
Lili merasa diperlukan. Kiki bilang begitu karena Lili yang menembaknya. Seandainya dia sendiri yang menembaknya, pasti Kiki akan bilang burung itu sangat lezat.
Unggas buruan Lili tetap disajikan untuk makan malam, tapi tak seorangpun menyentuhnya. Sedih hati Lili memikirkan burung indah yang nyawanya dihabisi tanpa memberi manfaat apa-apa. Segumpal besar rasa frustasi mengganjal leher dan dirasai air mata Lili menggenang.
Hal aneh terjadi beberapa hari kemudian. Lili yang merasa kondisinya semakin baik dan mendapat dukungan semangat dari Kiki, secara mengejutkan berubah pikiran. Dia memutuskan ikut naik rakit bersama Kiki.
“Kenapa kamu berubah pikiran,” tanya seseorang yang ikut dalam rombongan. “Seharusnya kamu tidak naik rakit. Kondisimu tidak sehat, kakimu meradang.”
Lili bersikeras ingin ikut. “Gue memulainya bareng Kiki, akan gue selesaikan juga bareng Kiki,” ucap Lili.
“Sebenarnya kamu mau membuktikan apa sih? Aku sama sekali ga mengerti sikapmu.” Kiki gusar dan Lili bergeming.
Ketegangan tidak mereda. Esoknya kembali terjadi peristiwa tak menyenangkan. Lili dan Kiki pergi memeriksa kelanjutan pembuatan rakit. Tak lama adik ipar tetua adat datang ke gubuk mereka.
“Tuan-tuan itu minta kalian melihat rakit,” kata orang itu.
“Untuk apa?” tanya Lili. “Kami sudah melihatnya.”
“Rakitnya sudah selesai. Mereka bilang kalian harus lihat.”
“Bilang saja kami percaya sepenuhnya penilaian mereka,” ketus Lili jengkel tanpa mengalihkan mata dari bukunya.
Lili jelaskan pada orang itu bahwa mereka sudah melihat rakit itu. Kalau Kiki dan Lili tidak butuh pertolongan, hanya mau mereka pergi melihat benda itu. Mereka lebih suka beristirahat saja di gubuk.
Setengah jam kemudian seseorang muncul. “Kalian kenapa, kok tidak mau datang ke sungai?”
__ADS_1
“Untuk apa?” tanya Lili.
“Kita harus mengecek daya apung rakit dengan menaikinya bersama. Ditambah dua orang lagi untuk mewakili berat perbekalan dan alat-alat kita,” jelas orang itu.
Lili pun minta maaf. “Kami ga mengerti laporan anak itu. Dia ga bilang kalian butuh kami.”
“Ga apa-apa, bukan masalah besar.” Kiki mengulas senyum bersahabat.
Mereka bertiga jalan kaki menuju sungai untuk menaiki rakit. Warna batangan-batangan kayu kini sedikit lebih pucat dari tempo hari, tapi masih hijau. Rakit itu ternyata berat sehingga melesak terlalu dalam ke air dan susah dikendalikan.
“Ga bagus,” kata tetua adat. “Kalian terpaksa menunggu lagi.”
“Waktuku ga banyak,” kata Kiki dengan kerisauan tak tersembunyikan. “Mungkin kami ga punya pilihan selain jalan kaki.”
“Ada alternatif lain,” kata tetua adat. “Di sisi lain desa kami, tetangga saudara laki-lakiku punya empat batang kayu yang besar dan kering. Coba temui dia. Kalau dia mau menjual semua kayu itu, tinggal kita tambahkan dua batang kering di masing-masing sisi rakit ini. Hasilnya pasti jauh berbeda.”
Usai makan malam Lili usulkan agar mereka berdua berjalan kaki ke luar desa, ke tanah lapang luas berumput tempat kuda-kuda merumput. Lili suka duduk di sebatang pohon tumbang di situ sambil memandangi kuda-kuda, memperhatikan seekor kuda istimewa yang kuat berotot dan gagah.
Setiap malam Lili ke sana sendirian, tanpa menceritakan tempat ini sekalipun pada Kiki. Duduk menikmati kesunyian di batang kayu sambil menyanyi kuat-kuat.
Lili dan Kiki duduk di kayu. Susah untuk memulai percakapan, tapi akhirnya percakapan itu pun dimulai.
“Kirain kita ga akan saling bicara lagi selamanya,” kata Lili. “Seringkali gue pingin bicara dengan lu, tapi elu selalu jauh. Setiap kali gue coba mendekati lu selama perjalanan, lu buru-buru terus entah ngapain. Gue selalu berusaha bergabung buat membantu tapi lu gak mengacuhkan gue.”
“Gue terpaksa menempeli Kiki sepanjang hari, mendengarkan cerita-cerita tololnya. Karena, tak punya teman lain. Gue ingin bertanya langsung sama lu, apa yang sebenarnya terjadi, sayang lu terus menolak gue.”
__ADS_1
“Lu ingat malam waktu cuma tinggal kita berdua di api unggun? Saat itu gue berniat bicara, tapi elu malah masuk tenda. Gue terus di luar, berharap lu mengerti dan keluar lagi. Rupanya pikiran gue salah.”
“Perjalanan ini bencana besar buat gue. Gue merana, sama sekali tidak menikmatinya.”
“Kayanya betul sih. Ada yang berubah meski aku ga tahu apa itu. Ga ada pemicu khusus, hubungan kita merenggang begitu aja, ga sama seperti dulu. Mungkin sikapku kasar dan ga sopan. Sementara kamu merasa ga tenang di hutan.”
Lili menangis pelan, seluruh tubuhnya gemetaran. Untuk pertama sejak mereka melakukan perjalanan ini, timbul rasa kasihan. Lili tak lagi senang melihat Kiki jauh darinya. Kini Lili paham bertapa penting keberadaan Kiki untuknya.
“Dengar, Mbak. Mari kita berteman lagi seperti dulu. Entah apa yang merasuki kita di hutan ini. Kita akan kembali ke kota. Semua pasti baik-baik aja. Sungguh ga benar kalau aku mengabaikanmu. Ayo kumpulkan keping-keping persahabatan kita dan berteman lagi.”
Kata demi kata mengalir. Mungkin Lili berhasil membuat mereka kembali bersuasana caria, tapi mereka tak akan pernah seakrab dulu lagi. Hari itu mereka memang bicara, tapi terkesan dipaksakan dan tidak alami.
Waktu berlalu. Kiki dan rombongan membeli empat gelondongan kayu yang kering. Kiki dan rombongan menyeberangi desa untuk menjemput keempat kayu itu, mengapungkannya ke sungai. Mereka basah kuyup saat kembali.
Lili dan Kiki pergi untuk memotong lebih banyak lagi tali dari kulit pohon dan menyambungnya menjadi tali-temali panjang untuk mengikat batang tambahan ke rakit, sehingga ukurannya lebih lebar dan lebih mengapung.
Tetua adat memberi tahu bahwa rakit sudah aman digunakan. Mereka putuskan berangkat esoknya.
Mereka terus bekerja sampai siang. Kiki membuat panggung tinggi di tengah-tengah rakit. Besok pagi mereka mengikatkan persediaan makanan dan semua peralatan ke panggung itu, menutupinya dengan lembaran nilon supaya tetap kering.
Malam terakhir di desa itu, mereka kumpulkan semua bawaan. Mereka hanya punya beras kacang kering, setandan besar pisang raja, membawa serta bahan makanan yang dikumpulkan beberapa hari terakhir.
Mereka membayar barang-barang ini dengan macam hadiah, sesuai pilihan si pemberi. Penanggung jawab urusan keuangan adalah Kiki dan dua melakukan banyak kesalahan. Kiki menjual hampir semua gulungan benang pancing sampai sisanya sampai sedikit.
Malam itu mereka menikmati jamuan makanan perpisahan. Tetua adat meminjam senapan dan berhasil menembak babi hutan yang sangat besar. Saat mereka mau membayar harga rakit, makanan dan upah istrinya, tetua adat meminta bayaran hanya sedikit.
__ADS_1
Tetua adat tak menghendaki bayaran atas makanan yang mereka santap di rumahnya, semua ayam yang disembelih khusus untuk mereka. Sayuran segar yang mereka nikmati setiap hari, hewan buruan yang ditangkap keluarganya, juga sedemikian banyak minumannya.