
Saatnya kembali ke kota. Sebab, urusan Lili di desa ini telah selesai.
Victor dengan menggunakan mobil telah datang ke depan kediaman pakde Lili. Lili pun berpamitan disusul oleh Kiki.
Rupanya mobil MPV yang bawa Victor berisi ponakan dan teman-temannya. Semua kursi telah penuh, kecuali tersisa kursi bagian depan di samping pengemudi saja.
Melihat itu, Kiki tidak mungkin bisa ikut menumpang di mobil Victor. Melihat itu, Lili melayangkan pandangan simpati kepada Kiki. Kiki hanya tersenyum sembari mengangguk. Ia mengisyaratkan bahwa dirinya tidak masalah apabila pulang dengan kendaraan lain.
"Pokoknya kalau lu sudah sampai di rumah, lu wajib kabarin gue!" ucap Lili kepada Kiki melalui jendela mobil.
"Iya, cantik. Tenang aja. Oh, ya, Bang.. Lu hati-hati ya bawa mobilnya. Jagain cewek gue jangan sampai lecet sedikitpun," ucap Kiki.
"Santai Bre. Lagian Lili memang udah lecet duluan tuh kakinya," ucap Victor ketus.
"Bukan itu maksud gue!" ucap Kiki kesal.
"Sudah, sudah. Kalian kenapa sih? Kaya anak kecil tahu ga!" ucap Lili menengahi.
"Ya udah, gue berangkat dulu ya Ki," ucap Lili. Lili juga pamit kepada bude dan pakdenya. Mereka pun pergi.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Victor tersenyum sendiri karena senang bisa duduk berdekatan dengan Lili seperti ini.
"Udah lama ya kita ga bareng-bareng kaya gini," ucap Victor berbasa-basi.
"Halah, biasanya juga bareng terus di kantor. Gue aja sampai bosan," jawab Lili.
"Maksud gue bareng yang bukan karena pekerjaan. Ya, bareng kaya sekarang. Anggap aja kita lagi healing bareng dari kerjaan. Semacam ethnic run away gitu," ucap Victor.
"Elu aja, gue ogah," ucap Lili ketus.
Mobil pun tiba di perbatasan daerah. Terlihat gapura batas daerah di depan. Mobil Victor pun menepi. Orang-orang yang menumpang di mobil Victor pun turun semua, terkecuali Lili dan Victor.
"Loh? Kalian mau kemana? Kok pada turun?" tanya Lili heran.
Orang-orang tersebut tidak menjawab. Beberapa di antaranya hanya mengucapkan terima kasih kepada Victor.
Lili pun melotot kepada Victor. "Maksudnya apa ini, Tor?"
"Maksudnya ya mereka mau balik ke rumah masing-masing," ucap Victor dengan senyuman licik.
__ADS_1
"Tapi ini masih belum keluar daerah. Boro-boro masuk ke kota! Lu abis ngakal-ngakalin gue dan Kiki ya? Ngaku lu!" protes Lili.
Victor hanya tersenyum licik sembari melajukan mobilnya.
"Jawab gue, Victor!" pinta Lili.
"Iya... Lu benar. Tebakan lu benar. Gue ga suka lu bareng-bareng bocah tadi. Mau lu sebut dia pacar lu kek, gue ga peduli. Gue yakin lu bisa baca situasi ini," ucap Victor.
"Lu suka sama gue? Tapi bukan kaya gini caranya, Victor!" protes Lili.
"Tenang aja, Tuan Putri. Lu ga bakal gue culik kok. Lu bakal gue anterin sampe apartemen lu dengan aman. Santai aja," ucap Victor.
"Awas aja kalau lu macam-macam sama gue," ucap Lili dengan suara merendah sambil membuang muka. Ia memandangi ke luar jendela yang ada di sampingnya.
Waktu terus berlalu. Victor berkali-kali mengajak Lili mengobrol, tapi Lili sangat jelas bahwa ia sama sekali tidak menginginkannya.
Tak kehabisan akal, Victor pun mencoba mengambil hati Lili dengan memutarkan lagu-lagu kesukaan Lili.
"Sebentar, lu pasti suka sama lagu ini," dan Victor pun menekan music player di dashboardnya.
Lili hanya mendelik kepada Victor sebentar. Ia heran darimana Victor tahu lagi kesukaannya.
"Gue tahu selera musik lu yang groovy-groovy kaya gini karena gue beberapa kali merhatiin lu mutar musik di pantry sendirian," jelas Victor.
"Jadi tenang aja, gue bukan dukun kok," lanjutnya.
"Dasar pengutit," ucap Lili.
Lili lalu menekan-nekan tombol music player itu. Ia merubahnya ke mode radio kemudian mencari musik lainnya. Akhirnya terpilihlah sebuah musik cadas, lagu dengan vocal Scream dengan musik berisik tidak karuan bagi Lili.
Sebenarnya Lili tidak menyukai tipe musik seperti ini. Kepalanya sakit bila mendengarkannya. Tapi, kali ini Lili ingin memilih musik metal ini saja. Kalau bisa justru ia ingin pingsan tiba-tiba agar tidak merasakan berduaan dengan Victor. Namun, sayang Lili tidak pingsan-pingsan juga.
Victor mengerutkan dahi dan berulang-ulang melirik ekspresi wajah Lili. Ia tidak menyangka Lili mendengarkan musik seperti ini.
Tak tahan dengan apa yang sedang didengarkannya, akhirnya Victor mematikan music player tersebut.
"Kayanya lebih baik kalau ga usah pakai musik-musikan," ucap Victor.
Lili hanya diam saja. Namun, sebenarnya ia merasa lega karena tak harus mendengarkan musik yang membuatnya sakit kepala itu. Bukannya pingsan, ia malah menderita sakit kepala.
__ADS_1
*
Waktu bergulir. Lili dan Victor sudah memasuki kota tempat tinggal mereka.
"Anterin gue ke tempat Celine aja," pinta Lili.
"Loh, ga ke apartmen lu?" tanya Victor.
"Enggak," jawab Lili.
"Loh, kenapa?" tanya Victor.
"Banyak bacot ya lu, Tor. Gue bilang anterin gue ke sana ya lu cukup anterin aja. Kenapa kepo banget sih?" ucap Lili ketus.
"Ya udah. Iya. Iya," jawab Victor dengan nada kecewa.
Melihat ekspresi Victor, Lili merasa sedikit tidak enak hati.
"Duh, gue salah ngomong ya? Biar gimana pun nyebelinnya ni cowok, tetap aja dia udah baik mau nganterin gue pulang," batin Lili.
"Gue ada urusan sama Celine. Gue udah janji sama dia mau bantuin dia nyelesaikan kerjaan yang pernah gue bantuin," ucap Lili tenang.
"Lu kan lagi sakit Li? Lagian lu butuh istirahat karena cape banget habis balik dari kampung tadi," ucap Victor.
"Iya, jadi gue pernah membubuhkan tulisan manual pakai tulisan gue. Ya harus seragam dong, masa tulisannya beda-beda. Kasihan Celine," jelas Lili.
"Oh, gitu. Ya, yang penting lu jangan lupa istirahat," jawab Victor.
Lili berbohong, tentu saja. Alasan Lili ingin pulang ke tempat Celine bukan karena urusan pekerjaan Celine yang ia bantu, melainkan karena ia risih terhadap Victor.
Sudah pasti Victor nanti akan minta agar diajak mampir ke apartemen Lili. Untuk apa Victor dan Lili berduaan di apartemen? Akan menguntungkan bagi Victor, tapi tidak bagi Lili.
Lili hafal betul perilaku Victor yang suka ambil kesempatan dalam kesempitan, paling jago modus kepada cewek-cewek. Lili tidak mau jadi korban keganjenannya.
Walau pun, selama beberapa jam terakhir Victor benar-benar menunjukkan perilaku yang baik selama bersama Lili, tidak lantas membuat Lili lalai. Ia harus tetap waspada terhadap Victor.
*
Perjalanan hampir usai. Lili dan Victor tiba di depan kediaman Celine. Hal yang aneh sedang terjadi di sana. Terdapat dua buah mobil sedan polisi sedang parkir di halaman. Sebenarnya ada apa ini? Kenapa ada polisi yang mendatangi kediaman Celine?
__ADS_1