
Lili berangkat ke kantor bersama Victor. Victor kini dirasakan punya sikap yang berbeda. Ia lebih sopan dan perhatian. Hal itu membuat Lili sedikit lebih melunakkan hatinya untuk Victor. Bagi Lili, mungkin tidak ada salahnya apabila berteman dengan Victor.
Beberapa waktu berlalu, mereka pun sampai di kantor. Seperti biasa, mengawali pekerjaan mereka, para karyawan dan atasan mereka melakukan briefing pagi. Semacam apel singkat untuk menyampaikan pencapaian dan target harian mereka.
Melalui briefing tersebut disebutkan bahwa hari ini Lili dikhususkan untuk mengerjakan tugas perbantuan di departemen lain. Ia akan bergabung di sebuah tim baru.
Lili tidak perlu melakukan penyesuaian diri, sebab ia sudah banyak mengenal karakter orang-orang di kantornya itu. Sedikit banyaknya Lili sudah kenal dengan banyak karyawan.
Meskipun Lili kerap kali menyendiri ketika break atau istirahat kerja, ia adalah seorang profesional yang banyak melalukan koordinasi untuk urusan pekerjaannya. Sehingga, di mana pun Lili ditempatkan, ia akan dengan mudah berbaur untuk mengerjakan pekerjaan tim.
*
Setelah beberapa waktu Lili bekerja di departemen lain...
"Oke, Bu Lili siap ya, besok Bu Lili akan berangkat menjadi utusan perusahaan kita melakukan koordinasi di Bali," ucap salah satu pimpinan.
"Iya, Pak. Saya dan tim sudah melakukan penelusuran terkait selisih data yang diberikan pihak klien kita di Bali. Nanti, untuk rinciannya akan kami sajikan ke Bapak dan gambaran alternatif yang bisa kita ajukan ke mereka, Pak," ucap Lili.
"Bagus sekali. Kerja yang cepat. Kalau begitu Bu Lili akan saya tunggu di ruangan saya paling lambat sebelum coffee break sore ya," ucap pimpinan tersebut.
"Baik Pak," jawab Lili.
*
Sementara di tempat lain...
"Ternyata seperti itu masalahnya. Pantas saja, walaupun dia tetap profesional dalam bekerja, gue tahu betul sedang ada beban tertentu yang Lili pendam," ucap Victor sambil menghisap rokoknya.
__ADS_1
Victor duduk di sebuah cafe terbuka bersama seseorang. Di meja itu ada dua buah cangkir berisi kopi dengan varian berbeda.
"Sekarang gue paham dengan yang terjadi waktu itu. Mungkin kalau gue ada di posisi itu, hal yang sama akan terjadi. Mungkin ga akan beda jauh dengan apa yang udah lu lakuin," lanjut Victor.
"Gue nemuin lu sekarang karena gue sayang banget sama tu cewek. Gue rela ngelakuin apapun," ucap Victor sambil membuka sedikit jasnya yang berisi pistol untuk menunjukkannya sebentar.
"Gue mau supaya lu jadi mata dan tangan gue. Jangan sampai doi kenapa-kenapa di sana. Dan kalau sampai lu berbuat macam-macam, keluar dari apa yang gue instruksikan, gue ga akan melepaskan lu sampai kapanpun," ucap Victor.
*
Hari ini aktivitas di kantor Lili berakhir. Lili pulang tanpa diantar oleh Victor, karena Lili bersikeras menolaknya. Bagi Lili, berasa di kendaraan umum lalu melanjutkan dengan berjalan kaki sore itu jauh lebih menyenangkan dibandingkan duduk diam di mobil bersama Victor.
Lili kembali melepas penatnya dengan kesegaran suasana sore hari. Kini ia mulai familiar di mata orang-orang yang sering Lili lewati saat berjalan kaki di komplek perumahan itu.
"Baru pulang ya Kak?" sapa seorang remaja yang tengah bermain dengan anak-anak kecil di tepi jalan.
"Saya sedang mengajarkan adik-adik ini bermain ular-ularan, Kak. Ada tugas di kelas saya untuk menerapkan permainan ini di lingkungan. Oh iya, boleh saya minta tolong Kakak videokan?" ucap remaja itu.
"Tentu boleh. Kemarikan ponselnya," ucap Lili. Lili pun membantu remaja itu untuk mendokumentasikan momen ceria itu.
Sebenarnya tidak hanya mengabadikan momen itu di gambar dalam ponsel, Lili pun ikut menikmatinya dan hal semenyenangkan ini mungkin akan terus teringat di pikiran Lili. Hidupnya sudah terlalu sendu, jadi momen ini adalah momen langka yang sangat ia nanti-nantikan.
"Sudah Kak? Coba saya lihat? Wah, Kakak pas banget ngambil angle-nya. Terima kasih ya Kak?" ucap remaja itu.
"Kakak cantik sepeti bidadari," ucap salah seorang di antara anak-anak itu.
"Masa sih?" ucap Lili sumringah sambil mengelus kepala anak tersebut.
__ADS_1
"Kakak Bidadari ayo ikutan main," ajak anak yang lain.
Lili pun bermain bersama anak-anak itu. Ia memegang pundak anak-anak di barisan paling belakang. Mereka berbaris memanjang seperti ular lalu melalui dua pasang jalinan tangan yang membentuk gapura.
Anak-anak selalu tertawa melihat Lili kesulitan melaluinya. Ia sering tersangkut karena gapura buatan itu terlalu rendah bagi Lili.
Sore itu suasana begitu ceria. Beberapa orang dewasa yang lewat sampai ikut senyum-senyum sendiri melihat keriangan Lili dan teman-teman kecilnya. Selain itu, karena Lili memang seorang perempuan yang cantik sehingga mampu menarik perhatian siapapun yang melewatinya.
Permainan itu berlangsung beberapa waktu, kemudian salah satu orang tua dari anak-anak tersebut datang.
"Besok lagi ya mainnya. Sekarang hari sudah hampir gelap, Nina mau pulang. Mau mandi," ucap seorang ibu dengan suara lembutnya dan senyuman hangatnya.
Mereka pun lalu membubarkan diri.
"Asik banget mainnya. Aku besok ga mau main game di hp lagi. Enakan main ular-ularan sama teman-teman," ucap salah satu anak kepada temannya sambil berjalan pulang.
Lili memperhatikan mereka sebelum ikut pergi.
Anak-anak jaman sekarang memang jarang bermain bersama di luar rumah seperti ini. Mereka lebih sering ditemukan sedang bermain game saja. Kalau pun tengah berkumpul, mereka akan sibuk dengan ponsel masing-masing. Walaupun ada yang sama-sama bermain tapi tetap tidak meninggalkan ponselnya. Juga ada yang berjoget-joget bersama lalu mengunggahnya di media sosial.
Lili memikirkannya sambil berjalan kaki menuju apartemennya. Bisa saja yang menjadi pendengar di siarannya itu ada juga yang merupakan anak-anak. Siapa yang tahu? Karena pendengar ada yang hanya pasif tanpa berinteraksi dan tidak diketahui siapa di balik akun yang sedang join di dalam siaran.
Kalau benar begitu, berarti Lili pun sudah ikut mendorong anak-anak menyentuh dunia romansa. Karena, puisi-puisi yang biasa dibawakan di siaran Lili kebanyakan adalah puisi-puisi tentang percintaan.
Lili memandang kanopi pohon tepi jalan yang bergerak karena tertiup angin. Ia juga melihat kupu-kupu lewat di antara pucuk-pucuk tanaman. Pandangan Lili juga ia tujukan ke langit. Di sana ada awan putih dengan berbagai bentuk dengan lamban berarakan. Awan-awan itu bisa jadi apa saja yang orang-orang imajinasikan.
"Ada hal-hal indah lainnya selain percintaan orang dewasa. Interaksi apa yang ada di alam sebenarnya tidak kalah puitis dibandingkan puisi-puisi percintaan," gumam Lili.
__ADS_1