Dicintai Brondong Online

Dicintai Brondong Online
31. Hujan Buatan


__ADS_3

Setelah berjam-jam berjibaku dengan pekerjaan di kantor, Lili pun me-refresh-kan diri dengan melakukan janji temu bersama Kiki.


Akhir-akhir ini pemuda itu mampu membuat hari-hari Lili menjadi ceria. Sepertinya kedekatan mereka berdua menjadi candu tersendiri bagi Lili. Dan yang paling mengesankan adalah kini Lili mulai nyaman dengan panggilan 'sayang' oleh Kiki. Padahal, status mereka tidak berpacaran.


Namun, sering kali nama Kiki disebut-sebut sebagai pacar ketika Lili sedang bersama Victor. Apakah Lili memang nyaman dengan status 'seolah-olah pacar' dengan Kiki, ataukah kedekatannya itu hanya dijadikan tameng pencegah ketika Victor mendekat?


Biarkan waktu yang menjawab. Dalam hal ini Lili yang biasanya adalah seorang perempuan pekerja keras yang tegas, tiba-tiba berubah menjadi putri raja yang malu-malu.


Siang ini Lili dijemput oleh Kiki di halaman kantornya untuk menuju tempat mereka makan siang. Seperti biasa, Kiki memboncengnya dengan motor berbodi besar. Walaupun tempat mereka makan tidak terlalu jauh, berboncengan di atas motor merupakan cara mereka bersenang-senang.


Victor menangkap kebersamaan mereka di depan matanya. Ia menunjukkan raut wajah ketidaksukaan.


"Harusnya gue yang ngedapatin Lili, bukan bocah ingusan itu," gerutu Victor.


Victor pun mengikuti mereka berdua pergi dengan menggunakan mobilnya. Ia mengikuti sampai ke tempat makan. Bahkan, Victor ada di sana dan turut memesan makanan. Ia duduk di tempat yang tidak terlihat oleh Lili dan Kiki, tapi cukup leluasa untuk memperhatikan mereka berdua.


Restoran itu bertajuk outdoor, cukup rindang dengan pepohonan di sekitarnya dan gazebo berpayung di masing-masing mejanya.


Setelah beberapa saat mereka pun sama-sama menikmati makanan dan minuman yang mereka pesan. Victor pun juga, karena ia sudah cukup lapar.


Victor makan dengan terburu-buru, terlihat tidak menikmati makanannya. Sebab waktunya ia habiskan untuk memperhatikan Lili dan Kiki sekaligus menelepon seseorang dan mengotak-atik ponselnya.


"Gue perhatiin dari tadi mereka kerjaannya cuma ketawa-ketawa doang. Ga ada romantis-romantisnya. Katanya pacaran? Atau apakah ini gaya berpacaran yang Lili suka?" gerutu Victor.


Setelah usai makan siang, terlihat Kiki memanggil pelayan dan menyelesaikan bill yang diantarkan. Sementara itu, Victor tampak menelepon.


Tak lama kemudian, hujan pun turun. Hujan yang sangat tiba-tiba di tengah cuaca yang cerah. Lili dan Kiki pun terjebak hujan dan hanya berdiam di naungan gazebo saja.


Victor pun datang dengan membawa payung. Ia datang seperti seorang pahlawan kesiangan yang menawari Lili tumpangan.


"Li," sapa Victor.

__ADS_1


"Lu ada di sini? Ngapain?" tanya Lili.


"Gue kebetulan makan siang di sini terus gue lihat elu. Yuk balik ke kantor sama gue? Itu mobil gue di sana, ga jauh kok parkirnya. Jalan kaki sebentar pakai payung ga apa-apa lah," tawar Victor.


"Lu ga lihat gue lagi sama pacar gue?" ucap Lili. "Lagian, lu rajin amat sedia payung gitu. Aneh," lanjut Lili.


"Oh, hai, pacarnya Lili. Ketemu lagi," sapa Victor.


"Ya, Bang," sahut Kiki.


"Ini payung punya pelayan sini tadi gue beli. Oh iya, kita kan ada urusan penting yang harus kita selesaikan, itu terkait projek di Bali. Jadi, jangan sampai lu telat masuk gara-gara hujan kaya gini," ucap Victor.


"Say, kayanya ide bagus kalau kamu balik ke kantor sama abang ini. Soalnya, kan tadi kita ke sini naik motor. Ga mungkin dong kamu naik motor hujan-hujanan ke kantornya?" ucap Kiki.


Lili melotot kepada Kiki dengan lengkung bibir yang geram.


"Nah, pacar lu aja udah ngijinin. Yuk lah, kita berangkat lagi ke kantor," ajak Victor.


"Nunggu sebentar lagi aja. Sebentaaar lagi. Siapa tahu sebentar lagi reda jadi gue bisa balik sama Kiki," ucap Lili.


"Iya, Say. Ga apa-apa kok. Kamu buruan balik ke kantor sama abang ini. Nanti kita ketemu lagi sorean, saya bakal jemput kamu pulang," ucap Kiki untuk menghibur Lili.


"Ih ga mau... Sekarang maunya sama kamu aja," ucap Lili manja.


"Eh, eh... " Kiki memegang kepala Lili dengan kedua telapak tangannya. Ia berbicara sambil menatap mata Lili. "Katanya jadi orang yang profesional? Kok jadi mendadak bucin dan lupa sama kewajiban di kantor?" lanjut Kiki.


"Hehe... itu... " ucap Lili ragu-ragu sambil menggaruk kepalanya.


"Udah, ayo. Keburu kelamaan nih kita baliknya," ucap Victor.


Atas bujukan Kiki, Lili pun berjalan meninggalkan Kiki. Lili berjalan di bawah naungan payung yang sama dengan Victor.

__ADS_1


Lili pun lalu masuk ke dalam mobil sedan Victor dan mobil pun melaju meninggalkan Kiki di tempat itu.


Setelah mobil itu tidak lagi nampak dari pandangan tiba-tiba hujan berhenti. Tak lama kemudian lewatlah sebuah mobil pemadam kebakaran.


Perhatian Kiki tercurah di mobil pemadam kebakaran tersebut. Ia memandangnya dengan heran.


"Jangan-jangan, jangan-jangan ini hanya akal-akalan si Victor brengsek itu! Dia bisa saja membayar tim pemadam kebakaran untuk membuat hujan tiruan dengan menggunakan peralatan mereka," gerutu Kiki.


"K*mpret... Gue kalah, gue dicurangin. Sekarang cewek gue jadi jalan bareng sama si K*mpret itu, lagi!" lanjut Kiki.


Sementara di dalam mobil Victor, ia mengajak Lili mengobrol.


"Li, kenapa sih lu bisa suka sama cowok tadi? Emang selera lu kaya gitu atau ada alasan lain?" tanya Victor.


"Alasan lain gimana maksud lu? Gue naksir tu cowok ya naksir aja. Gue ga butuh alasan apapun. Yang penting gue nyaman sama dia, kami selalu nyambung, ya udah gitu aja," ucap Lili.


"Gue ga sama kaya lu yang menjalin hubungan kebanyakan karena ada asas kepentingan doang," ucap Lili.


"Hahaha... Menjalin hubungan karena ada asa kepentingan? Lu pede banget, merasa paling kenal sama gue. Jangan-jangan selain merasa paling kenal lu juga ngerasa paling memiliki gue, lagi?" goda Victor.


"Idih, amit-amit deh," jawab Lili.


"Gue bilangin ya sama lu, di usia sekarang bukan lagi waktunya buat pacaran karena haha-hihi doang, Li. Umur lu udah berapa, masa lu mau kelamaan nikah gara-gara kebanyakan main-main kaya gini?" ucap Victor.


"Ih, sok tahu banget. Gue beneran menjalin hubungan dengan Kiki, bukan sekedar cinta-cinta monyet doang, Tor," protes Lili.


"Elu yang merasa bener-bener, tapi dianya gimana? Gue tahu tipe-tipe pemuda serabutan kaya dia, Li. Untuk kebutuhan diri sendiri aja orang kaya gitu udah pas-pasan, gimana mau ngumpulin uang untuk menikah!" tegas Victor.


"Ga usah nyeramahin gue, lu bukan ustadz!" selah Lili.


"Gue bukan cuma lagi nyeramahin lu, tp gue pingin lu tahu kalau gue siap menjalin hubungan sama lu dengan berorientasi pada pernikahan. Serius gue, Li. Ga kaya bocah ingusan itu yang cuma bisa membuat lu menunggu sampai memble," jelas Victor.

__ADS_1


"Hahaha... menikah," gerutu Lili sambil terkekeh kecil.


"Iya, menikah. Ada masalah?" tanya Victor.


__ADS_2