Dicintai Brondong Online

Dicintai Brondong Online
22. Aku Tak Akan Pergi, Li


__ADS_3

Victor sedang bersama Lili di Puskesmas. Rupanya tadi sewaktu sama-sama berada di balai desa Victor melihat Lili. Jadi, ia mencari dan menemukan Lili sesaat setelah terpatuk ular.


Lili menanyakan kepada Victor apa yang tengah dilakukannya di desa ini dan apakah Victor merupakan orang yang berasal dari desa ini juga.


"Gue bukan orang sini. Gue cuma nemenin ponakan gue yang bakal ngadain acara di sini," ucap Victor.


"Acara pagelaran seni itu?" tanya Lili.


"Iya, bener," jawab Victor.


"Kok bisa kebetulan banget gini ya?" ucap Lili sambil memutar bola matanya.


"Ga ada yang kebetulan. Kayanya kita memang ditakdirkan bertemu. Semesta sudah mengatur, kita sepertinya berjodoh," ucap Victor.


"Hffft..." Lili hampir saja memuntahkan tawa, tapi ia menahannya di dalam mulutnya.


"Duh, ngomong-ngomong pacar gue tadi mana ya?" ucap Lili celingukan.


"Pacar? Bocah ingusan tadi? Itu pacar lu, Lik?" tanya Victor heran.


"Iya, itu pacar gue," jawab Lili.


"Gila sih selera lu. Dia masih bocah loh Lik? Paling bedanya sama elu bisa delapan sampai sepuluh tahun! Ckckck..." ucap Victor lalu menggeleng.


"Mau beda dua puluh tahun juga suka-suka gue. Namanya cinta, dan yang pasti kami udah ditentukan semesta sebagai pasangan yang ber-jo-doh! Apa pedulinya sama elu?" ucap Lili ketus.


"Ga make sense! Ga make sense! Lik, gua bilangin sama elu ya..." ucap Victor. Tapi, belum ia menyelesaikan kata-katanya, bude dan pakde Lili datang. Tantu saja diikuti dengan Kiki di belakang mereka.


"Lili sayang! Kamu ga kenapa-kenapa kan?" Bude Lili sangat mengkhawatirkan kondisi Lili.


"Iya. Lili ga kenapa-kenapa, Bude. Paling nunggu dua jam lagi, kalau ga ada reaksi yang macam-macam setelah itu Lili bisa pulang," jelas Lili.


"Iya. Untungnya Lili cepat tertolong. Kalau tidak, mungkin hal-hal yang tidak kita inginkan bisa terjadi pada Lili. Begitu saya ketemu Lili baru saja dipatuk ular, saya langsung membawanya ke sini," selah Victor.


"Kami sangat berterima kasih kepada Nak... " ucap pakde Lili.


"Victor. Kenalkan, nama saya Victor. Saya teman sekantor Lili," ucapnya.


"Iya, Nak Victor. Beruntung sekali ada Nak Victor yang sudah menolong Lili," lanjut pakde Lili.


"Jangan salah, Pakde. Sebelum Victor datang, sebenarnya Kiki yang memberikan pertolongan pertama kepada Lili. Dia sampai menggunakan kemejanya untuk membebat luka Lili," selah Lili.

__ADS_1


"Iya, kan, Sayang?" lanjutnya sembari melempar pandangannya ke arah Kiki.


"Hah? Oh, iya. Sayang, sayang.... Sudah sepatutnya saya melindungi Lili bukan? Hehehe..." jawab Kiki yang sedikit terkejut karena dipanggil 'sayang'.


"Tentu saja. Mas Kiki kan pacar yang baik, tentu dia akan melindungi pacarnya dengan sekuat tenaga," sambung bude Lili.


Senyum dan tawa kecil pun mewarnai obrolan mereka. Tidak terkecuali Victor yang walaupun memberikan senyum pelit kepada mereka.


"Oh iya, ngomong-ngomong nanti Lili pulang ke kota bareng saya saja. Saya kan bawa mobil. Akan sangat merepotkan kalau Lili dengan kondisi seperti ini harus naik kendaraan umum. Ya kan? Bagaimana?" tawar Victor.


"Sepertinya ga perlu repot-repot, Victor. Saya dan Kiki akan pulang dengan... " ucap Lili. Tapi belum selesai Lili berkata-kata, Kiki pun menimpali.


"Benar apa yang dikatakan Abang ini. Akan lebih aman kalau kamu naik mobilnya saja," ucap Kiki.


Mendengar hal itu Lili pun melotot pada Kiki. Ia mencoba menyampaikan sesuatu di bibirnya tanpa suara.


"Iya, Pakde pikir juga seperti itu lebih baik," sahut pakde Lili.


"Tapi... " ucap Lili.


"Tapi apa, toh Nduk?" tanya bude Lili.


Lagi-lagi tawa-tawa kecil mewarnai obrolan di antara mereka. Tapi, sebenarnya Lili sangat tidak menyukai keputusan itu. Ia sangat anti kalau harus berdekat-dekatan dengan Victor.


*


Waktu pun berlalu. Kini mereka sudah ada di kediaman pakde Lili. Mereka sudah sempat beristirahat dan makan bersama.


Lili terlihat melamun beberapa kali. Sebenarnya ia masih penasaran dengan kenangan masa kecilnya bersama Arjuna. Namun, ia tidak mungkin kembali ke tempat tadi, terlalu berbahaya.


"Ada apa?" tanya Kiki setelah bolak-balik membereskan piring membantu bude Lili.


"Harta karunnya belum kita ambil," ucap Lili dengan suara lirih dan nada menyesal.


"Oh, soal itu. Kamu ga perlu memikirkannya, Mbak," ucap Kiki.


"Ga usah mikirin gimana, kan itu alasan kita datang ke sini," timpal Lili.


"Sebentar," ucap Kiki. Kiki pun pergi dan kembali dengan membawa sebuah kaleng bekas biskuit yang terlihat usang.


Lili terkejut dengan apa yang dibawa Kiki. Ia tidak mengenali benda itu dan mencoba-coba mengingatnya.

__ADS_1


"Saya balik ke sana untuk mencari ini. Kamu sempat menyebut-nyebut pohon, jadi saya cari di sekitar sana. Dan akhirnya, huwalaaa... ketemu," jelas Kiki.


Lili pun meraih kaleng tersebut.


"Terima kasih, Ki. Ternyata lu balik ke sana buat nyari ini," ucap Lili.


Lili pun membuka kaleng itu. Karena sudah lama tidak dibuka, jadi Lili kesulitan membuka tutupnya yang keras. Maka, Kiki pun membantu untuk membukanya dengan menggunakan pisau buah.


Tutup kaleng itu pun terbuka. Lili bisa melihat tumpukan kertas dan foto di sana. Lembar demi lembar ia keluarkan, ia perhatikan baik-baik.


Ia bisa melihat sebuah foto berdua yang memperlihatkan Lili dan Arjuna sewaktu masih kecil. Begitu lama Lili memperhatikannya, sampai-sampai tanpa sadar air mata Lili jatuh sendiri.


Kiki lalu menyerahkan sebuah surat yang lebih dahulu dibaca olehnya. Lili meraihnya dan mulai membacanya.


"Kita boleh berpisah, tapi persahabatan kita ga boleh putus ya. Suatu saat nanti kita pasti bertemu lagi."


"Sebenarnya ini bukan salah siapa-siapa, jadi kamu jangan nangis. Ini soal orang tuaku yang berpisah jadi aku harus ikut salah satu."


"Semoga kalau sudah besar kita bisa bersama, jangan seperti kedua orangtuaku. Semoga."


~Tertanda Arjuna


Usai membaca surat itu, Lili kembali memandangi foto masa kecil mereka. Wajah anak laki-laki yang ada di sana memang benar-benar mirip dengan lelaki yang ia temui di hutan waktu itu. Tidak salah lagi, lelaki yang kemarin meninggal dunia itu adalah Arjuna teman masa kecilnya.


Lili mulai emosional. Mulutnya ia tutup dengan kedua tangannya, ia menangis.


"Ada ap..." bude yang khawatir seketika mundur kembali melihat Lili sedang bersama Kiki.


Kiki mengusap-usap punggung Lili guna meringankan kesedihan Lili.


"Kamu yang sabar ya, Mbak," ucap Kiki.


"Kenapa... kenapa Ki... Kenapa semua orang yang gue sayang selalu pergi? Mama, Mas Artur, sekarang Arjuna. Kenapa, Ki? Apa gue seterkutuk itu?" rengek Lili.


"Ssh... sssh... Jangan bicara begitu. Mereka pergi bukan karena kamu terkutuk atau apalah itu istilahnya. Lupakan istilah itu."


"Setiap yang bernyawa pasti merasakan mati, Mbak. Bukan karena penyebab lain, semua karena Sang Pemilik yang memanggil mereka kembali lebih cepat daripada kita," ucap Kiki menenangkan Lili.


"Kalau kita merasa sedih, itu hal yang wajar. Sekarang kalau Mbak mau menumpahkan kesedihan, silakan. Asal kamu tahu, Mbak, saya akan terus menemani kamu. Saya ada di sini baik kamu dalam keadaan senang maupun sedih. Saya ga akan pergi," ucap Kiki.


Lili masih saja terus menangis.

__ADS_1


__ADS_2