
Waktu berlalu, hari berganti.
Lili tengah duduk di depan layar komputernya di kantor. Ia sedang melotot pada sebuah diagram yang tergambar di sana.
"Mana bisa seperti ini trennya? Pasti ada satu yang nyelip. Kalau mau ditelusur satu-satu bakal ngabisin waktu ini," gumam Lili sambil mengemut ujung penanya.
TUK TUK...
Seseorang mengetuk partisi sekat meja Lili. Lili pun menoleh. Ada sebuah permen bertangkai yang disodorkan kepadanya.
"Daripada pantat pena lu yang habis, mending ngemut ini." Itu adalah Victor. Senyumannya begitu ramah, cukup menyegarkan untuk siang hari yang menjemukan ini.
"Bapak," sapa Lili.
"Ambillah," ucap Victor kembali sambil menambah uluran tangannya yang sedang memegang permen bertangkai itu.
"Terima kasih, Pak," ucap Lili yang mengambil permen tersebut. Tanpa berkata-kata lagi Victor pun pergi, tapi ia sempat tersenyum tadi sebelum pergi.
Lili pun memegang dua benda. Ia lihat kedua benda itu secara bergantian, pulpen, permen, pulpen, permen. Dahinya pun mengernyit karena baru sadar bahwa ia telah diperhatikan sebagai seorang karyawan yang gabut mengemut ujung pena. Kalau Lili yang melihat orang lain melakukannya, ia pasti akan merasa jijik dan mengharamkan pena itu kembali terlihat olehnya.
Lili pun menaruh pena itu di dalam lacinya. Itu adalah sebuah aib yang harus ia sembunyikan. Ada jutaan bakteri di sana, bekas mulutnya. Sempat ia menengok ke kiri dan ke kanan sebelum menaruh pena itu di laci. Untungnya tidak ada orang yang memperhatikannya.
"Victor udah kaya hantu aja. Yang lain aja ga ada yang lihat, tapi kenapa dia melihat dan tiba-tiba ada di hadapan gue? Dasar hantu," gumamnya.
Walaupun menggerutu, Lili tetap membuka bungkus permen itu lalu mengemutnya. Ia pun kembali memperhatikan apa yang ada di depan layar monitornya.
Lili lalu menelepon seseorang.
"Halo, Jen. Ke meja saya sekarang? Bisa? Oke," ucap Lili.
Tak lama kemudian seorang karyawan datang. "Ada apa Bu Lili?" tanya karyawan itu.
"Saya mau analisis data ini. Jangan pakai tool yang biasa, akan memakan waktu lama. Saya mau ini dijadikan permodelan, kamu bisa kan?" ucap Lili.
"Permodelan? Saya coba Bu," jawab karyawan itu.
"Oke, jadi begini, faktornya ini, ini dan ini... " jelas Lili.
"Lihatlah, dia lebih dari sekedar yang dibutuhkan. BU Head pasti akan menyayangkan resource yang seperti itu tapi penempatannya kurang tepat," ucap Victor kepada Bu Eva. Mereka berdua sedang berdiri di sisi lain ruangan sambil sama-sama memperhatikan Lili.
"Saya sudah mendengar projek yang kamu berikan untuk tim, yang salah satunya ada Lili di sana. Sebenarnya saya setuju dengan mutasinya, tapi dia sendiri yang selalu membujuk saya untuk menahannya," jelas Bu Eva, atasan langsung dari Lili.
"Saya pikir perusahaan kita ini berisi orang-orang profesional," ucap Victor.
"Bicara soal profesionalitas, apakah permintaan mutasi Lili tidak ada hubungannya dengan urusan privat kalian berdua? Saya meragukannya kalau jawabannya adalah semua karena pure bisnis, atau semua karena tidak ada hubungannya dengan privasi kalian berdua. Saya benar-benar meragukannya," balas Bu Eva.
"Yah, baiklah. Hem..." ucap Victor tersenyum kikuk.
"Ngomong-ngomong, perihal perjalanan dinas Lili sudah saya teruskan ke atas dan disetujui oleh kepala departemen kami. Kamu sudah bisa menugaskan Lili, sekarang," ucap Bu Eva.
__ADS_1
"Tapi ingat... Jangan pernah berbuat macam-macam dengan gadis itu, atau kamu tidak lagi bisa duduk di head office seperti sekarang ini," ancam Bu Eva.
"Saya tidak pernah macam-macam, Madam. Sesekali saya memang melakukan kesalahan, saya tidak tegas dengan klien saya sampai membuat Lili tidak nyaman. Tapi, untuk seterusnya hal itu tidak akan pernah terjadi lagi," ucap Victor.
"Baiklah. Kita lihat saja," ucap Bu Eva.
*
Waktu istirahat pun tiba. Lili pergi seorang diri untuk makan siang di tempat yang ia suka.
Kali ini ada yang berbeda darinya. Selain karena tidak ditemani Kiki, hal yang berbeda pada makan siang kali ini adalah Lili mencoba siaran di sebuah aplikasi audio live streaming.
"Sorry guys, gue ga seramah and ga sesupel host lain. Tapi di sini, gue Anak Ayam, mau nyoba mengisi jam istirahat siang kita dengan membuka room sajak. Di sini gue ga membatasi cuma gue yang bacakan sajak doang, tapi teman-teman juga bisa on mic untuk membaca," ucap Lili.
"Bacakan karya? Oke, boleh. Silakan kirim karyanya ke DM, gue lihat dulu," lanjut Lili.
"Haha... Sajaknya... Emh, oke, gue coba baca ya. Sajak kiriman dari Barista Coffee. Selamat mendengarkan, teman-teman."
"Tentang Seseorang di Dini Hari"
"Malam
Selimut terhangat untuk kenangan yang menggigil
Kutertinggal di masa lalu yang pengap dan berdebu
Ia melarikan diri dan menyeret jejak di dinding-dinding kamar
Menggores-gores luka, meniadakan rasa
Untuk sekian ribu purnama"
"Mencoba memejamkan mata
Tak terhitung berapa domba yang kocar-kacir di langit-langit
Kutak bisa mengatur mereka berbaris rapi
Mengantarku masuk ke alam mimpi"
"Lalu kamu datang mengetuk pintu dini hari
Membawa sepotong lilin, menerangi perasaan usang yang gelap dan syarat elegi"
"Kita pun memulai percakapan
Kamu di tepian ranjang duduk tengan tatapan yang hangat
Mengambilkanku segelas kesegaran
__ADS_1
Aku meneguk keakraban kita
Sesekali batuk karena tak mampu sembunyikan rasa"
"Tanganmu menyentuh keningku
Ya, aku demam
Dukaku pun kau seka dengan kain basah
Candamu kutelan bersama parasetamol
Jaring laba-laba enyah
Ada kunang-kunang datang menembus tembok
dan aku kau buat riang"
"Percakapan-percakapan konyol
mewarnai lengkung-lengkung di bibir kita
Cat tembok mendadak berubah terang
Mereka biru toska muda tempias menghempas kelabu yang sendu"
"Terima kasih telah membersamaiku malam ini
Untukmu yang memikat hati
Bersama tanpa ikatan janji
Membuat cinta kembali bersemi"
~Barista Coffee
"Hem hem... Terima kasih atas kirimannya, Mas Barista Coffee." Lili tersenyum pelan usai membacakan puisi tersebut. Beberapa waktu ia terdiam, lalu melanjutkan kembali siarannya.
"Kenapa? Oh, ga kenapa-kenapa kok. Gue hanya merasa sedikit tersentuh dengan karyanya," ucap Lili.
"Iya, betul apa yang di-typing Kidung, mungkin karena penulisannya yang sepenuh hati atau berdasarkan pengalaman pribadi makanya bisa membuat kita semua di sini tersentuh," lanjut Lili menanggapi para pendengarnya yang typing.
"Gue? Hahaha... Kasih tahu ga ya? Hahaha... Menurut kalian gimana? Kira-kira apakah gue pernah ada di posisi dalam puisi itu? Silahkan kalian berfantasi sendiri ya," ucap Lili.
Siaran tersebut hanya berlangsung selama setengah jam. Hal itu karena Lili hanya mengisi waktu kosongnya saat istirahat kantor saja.
Setelah itu, ia kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Kenapa gue jadi teringat terus dengan puisi tadi ya? Mana sekarang malah Kiki, lagi, yang ada di kepala gue. Hem... Tu cowok memang baik, tapi sayang semua kebaikannya selama ini cuma settingan," batin Lili.
__ADS_1