
Membujuk Lili membatalkan niatnya ternyata lumayan gampang. Lili belum menyerah mau menangkap ikan. Didatanginya Lili saat dia berusaha menangkap ikan kecil di tepi sungai.
“Kau betul, Li,” kata seseorang itu. “Dia memang berniat melanjutkan perjalanan naik rakit. Dia baru memberitahuku bahwa dia merasa sangat kecewa kalau harus begitu saja melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.”
“Dia berniat pergi sendiri?” tanya Lili kaget.
“Ya,” sahut orang itu. “Menurutku itu insting, cara yang bagus untuk mati, tapi dia memang keras kepala. Tak ada yang bisa mengubah tekadnya. Kalau ngotot pergi sendiri, dia tak punya peluang berhasil hidup-hidup, jadi satu dari kita harus menemani untuk menolongnya.”
“Hanya salah satu” tanya Lili. “Kenapa tidak kita berdua?”
“Sebenarnya aku juga tak keberatan melakukan perjalanan bersama Kiki. Aku sudah capek berjalan di hutan dan muak dengan sungai ini. Aku siap berjalan kaki, tapi seandainya tak ada pilihan lain, aku juga bersedia melanjutkan bersama dia. Berdua kami pasti bisa.”
“Aku tak berniat membiarkan dia bunuh diri. Sebetulnya, aku lebih suka kau yang pergi. Kakimu sakit, bagaimanapun lebih baik kau naik rakit daripada jalan kaki. Bagaimana kalau kau ikut dia sementara aku berjalan dengan Kiki?”
“Gaklah,” protes Lili. “Gue ga mau pergi berdua aja dengan dia. Lu kan udah lihat bagaimana dia memperlakukan gue. Maaf, gue pilih ikut Kiki.”
“Berarti akulah yang harus ikut dia.”
Semua beres.
Buru-buru dicarinya seseorang yang lain, dengan bangga menceritakan caranya menyetir Lili membuat keputusan sesuai rencana mereka. Seseorang yang lain itu tampak merenung.
“Jadi,” katanya kemudian, “sekarang waktunya kita buka kartu.”
Mereka mendatangi Kiki dan memberi tahu rencana melanjutkan perjalanan berdua saja. Bukan hanya bersikap wajar, Kiki bahkan tidak marah atau mencoba mengubah niat mereka. Dia hanya menunjukkan kekhawatiran dan memperingatkan bahaya yang mungkin mereka temui.
Seseorang yang lain bertanya tanpa tedeng aling-aling, “Ngarai itu mungkin dilewati atau tidak?”
“Sudah kuceritakan. Di kedua sisi sungai permukaan karang menjulang tegak lurus. Begitu sampai di sana, kalian tak mungkin berhenti karena arus akan langsung membawa kalian ke aliran maut.”
“Apa bahayanya? Tempat itu bisa dilewati atau tidak?” tanya seseorang itu.
__ADS_1
Kiki mencemooh perkataan itu. “Sama sekali tidak. Empat atlit pendayung terlatih sekalipun tak bakal mau mempertimbangkan mencobanya, sementara kalian cuma berdua. Itu namanya bunuh diri. Tempat itu dinamakan berbahaya karena alasan yang tepat. Siapapun yang memasuki daerah aliran boleh berharap bertemu langsung dengan penjaga gerbang akhirat.”
“Kok kau bisa tahu banyak?” tanya seseorang dengan curiga.
“Aku sudah pernah melihat orang melewatinya dari seseorang.”
“Ada tidak cara mengetahui di bagian mana kami harus mencari jalan itu dan seberapa jauh kami bisa lewat kalau naik rakit?”
“Kalau cuma berdua kalian tak bakal sanggup. Satu-satunya yang bisa kalian lakukan adalah berhenti sebelum mencapai ngarai dan meninggalkan rakit di sana. Bila berhasil melewati daerah aliran, kalian akan sampai. Saat ini tak ada satu orang pun di sana karena di akhir musim kemarau para penambang sudah pulang naik rakit.”
“Setiap tahun, sebelum pulang mereka menebang pohon dan meninggalkannya di sana supaya kering, sehingga siap digunakan untuk tahun depan. Sesampai di sana kalian tinggal mencari tali perekat dan membuat rakit kecil dari gelondongan yang sudah kering. Dari sana aliran sungai bagus dan mulus, kalian tak akan mendapat kesulitan.”
“Kalau kalian betul-betul membuat rakit, jangan lupa tebang beberapa pohon sebagai ganti gelondongan yang kalian ambil Bukan pekerjaan berat, dan tindakan itu dianggap wajar oleh penduduk desa. Seandainya berminat, kalian bisa mendulang emas, kalau dicari baik-baik, di sekitar situ pasti ada alat-alat menggali dan pendulang, ada kebun pisang bahkan kalian bisa memancing. Penambang meninggalkan semuanya di sana.”
Kesabaran seseorang yang lain menipis. “Kiki, langsung ke intinya. Bagaimana cara memastikan tempat yang tepat untuk berhenti sebelum masuk ngarai dan di sebelah mana kami harus mencari jalan itu?”
“Santailah bro.” Kiki tertawa. “Nanti harus kau awasi dia supaya tidak ngebut melampaui batas kecepatan di sungai.”
“Ini sungai. Dari sini perjalanannya sulit, tapi kalau memang siap ambil resiko naik rakit, kalian menghemat waktu dua hari jalan kaki. Mulut ngarai tak mungkin terlewat. Kalian akan melihat satu pulau besar penuh pohon tinggi tepat di tengah sungai.”
“Di kiri ada daratan sempit, di situlah kalian berhenti, Jangan sampai lupa. Begitu melihat pulau, mulailah menepi. Kalau sulit, berenang saja. Dalam keadaan apapun, jangan masuk ke bagian yang membahayakan.”
“Oke, jangan takut. Kami tak akan ke sana.”
“Jadi kami naik rakit sampai di pulau besar, di kiri sungai ada daratan. Jalannya ada di situ?”
“Tepat.”
“Berapa lama kami bisa mendekati ngarai?”
“Tergantung. Kira-kira dua hati kalau jalannya sudah ketemu, tapi bisa lebih lama kalau sudah penuh semak.”
__ADS_1
Seseorang yang lain berpikir beberapa saat, lalu berpaling pada temannya yang lain dan bertanya, “Menurutmu bagaimana?”
“Nenekku saja bisa melakukannya.”
Kiki dan seseorang yang lain mulai membagi peralatan mereka.
“Kalian butuh parang,” kata Kiki. “Kalau tidak, mustahil membuat rakit. Mungkin kami akan kesulitan menerobos hutan tanpa parang, tapi bisa kami akali dengan pisau. Sementara soal senapan, kalian perlu…”
“Kalian saja yang ambil senapan dan pelurunya, kami tak akan membutuhkannya,” sela seseorang yang lain. “Kami pasti tak punya waktu berburu, jadi kami ambil tali pancing dan kail. Lagi pula peluru bisa basah di sungai.”
“Baik,” sambut Kiki setuju. “karena kami dapat senapan kalian boleh membawa pergi sebagian besar makanan. Aku yakin kami bisa dapat banyak buruan. Bawa juga nilon supaya peralatan kalian tetap kering. Karena tidak mungkin membuat tenda tanpa parang, kami ambil tenda kecil itu,” tutup Kiki.
Kiki dan seseorang yang lain itu mencoba merasakan kondisi sungai. Dia berenang ke hilir lalu kembali dengan berjalan kaki lewat hutan.
“Tidak terlalu bagus,” katanya. “Seperempat mil ke hilir sudah terasa aliran berbahaya. Kuharap kita tidak dapat masalah sewaktu melewatinya nanti.”
“Gampang,” kata seseorang yang lain. “Kalau mau bertualang, kita nikmati dengan cara yang benar.”
“Jangan konyol,” bentak temannya. “Aku tak berniat menghadapi resiko yang tidak perlu. Aku tahu sungai bisa sangat bahaya. Di rakit nanti, dengarkan dan turuti kata-kataku.”
“Ternyata aku menggantikan satu tiran dengan tiran lain,” kata Lili dalam hati, walaupun tahu seseorang benar. Lili memang bersikap konyol, tapi itu semata untuk menyembunyikan ketakutannya.
Kiki bangun duluan seperti biasa lalu membangunkan mereka bertiga karena ingin memulai perjalanan pagi-pagi.
Suasana dipenuhi ketegangan. Lili sibuk mengurus ransel-ransel. Kiki bergurau sedikit, mencoba memompa semangatnya, tapi tak banyak membuahkan hasil. Akhirnya mereka siap, masing-masing menggendong ransel. Di ikat pinggang Kiki tergantung senapan dan pisau sebagai ganti parang yang diberikannya pada mereka.
“Nah, selesai sudah. Waktunya kami pergi,” kata Kiki. “Aku lebih memilih menempuh pinggir sungai yang berlawanan. Maukah kalian berbaik hati menyeberangkan kami dengan rakit supaya kaki Lili tidak basah?”
“Memang itu harapanku,” kata Kiki. “Selama kakiku kering, aku sanggup jalan. Kalau basah lagi, kulitnya pasti terkelupas.”
Setelah menurunkan Kiki dan Lili di pinggir sungai, mereka pun berjabatan tangan. Dengan bercanda Kiki mengatakan dia berharap mereka tidak jadi umpan ikan besok. Dia sempat memberikan peringatan terakhir.
__ADS_1