Dicintai Brondong Online

Dicintai Brondong Online
44. Tong Setan


__ADS_3

Malam ini Victor mengajak Lili ke fun fair. Mereka berangkat menggunakan mobil lalu sesampai mereka sampai di sekitar lokasi, mobil pun diparkirkan agak jauh dari pintu masuk fun fair. Lili dan Victor datang saat tempat parkir terdekat telah penuh.


Sehingga, Lili dan Victor harus jalan sejauh lebih dari seratus hingga dua ratus meter untuk mencapai pintu masuk areal fun fair.


Belum sampai di pintu fun fair, Victor mengajak Lili singgah di sebuah cafe kecil. Ia tak tega melihat Lili harus berjalan kaki seperti itu. Jadi, Victor pun ingin mereka bersantai dengan minuman kesukaan mereka, kopi.


"Ngomong-ngomong lu udah pernah ke fun fair?" tanya Victor sambil memegang cangkir lalu menyeruput kopinya.


Mereka duduk berhadapan di kursi kayu yang ramping dipisahkan oleh sebuah meja bulat kecil.


"Udah pernah. Udah lama banget," jawab Lili.


"Udah lama banget? Kapan tuh? Waktu masih kecil ya?" tebak Victor.


"Iya, waktu gue masih SD. Kalau lu? Cowok parlente kaya lu ini mana pernah masuk fun fair, ya kan? Kalau lu mau hiburan paling lu ke Trans Studio," ucap Lili.


"Wah, menyepelekan. Ga tau rupanya?" ucap Victor bergimik senyum meledek.


"Ga tau apa? Emang benar kan?" ucap Lili.


"Pernah kok, pernah," ucap Victor.


"Hem, ternyata udah pernah. Ga nyangka gue. Kalau udah pernah, bisa ga lu sebutin wahana di dalam sana itu ada apa aja?" pinta Lili.


"Yah, ngasih pertanyaan gampang banget sih. Ga ada yang agak susahan dikit apa?" tantang Victor.


"Biasanya di dalam sana itu ada komedi putar, bianglala, rumah hantu, sama ya mainan untuk anak-anak atau balita gitu kaya kereta-keretaan," jawab Victor.


"Ada yang kurang," ucap Lili.


"Tong setan," ucap Lili.


"Hah? Ehm, oh iya, tong setan," ucap Victor sambil mencoba mengingat-ingat.


"Iya iya tapi muka lu kaya gitu. Jangan-jangan lu ga tahu ya, tong setan itu yang mana?" ucap Lili.


"Masalahnya itu dulu banget, jadi gue udah agak lupa-lupa," ucap Victor.


"Masa sih? Gue aja yang terakhir masuk ke sana waktu gue masih SD, gue masih ingat di dalamnya ada wahana apa aja," ucap Lili.


"Ya udah daripada keburu kemalaman, yuk masuk ke sana," ajak Lili.


"Oke," ucap Victor.


Lili dan Victor pun memasuki areal fun fair dengan kembali berjalan kaki.


"Ingat? Gue yang traktir elu malam ini," ucap Victor.


"HAH? APA?" Lili bertanya dengan suara keras. Kondisi saat ini sedang berdesakan di pintu masuk. Suasana begitu riuh.


"GUE YANG TRAKTIR!" jawab Victor.

__ADS_1


"OKE OKE," jawab Lili.


Karena pintu masuk dilalui dengan berdesakan, maka Victor pun memegang tangan Lili. Lili memandangi Victor yang tengah memunggunginya.


"Apa sih, pakai pegang-pegang tangan segala!" batin Lili. Lili pun melepaskan genggaman tangan Victor. Lalu, Lili pun terpisah dari Victor.


"Tiket masuknya, Mbak?" ucap petugas.


Lili hendak menunjuk Victor tapi Victor sudah tidak terlihat lagi.


"Lima belas ribu, Mbak," lanjut petugas. Lili pun merogoh kantongnya. Petugas lalu melambai-lambaikan telapak tangannya, menolak untuk diberikan uang.


"Di sana, Mbak. Belinya di belakang Mbak," ucap petugas itu.


Lili melemas. Sudah susah payah ia berjalan berdesakan tapi kini justru disuruh kembali ke belakang.


Lili pun melakukan apa yang diarahkan oleh petugas. Setelah membeli tiket untuk dirinya sendiri, kemudian menunjukkannya ke petugas jaga, akhirnya Lili pun dapat masuk ke areal fun fair.


Lili celingukan mencari-cari keberadaan Victor.


"DOOR," Victor mengejutkan Lili dari belakang.


"Darimana lu, Lik?" tanya Victor sambil tertawa meledek.


"Ini," ucap Lili sembari menunjukkan sebuah gelang kertas.


"Sorry ya, tadi gue kehilangan jejak lu. Harusnya tadi kita masuk sama-sama. Ini ada satu tiket nganggur belum ditukar gelang kertas," ucap Victor menunjukkan selembar kertas kecil.


"Sebenarnya tadi gue yang ngelepasin tangan lu, Tor," batin Lili.


"Buat gue, Bang? Gratis?" ucap remaja itu sumringah.


"Iya. Gratis," balas Victor.


"Makasih ya, Bang," ucap remaja itu. Ia pun pergi meninggalkan mereka dengan senang.


"Ternyata Victor punya sisi baik juga," batin Lili.


"Li? Lu kenapa? Sampai bengong gitu ngelihatin gue. Gue seganteng itu ya?" ucap Victor.


Lili berkedip cepat mengalihkan pandangannya sembari ia sematkan rambutnya ke sisi telinganya.


"Yah, grogi lu? Hahaha..." goda Victor.


"Apaan sih lu!" ucap Lili.


"Dah ah, yok kita cobain wahananya," ajak Lili yang berjalan di depan meninggalkan Victor.


"Ya ampun, udah ketahuan malah melipir," ucap Victor sembari mengikuti Lili.


Langkah Lili pun berhenti di depan sebuah bangunan kayu yang tinggi. Lili memandanginya tertengadah dengan senyum jahil. Kemudian, dengan senyuman itu pula ia melemparkan arah pandang matanya ke Victor.

__ADS_1


"Lu mau kita masuk ke sini?" ucap Victor dengan sedikit berkerut dahi. Lili pun mengangguk.


"Ya udah tunggu di sini sebentar. Gue belikan tiketnya dulu. Awas, jangan hilang lagi lu kaya tadi," ucap Victor.


"Iyaaa..." jawab Lili.


Tong Setan, demikian tulisan hang tertera di depan pintu masuk wahana yang dipilih Lili itu.


"Firasat gue, ni cowok belum pernah masuk ke sini. Gue ga sabar lihat ekspresi dia begitu sampai di dalam nanti. Hahaha..." batin Lili.


Setelah itu, Victor pun kembali, dan mereka berdua pun masuk ke dalam wahana tong setan.


"Berisik banget, Li," keluh Victor.


"Emang. Udah pernah kan?" goda Lili.


"Iya, tapi sekarang gue rasa wahana ini ga aman. Telinga lu bisa rusak, Li," ucap Victor.


Lili pun menarik tangan Victor. Victor kini semakin mendekat ke tepian tong. Ia melihat dua buah motor yang sangat berisik berputar-putar secara horizontal di dinding tong.


"Sawer, Tor, sawer!" pinta Lili.


"Hah? Maksud lu?" tanya Victor bingung.


"Itu, lihat yang lain, ngasih duit ke pemain," jawab Lili.


"Disamber gitu, Li, tangannya!" protes Victor.


"Memang iya! Lu baru tahu? Hahaha... Katanya udah pernah?" ucap Lili.


"Pernah! Pernah, tapi gue udah lupa caranya," ucap Victor.


"Ya udah biar ga lupa sawer sekarang!" ucap Lili.


"Oke!" ucap Victor kesal.


Victor pun mengeluarkan selembar uang berwarna merah.


"Eh, jangan yang ini. Uang lu kegedean. Uang receh aja," ucap Lili.


Victor pun mengeluarkan selembar uang berwarna biru.


"Is, jangan yang ini. Masih kegedean!" ucap Lili.


Lili pun mengeluarkan tiga lembar uang berwarna kuning.


"Nih," ucap Lili.


"Satu-satu ngasihnya," lanjut Lili.


"Yah, masa tiga kali? Sisanya elu aja deh?" tawar Victor.

__ADS_1


"Kenapa? Hahaha... lu takut?" goda Lili.


"Siapa yang takut!" jawab Victor kesal.


__ADS_2