Dicintai Brondong Online

Dicintai Brondong Online
48. Penumpang Misterius


__ADS_3

Hari ini berakhir dengan malam yang indah. Meskipun kaki Victor yang menjadi korban, tapi hati mereka masing-masing justru menjadi begitu terang. Satu sama lainnya bisa saling mengetahui keadaan hati-hati mereka.


Waktu berlalu, hari berganti. Tibalah saat dimana Lili berangkat ke Bali. Kali ini Lili berangkat seorang diri.


Lili tengah berada di sebuah bandara. Ia duduk sambil menunggu keberangkatannya. Lili membuka aplikasi audio live streaming. Ia menyapa teman-teman virtualnya, termasuk Barista Coffee.


"Oh, jadi lu lagi di Bandara Jogoya? Serius? Mau terbang kemana? Atau lu baru dateng ke sini?" ucap Lili.


"Rahasia? Ah ga seru lu. Ya udah, ga apa-apa sih mau jadi si paling misterius. Hahaha... Ya, mungkin meet up-nya kapan-kapan aja," lanjut Lili.


Kini Lili sedang duduk di hadapan sebuah jendela kaca yang sangat lebar. Dari sana ia bisa melihat beberapa pesawat baik itu sedang parkir, maupun yang baru datang.


Lili menggunakan headsetnya, ia berbicara menatap layar ponselnya. Sesekali ia berbicara sambil melihat ke luar jendela. Namun, sumringah di wajahnya tak pernah surut. Baginya berbicara dengan teman-teman virtualnya merupakan hal yang menyenangkan.


Tiba-tiba di tengah keseruannya, Lili merasa seolah dunia melambat, alunan musik di telinganya memudar, ada seseorang, ya, entah siapa itu. Lili merasa ada seseorang yang memperhatikannya, tapi berkali-kali ia menoleh, ia tidak menemukan apapun.


"Kiki... Kenapa gue jadi kepikiran sama cowok itu ya?" gumam Lili.


Lili menoleh dan kemudian melayangkan pandangannya ke segala arah, bahkan ia sampai berdiri dan memutar tubuhnya. Namun, tidak ada yang didapatkannya. Tidak ada orang yang menurutnya mencurigakan, tidak ada Kiki, tidak ada hal yang terbukti sedang membuatnya merasa diperhatikan.


"Mungkin gue cuma kangen sama tu cowok," gumamnya lagi. Ia tidak menampik apa yang ada di perasaannya. Ya, hati Lili telah tertaut pada Kiki. Namun, ia tak dapat melanjutkan hubungan mereka. Bagi Lili, Kiki hanyalah seorang penipu yang berpura-pura peduli kepadanya walaupun kenyataannya hati Lili tertawan oleh Kiki.


Setelah menunggu sekitar tiga puluh menit di tempat itu, pengumuman panggilan boarding pun terdengar. Lili pun menyudahi obrolan bersama teman-teman virtualnya dan bergegas menuju barisan pemeriksaan dan hendak masuk ke jalur menuju pesawat.


Lagi-lagi perasaan Lili muncul. Ia merasa diperhatikan oleh seseorang. Namun, lagi-lagi Lili tidak melihat seorangpun yang mencurigakan.

__ADS_1


Lili berjalan terus dan akhirnya sampai di tempat duduknya di dalam pesawat. Kali ini Lili beruntung karena ada seseorang yang mengajaknya bertukar tempat duduk.


Begitu sampai di kursinya, Lili selalu melihat ke jendela. Seseorang yang duduk persis di samping jendela memperhatikannya.


"Kamu mau kita bertukar kursi? Sepertinya kamu suka memandang ke luar?" tawar seseorang itu dengan suara, senyuman, sapa yang hangat.


Lili menolaknya dengan sopan.


"Tidak apa-apa. Saya tidak keberatan kok kalau kamu mau bertukar kursi dengan saya. Waktu saya kecil, saya takut naik pesawat. Seseorang menenangkan saya dengan menunjukkan pemandangan yang luar biasa indah dari jendela. Sekarang saya sudah dewasa, saya rasa giliran orang lain yang perlu melihat keindahan di luar jendela," ucap seseorang tersebut.


Lili tersenyum.


"Wah, beruntung sekali Om waktu itu ya? Sekarang Om jadi orang dewasa yang baik hati... dan menganggap saya adalah seorang anak kecil yang sangat menyukai pemandangan di luar jendela. Hihihi..." balas Lili.


"Ya, hahaha... Walaupun kamu sudah bukan anak kecil lagi, saya yakin kesukaanmu kepada pemandangan di luar jendela pesawat tidak pernah berkurang. Iya kan?" ucap seseorang itu.


Maka, Lili pun berpindah posisi dengan bertukar kursi. Kini Lili duduk dengan nyaman tepat di samping jendela. Wajah Lili begitu sumringah.


"Terima kasih, Om. Oh iya, ngomong-ngomong, nama saya Lili," ucapnya memperkenalkan diri.


"Wah seperti bunga yang indah yang tumbuh di tempat yang sejuk. Sesuai dengan orangnya. Saya Mahendra. Saya ada perjalanan dinas dan begini, kemana pun selalu sendiri," ucap seseorang itu.


"Oh ya? Sama dong. Saya juga sedang melakukan perjalanan dinas... dan sama-sama sendiri, hahaha..." ucap Lili.


"Hahaha..." balas orang asing itu.

__ADS_1


"Banyak orang yang bilang melakukan perjalanan seorang diri itu begitu menyedihkan. Mereka bilang orang-orang seperti kita ini adalah orang yang kesepian sehingga patut untuk dikasihani," ucap orang tersebut.


Lili tersenyum. Ia memperhatikan orang yang begitu ramah kepadanya itu. Lili biasanya tidak sembarangan untuk berkenalan dan mengobrol dengan orang asing, tapi orang ini membuatnya begitu nyaman.


Sepertinya orang asing ini punya banyak pengalaman yang bisa diceritakan. Mungkin akan seru bagi Lili kalau menyimaknya.


"Apakah itu benar, kita adalah orang-orang yang kesepian? Hahaha..." ucap Lili menanggapinya.


"Bisa ya, bisa tidak. Tapi saya rasa kita sepakat kalau prosentase tidaknya lebih besar. Hahaha..." ucap orang asing itu.


Lili ikut tertawa kecil sambil mengiyakan perkataan orang tersebut.


"Mereka hanya tidak bisa paham bahwa kita sedang menikmati kebebasan. Iya kan? Kita bebas pergi kemana saja, bebas berteman dengan siapa saja, bahkan bebas bermain hati dengan siapa saja," ucap orang asing itu.


Mendadak senyuman Lili memudar. Ia menangkap perkataan yang mengandung unsur yang tidak sesuai dengan kenyamanan hatinya.


"Tenang, Dik. Saya bukan seperti orang yang Adik Lili anggap. Saya hanya menyampaikan kondisi umum di masing-masing kita. Begini, saya perhatikan ada seseorang yang memperhatikan Adik secara diam-diam. Menurut saya dia bukan orang jahat. Mungkin dia adalah salah satu orang bebas seperti kita yang menaruh hati pada Adik,, soalnya kelihatan dari matanya," ucap orang asing itu.


"Oh ya? Dimana?" Lili heran dan langsung celingukan meluaskan pandangannya sambil menegakkan tubuhnya agar lebih tinggi dan menjangkau ruang agar tak tertutup kursi-kursi.


Orang asing itu tersenyum. Seketika prasangka Lili mengenai orang di sampingnya itu pun langsung luntur. Mungkin orang asing ini adalah orang baik, tidak seperti yang ia sangka sebelumnya. Karena, orang asing ini hanya mengatakan apa yang ia lihat saja, bahwa ada seseorang yang sedang mengawasi Lili.


Lili tak dapat terus celingukan mencari-cari keberadaan orang misterius yang dikatakan oleh orang di sebelah Lili itu. Announcer telah mengumumkan bahwa para penumpang harus mempersiapkan diri dengan penerbangan. Semua orang diwajibkan duduk di kursinya dan memasang sabuk pengaman mereka.


Setelah jendela diminta untuk ditutup untuk sementara dan lampu dipadamkan, tidak ada lagi obrolan antara Lili dan orang asing itu. Masing-masing dari mereka mengambil kenyamanan mereka.

__ADS_1


Setelah itu, lampu kembali dihidupkan dan jendela diijinkan dibuka kembali. Pandangan Lili pun terpaku ke luar jendela.


__ADS_2