam jarak yang sangat dekat. Ia lalu melihat dada Kiki yang dan mengintip di antara celah kerah kaos Kiki.


Lili mengingatnya. Tadi subuh ia memang bangun dan berada di posisi seperti ini dengan Kiki. Lili mematung.


"Oh, itu ada bulu mata masuk," ucap Kiki lalu meniup-niup mata Lili pelan dan menekan-nekan kelopak mata bawahnya.


Lili melihat wajah Kiki dengan sangat dekat. Jantung Lili berdegup sangat cepat. Ada rasa yang tak biasa dirasakan oleh Lili.


"Nah, sudah. Nih keluar," ucap Kiki.


"Ki," ucap Lili.


"Ya?" jawab Kiki.


"Gue baru ingat. Semalam gue ternyata mimpi buruk dan minta elu nemenin gue di sini," ucap Lili.


"Oh, sudah ingat ya? Syukurlah. Berarti aman kan? Saya bukan cowok cabul seperti kamu kira kan?" ucap Kiki sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2