Dicintai Brondong Online

Dicintai Brondong Online
69. Tersesat di Hutan (18)


__ADS_3

Made putuskan mencari ransel sekali lagi.  Rasanya pantas menghabiskan waktu sehari penuh untuk mencarinya selama ada kemungkinan menemukan, meski sangat kecil.  Dalam ransel penyelamat ada makanan, korek api, peta, senter.  Kalau bisa menemukannya, ia akan selamat.


Tugas yang tak mudah.  Ia mulai berjalan menyusuri hulu sungai.  Perjalanan ini membawanya ke tebing-tebing bergerigi dan permukaan karang yang licin.  Ia naik selama dua jam, lalu turun lagi untuk melihat apakah mungkin mencapai daratan.


Dinding-dinding berbatu di sini terjal dan licin, beberapa kali ia terpeleset, untunglah jatuhnya ditampung pohon-pohon dan sesemakan.  Akhirnya, dari atas tebing yang menjulang setinggi lima puluh kaki dari permukaan sungai dilihatnya rakit besar masih terapung membentur-bentur karang.  Ia yakin ranselnya pasti berada tak jauh dari situ.


Di tempatnya berpijak pinggir sungai hanya berupa sebidang tanah sempit.  Tak ada pilihan selain mengambil resiko menuruninya perlahan-lahan sambil mencengkeram batu-batu tajam.  Ia melangkah sedikit-sedikit, kakinya meraba-raba mencari pijakan yang bisa menopang bobot tubuh.  Keringat dingin membanjiri sekujur tubuh.


Dalam hari ia berdoa, “Jangan sampai terpeleset, apalagi jatuh.”  Kalau sampai patah tangan atau kaki, kesempatannya langsung berakhir.  Terakhir kali memanjat karang, ia jatuh, tapi selamat berkat keajaiban.


Hujan sama sekali belum berhenti sejak kemarin.  Bebatuan dalam keadaan basah dan licin, tapi ia tetap memanjat.  Celanannya robek akibat tersangkut di pinggiran karang yang runcing, lututnya tergores-gores, jari-jarinya berdarah.  Nyeri di kedua kakinya luar biasa menyakitkan.


Bisa dipastikan ruam-ruam itu semakin menyebar di kaki yang kembali basah.  Setelah mencapai ketinggian sekitar sepuluh kaki dari daratan ia berbalik.  Dituruninya permukaan karang dengan meluncur sehingga punggungnya lecet-lecet, namun berhasil mendarat dengan selamat di pinggir sungai.  Ia mulai melompati bebatuan sambil mencari-cari, dan akhirnya mencapai rakit.


Sulit dipercaya, rakit masih dalam keadaan utuh.  Ketujuh gelondongan kayu masih bersatu.  Tetua adat memang menguasai bidangnya.  Kenapa sih, mereka tidak mendengarkan saran istrinya untuk tinggal saja di desa?


Sebelum mulai mencari ransel, diamankan rakit baik-baik, siapa tahu ia bisa bertemu Rian dan mereka bisa memanfaatkannya lagi.  Diedarkannya pandang menelusuri setiap celah dan bebatuan.  Di celah sebuah karang kecil sejauh kira-kira sepuluh yard, mendekam ranselnya yang berharga.  Basah kuyup, tapi tetap mengapung.


“Terima kasih Tuhan.”

__ADS_1


Tak apa kata pun bisa melukiskan kebahagiaannya.  Ia tertelungkup di batu, menjangkau ransel, dan buru-buru membukanya.  Isi ransel agak lembap, tapi semua masih utuh.  Kantong karet melindungi dengan sangat baik semua barang dalam ransel.  Beras dan kacang-kacangan, senter dan korek api, pemantik, peta, kawat nyamuk, perekat merah, obat-obatan, dan yang terpenting dompet berisi buku.  Sekarang ia merasa aman. Ia tak bakal mati.


Dibukanya kotak P3K, berharap menemukan minyak untuk kakinya.  Ternyata tidak ada.  Ditemukannya sebotol pil, sebagian di antaranya tidak bertanda.  Pil-pil ini muungkin nanti berguna.  Serum antibisa ular juga ada.


Isi ransel membuatnya merasa lebih lega.


“Di atas sana ada yang menyayangiku,” pikirnya.  “Tolong izinkan Rian menemukanku.”


Sebelum ini Made anggap kondisi Rian-lah yang terbaik dari mereka berdua, setidaknya dia punya parang, tapi sekarang ia orang yang berada sementara Rian orang yang membutuhkan karena hanya punya baju dan badan.


Rian yang malang tak punya apa-apa, dia pasti sangat membutuhkannya.  Made punya makan malam dan bisa membuat api.  Rian hanya perlu menemukan Made.  Tanpa Made, Rian tak mungkin bertahan.


Siapa tahu warnanya yang merah terang akan terlihat oleh Rian.  Matanya menangkap satu tebing terjal yang mencuat cukup mencolok di sungai.  Dipanjatnya tebing itu dan dibentangkannya tanda, memberatinya dengan batu-batu besar supaya tidak terbang ditiup angin.


Kembali diteriakkan nama Rian meski tahu usahanya sia-sia belaka.  Deru aliran sungai memekakan telinga, tak mungkin ada yang mendengar suaranya.


Dalam perjalanan ke tempat menyimpan ransel ditemukannya beberapa buah berwarna kuning tergeletak di pesisir sungai.  Ia berhenti untuk memungutnya.  Hampir semua sudah busuk, tapi masih ada satu yang masing segar dan keras.  Dimakannya segigit.  Rasanya lezat.  Saat tertengadah ditemukannya asal buah, sebatang pohon penuh buah liar berwarna kuning yang tumbuh di pinggir dinding batu.


“Seseorang benar-benar melindungiku,” pikirnya.

__ADS_1


Setelah mencari-cari jalan menuju pohon itu, ditemukan satu lekukan dangkal di permukaan karang, tempat air hujan mengalir dari gunung ke sungai.  Lekukannya dangkal dan licin, untung tanjakannya tidak terlalu curam.


Posisi Made tinggal beberapa langkah dari pohon itu saat melihat seekor ular hijau bergelung hanya beberapa inci dari kakinya.  Ia langsung mengenalinya sebagai ular lora yang mematikan.  Kiki pernah bilang, ular lora mampu membutakan korbannya dengan menyemburkan bisa dari jarak jauh.


Ia membeku di tempat.  Si ular juga bergeming, hanya lidahnya yang menjulur-julur keluar-masuk.  Separuh badan atasnya tegak.  a takut sekali bergerak, tapi rasa takut dan putus asa segera berubah menjadi kemarahan.


Ia mundur selangkah, memungut satu batu besar, dan melemparkannya ke arah lora.  Tubuh si ular berkedut lalu menebal seolah kejang.  Diraihnya satu batu kecil pipih, membungkuk, dan dengan marah memukuli ular itu sampai kepalanya terpisah dari badan.  Sekujur tubuhnya gemetaran saat menyadari bahwa seandainya sempat digigit, ia pasti mati.


Dikulitinya ular lora seperti pisang sampai tinggal daging yang berwarna agak merah muda.  Organ dalamnya dikeluarkan dengan satu congkelan jari.  Ia tertegun memeganginya.  “Harus kuapakan benda ini, dimakan atau dijadikan umpan?”  Dicampakkannya daging ular ke tepi sungai.  Made putuskan nanti saja, setelah ia turun.


Tiba di pinggir sungai diambilnya salah satu kaleng besar yang diikat di ransel.  Di dalam kaleng ada dua cangkir dan satu sendok.  Usai air sungai, dikumpulkannya buah liar.  Buah yang tidak dimakan disimpan di kaleng.


Ia tak lagi berkeinginan membuat makanan dari daging ular.  Lagi pula, ia tak bisa membuat api karena semua masih basah.  Jangan harap ia sudi menyantapnya mentah-mentah.  Ditemukannya tali pancing di ransel, tapi sungai ini terlalu berbatu-batu dan arus sungai terlalu bergolak untuk memancing.


Beberapa saat didudukinya ransel sambil menyandari tebing.  Hujan terus menampar tubuh.  Ia mulai mereka-reka, tak mungkin Rian melanjutkan perjalanan menyusuri pinggir sungai, jadi dia pasti naik ke langkan di atas dinding batu.  Mungkin sebaiknya ia juga naik ke langkan itu.  Usai melipat ponco yang sebelumnya direntangkan sebagai tanda, ia menyimpannya di ransel.  Kembali didakinya dinding yang mengarah ke pohon buah itu.


Sambil menyusuri langkan dicari-carinya celah yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat berteduh nanti malam.  Ditemukannya satu tempat ideal, ceruk dangkal yang membelah dinding batu, letaknya sekitar enam kaki dari permukaan tanah.


Dipanjatnya ceruk.  Karena sekarang punya korek api dan pemantik, sebetulnya ia ingin membuat api.  Sayang sekali gagasan itu harus dilupakan karena semua dahan dalam keadaan basah.

__ADS_1


__ADS_2