
Lili menunjukkan senyum yang penuh kehangatan kepada Kiki. Di antara Lili dan Kiki tampak seperti penuh cinta antara sepasang kekasih.
Celine cemburu melihatnya. Sebenarnya kekesalannya sudah menumpuk sejak diungkapnya rekaman obrolan dirinya dan Lili di depan orang banyak.
"Baiklah Yang Mulia, Saya akan mengatakan semua yang terjadi dengan sebenar-benarnya," ucap Celine dengan suara pelan dan tatapan tajam bak serigala. Matanya penuh kebencian terhadap Lili.
Hal itu membuktikan bahwa Celine memang menderita kelainan personaliti disorder. Selama ini kelainannya itu selalu tersembunyi dan tidak pernah Lili ketahui.
Di balik kesetiaan Celine sebagai seorang sahabat, ia mempunyai rasa menguasai serta rasa memiliki yang sangat besar di dalam hubungan pertemanannya itu. Sehingga, ia punya ekspektasi yang tinggi terhadap hubungan pertemanan itu.
Alih-alih setia dan satu rasa sepenanggungan, Celine memiliki sifat berkompetisi yang juga besar, yang selama ini ia pendam. Ia kerap cemburu juga iri terhadap sahabatnya sendiri.
Lili adalah perempuan yang terlalu sempurna. Berada di dekatnya hanya akan menjadikannya manusia nomor dua, yang tidak akan menjadi pusat perhatian.
Celine sudah memperhatikan Lili sejak mereka masih kecil. Ya, di desa kecil kala itu mereka hanya anak-anak SD yang tidak saling kenal, kecuali anak yang punya panggilan lain Rose itu. Ia memperhatikan betapa Lili kecil begitu berbakat dan disanjung oleh guru-guru dan teman-temannya.
"Kau tidak lihat anak penjual kue yang ada di ujung komplek itu? Kenapa tidak berteman dengannya, sehingga kau bisa tertular pandai seperti dia? Dia selalu juara satu berkat ketekunannya belajar. Tidak sepertimu yang hanya bermain dengan benda-benda mati seperti ini!" ucap seorang ibu kepada anak perempuannya.
"Jangan, Bu. Jangan ambil boneka Ros," ucap anak kecil malang sambil menangis karena mainannya direbut paksa oleh ibunya.
Tak lama kemudian, Rose kecil diam-diam mencari dan menemukan kembali mainannya itu. Ia lalu memeluknya dan menciuminya, kemudian membawanya kemana saja, termasuk ke sekolah. Ia menyimpannya dengan rapi agar tiada orang yang melihat mainnya apalagi merebutnya.
Di kelas, Rose melihat Lili mengangkat tangan dan menjawab pertanyaan dari guru. Lili lalu mendapatkan tepuk tangan atas jawabannya itu. Rose hanya melihat hal itu dari luar jendela kelas. Rose dan Lili adalah siswi dari kelas yang berbeda.
Sambil melihat, Rose menggenggam erat bonekanya. Kalau bonekanya itu hidup, ia mungkin bisa sesak napas karena genggaman Rose yang terlampau kuat.
Rose menunggu Lili. Dari jauh ia memperhatikannya. Hendak mendekati, tapi Rose enggan. Lili adalah bintang yang terlalu bersinar baginya, terlalu banyak orang yang berada di sekeliling Lili. Lili adalah idola mereka.
Rose tersenyum saat Lili berjalan mendekat, tentu Lili sedang bersama teman-temannya. Lili pun tampak tersenyum, tapi ternyata senyumannya bukan untuk Rose, melainkan untuk siswi lain di belakang Rose.
"Minggir! Ngehalangin jalan aja," ucap salah satu teman Lili. Siswi itu mendorong Rose dengan bahunya sehingga Rose nyaris terjerembap.
__ADS_1
Lili menengok kejadian itu tapi orang-orang di sekelilingnya menutupinya. Ia hanya menunjukkan raut wajah heran lalu kembali berpaling dan pergi. Raut wajah yang ditangkap oleh Rose dan membuatnya kecewa.
Rose lalu pergi ke toilet dan berbicara dengan bonekanya.
"Sombong amat sih! Kau pikir kau adalah dewi? Hah?" Rose memarahi bonekanya sambil mengguncang-guncangkannya.
"Aku benci padamu!" lanjutnya sambil memelintir leher mainannya itu. "Lihat nanti, aku akan mendapatkanmu, perempuan sombong!"
Boneka itu pun terputus lehernya kemudian ia buang ke kloset lalu ia menekan tombol menyiram. Boneka itu pun hilang.
Rose kecil sampai diam-diam membuntuti Lili sepulang sekolah. Ia melihat gadis di depannya itu melakukan janji temu dengan temannya yang lain, seorang anak laki-laki dengan buku tebal di tangannya.
Ya, Rose kecil itu baru saja bergentayangan di dalam kepala Celine. Ia seperti baru saja menonton film lama berwarna hitam putih. Hal itu yang membuatnya lancar berbicara di depan sidang.
"Saya benar telah menyingkirkan Arjuna dari Lili. Saya tidak menyukai keduanya. Saya senang kalau perempuan sialan itu merasa kehilangan berkali-kali. Ia terkutuk, semua orang terdekatnya meninggal, saya rasa akan menjadi semakin lengkap apabila Arjuna juga menjadi bagian dari kutukan itu, hahaha..." jelas Celine.
"Dan dia! Laki-laki yang duduk di samping perempuan itu! Saya sengaja menyewanya agar dapat dekat dengannya. Awalnya saya hanya ingin memisahkan Arjuna dari perempuan itu dengan cara yang saya buat, tapi kerja laki-laki itu terlalu lambat! Bodoh!" lanjut Celine.
"Bisa-bisanya melibatkan saya dalam urusan kalian!" bantah Kiki.
"Keberatan atas interupsi, Yang Mulia! Waktu bicara milik Nona Celine, Yang Mulia," ucap penasihat hukum. Lalu, hakim pun mempersilakan Celine meneruskan ucapannya.
"Kenapa? Weyli Hanggraini? Hahaha... Kecewa karena pacarmu itu adalah orang bayaran?" ucap Celine.
Celine pun diberikan pertanyaan-pertanyaan oleh perangkat sidang. Celine menjelaskannya dengan berapi-api. Ia sangat puas melihat wajah Lili yang murung. Seakan, Celine adalah pemenang tunggal atas drama yang dibuatnya itu.
"Mbak Li, kamu percaya dengan apa yang dikatakan Celine tentang saya?" tanya Kiki kepada Lili.
"Entahlah. Pikiran gue lagi sumpek banget sekarang, Ki," ucap Lili tanpa melihat wajah Kiki.
"Menghadapi orang ga waras itu ga ada untungnya, Mbak. Apalagi sampai mempercayainya," lanjut Kiki.
__ADS_1
"Sudahlah, Ki," ucap Lili dengan wajah kecewa lagi-lagi tanpa melihat wajah Kiki.
"Mbak, saya benar-benar mencintaimu tanpa bayaran apapun," lanjut Kiki.
"Sudahlah, Ki," jawab Lili lagi.
"Dia sengaja membuatmu sedih," lanjut Kiki.
"Sudahlah, Ki," jawab Lili lagi.
"Kamu marah sama saya, Mbak?" tanya Kiki.
"JANGAN GANGGU SAYA!" bentak Lili.
Pimpinan sidang pun menegur Lili karena suaranya mengganggu persidangan.
Mengetahui hal itu, Celine tersenyum sangat puas.
Lili lalu memegang keningnya. Ia sepertinya nyaris pingsan. Ia melirik ke Kiki. Kiki bisa menangkap tatapan mata Lili. Jelas terlihat ia sedang tidak sehat.
Kiki pun berinisiatif untuk menanyakan sesuatu kepada perangkat persidangan dengan membisikinya. Ia menanyakan apakah saksi Lili masih dibutuhkan dalam persidangan ini. Kalau tidak, maka mereka ijin meninggalkan ruangan sidang karena kondisi kesehatan Lili yang menurun.
Tak berapa lama, datang seorang perangkat persidangan mendekati Lili. Ia bertanya dengan suara pelan, perihal kondisi Lili.
Lili tampak mengangguk lalu bersedia bangkit untuk pergi dari tempat itu. Dibantu oleh Kiki, Lili meninggalkan persidangan.
"Saya akan mengantar Mbak pulang. Pastikan setelah ini kamu cukup makan dan cukup istirahat," ucap Kiki.
"Menjauh sedikit. Gue ga perlu dibopong," ucap Lili.
"Kali ini saya akan tetap membantu kamu. Kali ini kamu yang harus menurut dengan saya. Saya tidak mau hal buruk terjadi. Kamu itu lagi kurang sehat, jadi ga usah sok-sok'an sendiri," ucap Kiki.
__ADS_1