Dicintai Brondong Online

Dicintai Brondong Online
49. Pesanan Kudapan Romantis


__ADS_3

Waktu berlalu. Pesawat yang Lili tumpangi telah mengudara di atas Pulau Bali. Announcer menyampaikan pengumumannya. Hal itu membuat Lili terbangun. Ya, sejak tadi Lili sempat tertidur.


Ini adalah kali keduanya Lili pergi ke Bali. Sudah lama sekali Lili tidak menginjak tempat yang penuh kenangan indah itu.


Sewaktu dulu, Lili ikut dalam acara bulan madu antara ayahnya dan ibu tirinya. Lili sebenarnya sudah lupa suasananya. Lili hanya pernah melihat kenangan mereka dari album foto dan video usang mereka.


Sambil menatap ke luar jendela, pikiran Lili mengembara seperti sedang menonton video kenangan mereka sekeluarga.


"Cantik... sini cantik... " ucap ibu tiri Lili.


"Lihat, dia hampir makan pasir!" goda ayah Lili.


"Biarkan! Biarkan! Tuh menggemaskan banget. Pakai bedak ya cantik.. bedak pasir," ucap ibu tiri Lili.


Rekaman video itu sedang menayangkan kenangan mereka bertiga bermain di tepi pantai. Lili dan ibu tirinya begitu terbahak-bahak dengan kondisi saat itu. Sedangkan, ayah Lili adalah sosok di balik handy cam yang sedang merekam mereka.


Lili senyum-senyum sendiri menatap ke luar jendela pesawat. Namun, senyumnya lama kelamaan luntur juga. Ia teringat dengan ibu tirinya yang begitu kesal dengan keberadaan Lili.


Di awal-awal pernikahan itu ibunya terlihat begitu menyayangi Lili, tapi seiring berjalan waktu ibu tirinya itu benar-benar suka menyalahkan Lili. Lili adalah beban hidup baginya.


Pesawat pun landing. Lili menantikan saat ia turun nanti. Kemudian, pesawat pun akhirnya siap berdiam di mana para penumpang sudah dipersilakan untuk turun beserta dengan barang bawaan mereka masing-masing.


Lili pun mengambil bawaannya dan turun dari pesawat.


Ia pun berjalan di lorong bandara. Seperti para penumpang lain, Lili disambut dengan pajangan bernuansa tradisional lengkap dengan musik khas daerah itu.


Lili melihat beberapa penumpang selfie di tempat-tempat yang strategis dalam bandara itu. Lili melihatnya sambil tersenyum seakan ikut tertular oleh keseruan orang-orang itu.


"Seandainya di sini ada Kiki, pasti ada yang nemenin gue gila selfie. Dia orangnya gokil, seru," batin Lili.


"Idih, ngapain gue masih mikirin tu cowok sih? Kenapa sampai sekarang gue masih menikmati kenangan bersama dia. Udah, udah! Cukup!" batin Lili sambil menggelengkan kepalanya cepat.

__ADS_1


Lili pun menuju tempat pengambilan barang. Saat di pesawat Lili hanya membawa tas tangannya saja, sedangkan kopernya berada di tempat terpisah.


Saat menunggui kopernya berputar di atas meja berjalan, Lili kembali bertemu dengan orang asing yang bertukar kursi penumpang tadi. Ia tersenyum, lalu arah matanya ia lemparkan ke suatu arah, seakan ingin menunjukkan sesuatu.


Lili mengikuti arah tatap mata orang tersebut sehingga ia bisa menangkap sebuah sosok yang sepertinya dengan sengaja menghindar. Sosok itu menggunakan topi dan masker. Lili tidak dapat mengenalinya.


Namun, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh orang asing tadi, sosok misterius itu sepertinya tidak berniat jahat.


Lili hendak mengejar sosok misterius itu tapi ia ragu dan membatalkannya sebab ia harus menunggu giliran pengambilan kopernya.


Selanjutnya, setelah koper miliknya ia dapatkan Lili pun kembali melanjutkan jalan kakinya. Ia akhirnya mendapatkan sebuah pesan chat di ponselnya bahwa mobil jemputannya telah tiba.


Tentu saja akomodasi Lili sudah dijamin oleh perusahaan yang mengutusnya. Lili pun menghampiri jemputannya kemudian naik mobil tersebut. Mobil tersebut mengantarkannya ke hotel tempatnya menginap selama melakukan pekerjaannya di Bali.


Lili pun turun dari mobil. Ia segera check in hotel yang telah dipesan sebelumnya. Aroma bunga, di mana-mana ada aroma bunga. Lili suka dengan nuansa ini. Petugas hotel juga menyambutnya dengan memberikan sebuah minuman koktail kepadanya.


Lili pun masuk ke dalam hotel pesanannya. Aroma bunga itu semakin kontras. Kamboja putih, mereka begitu harum. Kalau boleh berlama-lama di tempat ini, Lili akan senang sekali. Lili melakukan pekerjaan sekaligus healing.


"Apa apa ya? Saya tidak memesan makanan," ucap Lili.


"Permisi, Nona, tapi ini adalah pesanan dari seseorang untuk Nona," ucap petugas hotel itu.


"Pesanan dari seseorang? Siapa?" tanya Lili sambil celingukan melongoh ke luar pintu kamar hotel. Tidak ada siapa-siapa lagi kecuali ia dan petugas hotel itu.


"Maaf Nona, pemesan tidak menyebutkan namanya," jawab petugas hotel itu.


"Oh, iya, kalau begitu terima kasih ya," ucap Lili sembari meraih nampan berisi makanan sup dengan riasan yang menggugah selera, roma harum dan kelopak mawar di samping mangkuknya.


"Romantis sekali. Jelas ini bukan bagian dari makanan reguler hotel. Siapa ya yang memesan ini? Apakah mungkin Victor? Ya, mungkin Victor. Kalau bukan dia, siapa lagi?" batin Lili.


Lili membuka teras. Ia menikmati kudapan itu di sana sambil memandang kolam renang yang menyejukkan pemandangan.

__ADS_1


Di waktu luangnya seperti saat itu, Lili membuka aplikasi audio live streaming. Lili mengobrol dengan teman-teman virtualnya. Beberapa di antaranya ada yang on mic dan membacakan sajak.


Lili rindu dengan pembacaan sajak atau puisi. Di tempat yang indah seperti ini apabila sambil mendengarkan puisi pasti menambah kepekaan hati baginya. Seakan seluruh tempat, bahkan angin yang ada di sekelilingnya sedang berbahasa kepadanya, berbahasa cinta.


"Supnya sudah dihabiskan?" tanya Barista Coffee kepada Lili.


"Hah? Lu? Lu yang pesan makanan itu? Darimana lu... eh, lu sekarang dimana?" tanya Lili penasaran.


"Jangan-jangan yang daritadi ngintilin gue itu elu ya? Lu ngintilin gue dari bandara tadi kan?" lanjut Lili.


"Bar! Gue tahu elu disini! Gentle dong! Tunjukin diri, jangan sok-sokan jadi si misterius gini!" desak Lili.


"Gue takut lu nolak kehadiran gue," ucap Barista Coffee kepada Lili.


"Memangnya lu ada dosa apa sama gue? Kenapa lu takut?" desak Lili.


Barista Coffee pun tiba-tiba mematikan mic-nya di room Lili.


"Eh, sumpah ya, lu nyebelin banget sih!" ucap Lili kesal.


Karena Lili tidak mood lagi melakukan siaran, ia pun berpamitan dengan teman-teman virtualnya kemudian end live. Ia pun mematikan ponselnya.


"Heran gue sama si misterius itu! Kan gue jadi penasaran gini. Ya ampun. Aargh...!" ucap Lili.


Setelah itu pun Lili membersihkan diri dan beristirahat di kamar hotel itu.


Esok hari Lili harus mulai melakukan janji temu dengan kliennya. Hari ini ia cukup hanya akan beristirahat saja.


Saat Lili hendak tidur, ia menutup tirai jendelanya yang sangat besar itu. Tiba-tiba Lili merasa diawasi dari luar jendela.


Lili kemudian keluar teras. Ia lalu menemukan seseorang yang sedang memunggunginya hendak masuk ke kamarnya. Kebetulan hanya orang itu yang ia temukan. Orang yang kamarnya berseberangan dengan kamar Lili dan mereka dipisahkan oleh sebuah kolam renang.

__ADS_1


__ADS_2