Dicintai Brondong Online

Dicintai Brondong Online
74. Tersesat di Hutan (23)


__ADS_3

Diikuti jalur aliran dengan mendaki tanjakan-tanjakan curam dan mengitari beberapa air terjun berukuran kecil, hati-hati sekali menjaga agar kedua kakinya jangan sampai basah.  Kalau harus menyerberangi sungai, kulakukan dengan melompatinya atau berjinjit di batu-batu besar yang berserakan di sana.


Sesekali ia tertolong oleh pohon-pohon tumbang.  Lalu beberapa aliran bergabung dengan aliran yang diikuti sehingga perairan itu semakin lebar.


Sekarang ia menyusuri sungai.  Tanah lebih datar, tapi sesemakannya sangat lebat.  Tanpa parang untuk menebas, perjalannya sangat sulit.  Tak ada pilihan selain mengikuti letak daratan yang membentuk semacam jalan setapak dan sering terhalang.  Ia berjuang mendaki semacam jalan setapak dan sering terhalang.  Ia berjuang mendaki karang, merangkak di bawah dahan pepohonan.  Duri-duri mengoyak pakaiannya.  Kadang-kadang tangannya tertusuk jelatang.


Suatu kali tanpa sengaja ia mengusik dahan yang keliru.  Sekawanan semut api langsung mencari jalan menyerang tengkuknya.  Cuaca baik ikut berakhir, hujan kembali tumpah.  Seluruh usahanya menjaga kaki tetap kering akhirnya sia-sia.


Karena sudah terlanjur basah kuyup, mengarungi sungai sepertinya ide bagus, apalagi airnya lumayan dangkal, cuma setinggi lututnya atau kadang-kadang sepinggang.  Sesekali ia kehilangan tempat berpijak dan beberapa saat tenggelam.  Meskipun ranselnya bisa mengapung, tetap saja benda itu membuatnya sulit muncul ke permukaan.


Dengan perasaan tegang ia simak baik-baik deru sungai, mendengarkan apakah ada air terjun atau aliran deras yang bisa menghanyutkannya.  Bisa ia rasakan ruam menyakitkan di kaki semakin menyebar, namun ia tak berdaya melakukan apa pun untuk mencegahnya.


Apakah di atas sana ada orang yang menurunkan pandangan ke sini dan menyadari kesulitan yang dialami?  Sendirian di hutan, tanpa manusia lain, dalam cengkraman kekuasaan Ibu Alam yang kejam?


“Kumohon, tolong aku.  Setidaknya buatlah hujan berhenti.  Sanggupkan aku terus berjalan dengan kedua kaki ini.”

__ADS_1


Ia tak tahu pasti kapan malam akan turun.  Sesekali matahari lewat di balik awan sehingga ia berpikir harus bergerak cepat dan membuat tenda.  Lalu matahari muncul lagi, ia pun melanjutkan berjalan karena tak ingin menyia-nyiakan sisa waktu terang.


Setelah melewati satu kelokan kecil di sungai, akhirnya ia tiba di pantai yang indah.  Pasir putih murni, air sejernih kristal, satu semak besar penuh buah merah berukuran kecil.  Dua hari terakhir ia hanya makan beberapa butir bawang putih bersama sejumput garam, maka dengan rakus diterkam beri manis itu.


Mula-mula ia masih memetiki beri satu per satu dan memasukkannya ke mulut, tak lama ia langsung meraup segenggam penuh dan menjejalkannya ke mulut.  Rasa manisnya sungguh melenakan, cairan buah memenuhi perutnya yang keroncongan.  Ia bergeming di semak itu sedikitnya dua puluh menit, sampai kedua tangannya merah oleh jus beri dan rasa laparnya terpuaskan.


Ia menelungkup, dengan dahaga menciduki air dari sungai untuk membasuh wajah yang berkeringat.  Di bagian ini sungai sangat lebar.  Pasti ini sungai lain yang ditandai di peta, sungai itu tak diragukan lagi tujuannya seharusnya hanya sejauh setengah mil lagi.


Fantastis.  Besok ia pasti sampai di sana.  Besok saja diteruskan berkemah di pantai.  Setidaknya ia bisa berharap besok mendapat sarapan lezat.


Sebatang pohon panjang berukuran luar biasa besar tergeletak di pantai.  Bonggol-bonggol di bagian batang menyisakan celah antara pohon dengan tanah di bawahnya.  Ia akan bermalam di sini saja.  Tanahnya kering, tidak kena hujan.


Ia merangkak ke bawah batang pohon.  Ia tak bisa duduk, hanya bisa menekuk siku.  Diambilnya kawat nyamuk dan ponco, bersiap-siap menyambut malam.  Sebelum berbaring, ia kembali ke semak beri dan sekali lagi makan sekenyang-kenyangnya.


Sesudahnya ia berbaring menyelimuti tubuh di bawah pohon sambil mengunyah bawang putih pelan-pelan.  Matahari sudah terbenam, bulan pun terbit.  Pemandangan yang luar biasa indah.  Sayangnya, pemandangan indah tak bisa berbuat banyak untuk meredakan ketakutannya.  Dihitungnya menit demi menit dan jam berganti jam sampai pagi datang.

__ADS_1


Saat fajar dilihatnya seekor rusa betina dan anaknya turun untuk minum di sungai.  Hewan lincah berkaki putih itu semakin dekat dengan air.  Induk rusa mendekati jejak kakinya.  Mendadak dia berhenti lalu kabur, anaknya segera menyusul.  Seandainya tadi mereka berhenti untuk minum dan ia berhasil melukai si anak, pasti bisa ditangkapnya.  Dagingnya tentu lembut dan lezat.


Seperti kemarin, ia terpaksa serapan buah beri, bukan daging rusa  Bedanya, kali ini ia tak lagi menikmatinya.  Ia makan seperti mesin, tanpa perasaan, memaksakan diri menelan banyak-banyak.  Sempat dipertimbangkannya membawa sedikit beri dalam kaleng, tapi kondisi kaleng sudah berkarat dan bau bawang putih, apalagi kemudian dilihat hampir tak ada lagi beri yang bisa dimakan di pohonnya.


“Tak masalah,” pikir Made.  “Seseorang pasti melindungiku.  Aku pasti mendapat makanan hari ini.”


Ia mulai berjalan sambil memanggul ransel di punggung.  Hujan masih turun.  Dicobanya mengarungi sungai dengan gerakan cepat sekaligus hati-hati, menggantungkan semua harapan pada kemampuannya menemukan kembali jalannya.  Hujan mulai menderas.  Rambutnya yang basah menyasar ke mata, sementara kumis sepuluh hari yang tidak dicukur membuat air hujan menetes ke mulut.  Ia sangat kedinginan dan merana sehingga tak memperhatikan bahwa deru sungai bertambah kuat.


Tiba-tiba ia jatuh.  Dasar sungai tersapu dari kakinya.  Ia diseret arus ke hilir.  Sekarang baru ia sadari betul arti bertambahnya deru sungai.  Tak salah lagi, itu bunyi air memecah di bebatuan.  Ya Tuhan, ia terseret ke air terjun!


Dicobanya berenang ke darat, tapi ransel yang terlalu besar dan menggembung menariknya turun sampai ia nyaris tenggelam.  Saat di bawah permukaan air dilepaskan tali di punggung hingga yang tinggal hanya tali yang melilit pinggang.  Ketika diangkat kepala, di depan dilihatnya air terjun.  Seperti orang gila ia berenang sampai berhasil mencengkram batu di dekat karang.  Batu itu licin dan diselubungi lumut licin, ia hampir terseret lagi.


Ia bisa melihat air terjun yang letaknya hampir di bawahnya.  Tingginya kurang-lebih dua puluh lima kaki, jatuhnya ditampung kolam yang terbentuk dari bebatuan di bawahnya.  Dengan sangat hati-hati ia menggeliat memanjat batu yang dipegang.  Berat ransel terus menyeretnya ke arah sungai.  Dilepaskannya satu tangan dari batu, mencoba meraih tali ransel.  Saat melengkungkan tubuh ke belakang, ia tercebur ke air.  Dadanya menghantam batu.  Dipikirnya ia bakal mati lemas.


Kakinya terjebak aliran arus, cepat-cepat dipegang batu kuat-kuat.  Jari-jari ditekankan dalam-dalam ke lumut.  Setelah berhasil keluar dari air, ia duduk di batu itu, beristirahat sebentar, masih dicekam ketakutan.  Akhirnya ia tarik ransel dari air dan kembali menggendongnya di punggung.

__ADS_1


__ADS_2