Dicintai Brondong Online

Dicintai Brondong Online
68. Tersesat di Hutan (17)


__ADS_3

Sungai berbelok.  Sia-sia saja Made menunggu ransel penyelamat ikut berbelok di belakangnya.  Benda itu pasti tersangkut.  Rakit besar juga tidak kelihatan.  Maka, setelah rakit penolong mendekati tepi sungai sebelah kanan, Made melompat ke darat.  Tak ada pilihan selain mengabaikan ransel dan rakit itu.


Kaki Made mendarat di air dekat tepi sungai.  Sungguh ajaib merasakan pasir di bawah kakinya.  Akhirnya ia bisa berdiri.  Ia terhuyung-huyung keluar dari air dipenuhi rasa tidak percaya.  Ia menjejak daratan berbatu-batu.  Tanah padat.  Ia masih hidup!


Beberapa saat kemudian napasnya kembali normal.  Lalu terpikirkan situasi sekarang.  Ransel penyelamat hilang entah kemana, tapi mungkin saja nanti akan muncul.  Siapa tahu arus akan membebaskannya kalau memang tersangkut.


Lalu, bagaimana dengan Rian?  Dia pasti menemukan Made.  Tadi Made lihat ia berlari ke arah yang ia tuju, jadi pasti bisa sampai ke sini hari ini juga, atau paling lambat besok.  Semua baik-baik saja, Made yakin.  Rian pasti menemukannya, lalu mereka sama-sama berjalan kaki.  Berapa jauh ya, jarak mereka sekarang?  Entahlah.  Berapa lama ia terombang-ambing di sungai?  Entah.  Mungkin dua puluh menit.  Memikirkan sungai membuat Made bergidik.


Hujan yang turun sejak tadi kini bertambah deras.  Tak ada gunanya lagi menunggu, lebih baik memanjat ke hutan untuk mencari tempat berteduh malam ini.  Ia merangkak memanjat dinding batu.  Setelah mencapai ketinggian sekitar lima belas kaki, dilayangkan pandang ke bawah.


Seketika ia diselimuti rasa gembira melihat rakit yang terjebak di antara beberapa batu di dekat pasir.  Rakit terangguk-angguk dan terombang-ambing pelan sekitar tiga ratus yard di hulu.  Ia bahkan bisa mendengar bunyinya setiap kali terbentur ke batu.  Mujur sekali!  Timbul pemikiran bawa ransel penyelamat juga mungkin terjebak di sekitar situ.


Cepat-cepat dituruni pinggir sungai, tapi kelokan sungai menghalangi pandangan.  Kecuali tempatnya berpijak, sungai ini sama sekali tak bertepi.  Tak mungkin ia sanggup mendatangi rakit dengan berjalan kaki, maka diputuskan mengarungi sungai sedekat mungkin ke tepinya, berusaha menentang arus dan bergerak ke hulu.


Ia berhasil maju beberapa kaki, tapi terpeleset jatuh seakan-akan dasar sungai ditarik dari bawah kakinya.  Ia ngeri setengah mati sehingga kembali ke darat.


Sekarang ia mesti bagaimana?  Kemarahan dan keputusasaan merambati seluruh tubuh.  Ransel itu sangat ia butuhkan.  Mungkin tempat itu bisa dicapai dengan jalan darat, tapi memanjat dinding batu bisa makan waktu berjam-jam.  Dihalaunya air mata yang hendak keluar.


“Jangan menangis.  Kau harus kuat.  Jangan menyerah.  Kau tipe orang yang berindak.  Ayo bangkit, lakukan apa yang harus dilakukan.”


Made maklum tak mungkin bisa mencapai rakit besar hari ini karena hari bertambah gelap sementara hujan terus turun.  Ia mulai memanjat lagi untuk mencari tempat berteduh sambil bersenandung.  “Orang yang bertindak, orang yang bertindak.”

__ADS_1


Masih bisa dilihat rakit yang terangguk-angguk di antara bebatuan.


“Tetaplah di sana sampai besok pagi.  Tolong, jangan ke mana-mana.”


*


Berimprovisasi membuat tempat berteduh ternyata bukan pekerjaan mudah.  Ia mencabut semak-semak kecil, mematahkan beberapa dahan pohon, menebas dedaunan, lalu menyeret semuanya ke satu gua kecil di lerang bukit berbatu.  Dedaunan ditebar di lantai, sedangkan dahan-dahan pohon ditumpuk di mulut gua sehingga membentuk semacam benteng.


Ia kelaparan berat karena sejak pagi belum makan apa-apa.  Di suatu tempat agak ke bawah lereng bukit dilihat tertentu.  Ia bisa makan jantung palem seperti yang pernah diajarkan Kiki.  Pohon kecil, tapi akarnya menghujam jauh ke dalam tanah.  Digali tanah di sekeliling pohon dengan tangan telanjang sampai akhirnya bisa mencabut pohon itu.


Jantung pohon terletak di bagian teratas.  Dengan batu besar dipukuli batang pohon sampai menemukan jantung lembut berwarna putih.  Gizi makanan ini sagat sedikit, tapi dikumpulkan setiap keping.


Pasti cuma khayalan Made.  Tidak, ia memang mendengar sesuatu.  Satu keluarga monyet.  Made gemetar ketakutan.  Kiki pernah memberi tahu bahwa di sekitar kawanan monyet selalu ada macan.


“Tuhan, izinkan Rian sampai ke tempat ini.”


Made memakai kaus biru pemberian Lili.  Made merangkak ke ceruk kecil yang sudah disamarkan.  Bebatuan yang menggores punggung tak separah rasa dingin yang menyerang.  Made basah kuyup, tak punya api atau apapun untuk menyelimuti tubuh agar hangat.


Dilepaskannya kain di leher dan melilitkannya di wajah.  Setidaknya kehangatan uap napas bisa memberi ilusi rasa nyaman.  Benaknya dipenuhi ketakutan, hewan buas, ular.  Bagaimana kalau ia tak berhasil menemukan ransel penyelamat?  Bagaimana kalau Rian tidak datang kemari?  Ia pasti dimakan binatang buas atau mati kelaparan.  Karena merasa putus asa dan kesepian, ia melompat keluar ceruk.


“Rian! Rian! Rian!”

__ADS_1


Riuh suara monyet-monyet terkutuk itu menyahuti.


Made kembali kabur masuk gua sambil sesengukan.  “Jangan menangis.  Tak boleh patah semangat.  Jadilah orang yang bertindak,” bujuk Made pada diri sendiri.


Keadaan sudah gelap.  Dilepasnya kain penutup wajah.  Ia tak bisa tidur, juga tak bisa mengenyahkan pikiran menakutkan di benaknya.


“Kiki, kenapa aku tidak mendengar kata-katamu?  Lili, kenapa aku kejam sekali padamu?  Sekarang aku menerima hukuman ini.”


Dalam hati Made bertekad, setelah pagi datang ia harus mencari Rian.  Mereka berdua pasti bisa mengatasi ini.  Setiap kali merasa putus harapan, dibisikkan mantra “Orang yang bertindak, orang yang bertindak.”


Entah dari mana didapatnya frasa ini, mungkin dari salah satu buku.  Dalam hati diulanginya terus: orang bertindak melakukan apa yang harus dilakukan, tidak takut, tidak cemas.  Tapi, bila didengar keretak dahan-dahan di luar ceruk, semboyannya tak lagi meneguhkan.  Ditahannya napas sambil menunggu bunyi keretak lenyap ke arah hutan.


Paginya suasana hati Made terasa lebih baik.  Disibaknya dahan-dahan lalu merangkak keluar.  Diteriakkan nama Rian beberapa kali, setelah itu ia memutuskan menjadi orang yang bertindak dan menilai situasi saat ini.  Sebagai permulaan, seratus persen ia yakin sudah melewati ngarai.  Ia masih ingat jelas gambaran Kiki, air terjun, aliran deras, karang raksasa yang menghadang sungai.


Betul, ia yakin itu tempatnya.  Tempat yang ditujunya pasti tak jauh lagi dari aliran itu, dan letaknya di pinggir sungai sebelah kanan yang sekarang dipijak.  Ada kemungkinan ia bisa sampai ke sana, di sana ada pondok dan peralatan mendulang emas.


Kiki bilang di sana ada kebun pisang.  Dari sana hanya butuh empat hari berjalan kaki untuk sampai, bahkan di sana mungkin saja ada jalan pintas lewat hutan.


Made izinkan dirinya merasa optimis.  Ia pasti bisa melakukannya.  Tak lebih dari satu hari berjalan kaki, bisa saja ada orang di sana.


Ia berkeliling mencari sesuatu untuk sarapan, sayang tak menemukan apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2