
Setelah mengompres kaki Victor, Lili duduk di sisinya. Ia menemaninya memulihkan kondisi. Karena, setelah ditanya berulang kali perihal kakinya perlu diobati ke klinik atau tidak, Victor selalu menolak.
"Udah lama banget gue ga main di fun fair. Bagi gue, fun fair ini punya kenangan yang sangat indah," ucap Lili bercerita dengan tatapan kosong ke depan.
"Sorry gara-gara gue kesan itu malah jadi rusak. Gue udah bikin lu ketakutan tadi di rumah hantu, juga ada insiden mati lampu dan sekarang lu malah jadi jalan sama orang pincang," balas Victor.
"Enggak. Semua itu ga membuat gue terganggu. Kenangan itu tetap indah. Mereka ada di sini, untuk selama-lamanya," ucap Lili lalu menyentuh dadanya. Mencerminkan bahwa kenangan itu akan tetap tersimpan di dadanya.
"Kalau lu mau, lu boleh cerita sama gue perihal apapun. Termasuk kenangan lu itu," ucap Victor.
"Ya. Fun fair waktu gue masih kecil adalah tempat yang sangat indah. Di sini gue menghabiskan akhir pekan bareng bokap dan nyokap tiri gue," ucap Lili.
"Kami begitu harmonis. Gue adalah anak cewek kesayangan mereka yang menggemaskan. Apapun yang gue pinta mereka akan kasih. Waktu-waktu itu nyokap tiri gue begitu sayang sama gue," lanjut Lili.
"Emangnya nyokap tiri lu kenapa? Emangnya doi selain lagi berada di fun fair ga sayang sama elu?" tanya Victor.
Lili menggeleng.
"Gue adalah beban bagi doi. Gue adalah penghancur kehidupan doi. Doi adalah cewek yang harusnya bebas di luar sana, tapi gara-gara ada gue doi berulang kali bilang kalau doi malah jadi babu yang terpenjara," ucap Lili.
"Sementara di fun fair, gue dengan begitu polosnya menikmati semua keharmonisan itu. Walaupun pahit kondisi yang ada di balik itu, tapi gue tetap menikmatinya, gue kenang dan simpan baik-baik di hati gue. Seenggaknya gue dulu pernah punya keluarga yang sebahagia itu," jelas Lili.
"Gue paham, Li, kenapa lu ga mau menikah. Lu itu punya trauma masa lalu yang membuat sebuah pernikahan di mata lu adalah sebuah momen yang ga mengenakkan. Apalagi lu cewek. Lu pasti ga mau menempati tempat yang sama dengan nyokap tiri lu itu kan?" batin Victor.
"Makasih ya, Tor. Lu udah ngajakin gue ke sini. Gue jadi bisa merasakan kenangan indah itu dengan senyata-nyatanya, langsung dengan mata gue yang terbuka. Gue bisa ngerasain manisnya gulali kapas lagi, bisa ngerasain gimana rasa takut masuk rumah hantu, juga gimana memandang tempat ini dari ketinggian lewat bianglala itu. Dan, hehe, gue sebenarnya tadi juga itu ngerjain elu, Tor. Waktu lu masuk tong setan, gue sebenarnya tahu lu ga suka tempat itu," jelas Lili.
__ADS_1
"Haha... Soal tong setan itu. Ya udah ga apa-apalah. Udah lewat juga. Lain kali jangan ajak gue ke sana lagi ya? Apaan, berisik gitu. Lagian bawa motor secara vertikal gitu ga safety tahu ga? Mana pengamannya mereka ga ada. Bisa aja kan mereka terguling sendiri di sana atau kalau misalnya ada error penonton bisa kena tabrak. Bukan ga mungkin kan motor mereka bisa jengking ke penonton gitu," ucap Victor. Ia mengomel-ngomel dan membuat Lili tersenyum.
"Tor... Victor... Victor... Hei. Iyaa... Gue ga akan ngajakin elu ke tong setan lagi. Lu lucu banget sih," ucap Lili.
Lili dan Victor menghabiskan malam di kursi panjang itu. Mereka bercerita-cerita selayaknya dua orang sahabat lama. Mereka begitu akrab dan saling antusias menyimak satu sama lain.
Hingga waktunya tiba, orang-orang sudah mulai sepi. Victor dan Lili pun beranjak pergi. Syukurnya Victor masih bisa berjalan kaki sehingga mereka bisa berjalan menuju ke tempat parkir mobil yang sedikit jauh itu.
Mereka jalan pelan-pelan.
"Lihat deh. Dari sini langitnya terlihat terang banget, beda dengan waktu kita di dalam tadi," ucap Victor sambil berjalan kaki di luar areal fun fair.
"Iya, soalnya tadi di dalam lampu-lampunya pada terang banget jadi kita kesilauan kalau mau ngelihatin bintang-bintang di langit," ucap Lili yang juga melihat ke langit. Mereka menghentikan langkah sejenak untuk sekedar menengadah ke langit.
"Gue suka ngelihatin bintang-bintang di langit kaya gini. Soalnya jarang gue lakuin. Mungkin benar apa yang ku bilang soal lampu, lampu-lampu di lingkungan gue membuat gue kesilauan kalau mau lihat bintang," ucap Victor.
"Jangan Li," ucap Victor.
"Hah? Kenapa?" tanya Lili.
"Lu lihat dua titik itu?" ucap Victor menunjuk ke arah langit.
"Yang mana? jari lu nge-bug tuh, nunjuknya kemana, mata gue kemana," ucap Lili.
"Ye, itu mata elu yang nge-bug. Sini sini. Nah yang itu," ucap Victor sembari meraih jari Lili dan mengacungkan ujung telunjuk Lili ke arah bintang yang ia maksud.
__ADS_1
"Oh, yang dua itu?" ucap Lili.
"Iya," jawab Victor.
"Kenapa dengan mereka?" tanya Lili yang kemudian mengalihkan matanya ke wajah Victor uang masih tertengadah ke atas.
"Jarak antara keduanya aja udah milyaran tahun. Di antara keduanya itu ada ruang hampa yang gelap. Gue ga mau lu nyasar si sana Li," ucap Victor sambil memandangi bintang.
Sementara Lili, ia menatap Victor dengan lekat-lekat.
"Kenapa, kenapa Victor jadi seperti ini? Apa yang sedang terjadi sekarang? Tapi percuma, Tor. Lu ga akan bisa ngambil hati gue apapun yang terjadi. Sorry Tor, kita hanya bisa sebatas teman," batin Lili sambil memandangi Victor yang tengah memandang ke langit.
Victor lalu merasa hening, "kenapa omongan gue ga digubris?" batinnya. Victor pun mengalihkan kembali pandangannya. Ia tak langi memandangi bintang, ia ingin melihat apa yang sedang Lili lakukan.
Mata Victor menangkap basah Lili yang tengah memandanginya. Mata Lili memandangnya dalam-dalam. Sepersekian detik Lili pun langsung mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Sebuah sikap yang kikuk.
"Li, elu..." ucap Victor.
"Apa? Gue kenapa?" tanya Lili tanpa melihat ke arah Victor.
"Elu udah membuka hati buat gue?" lanjut Victor.
"Idih. Siapa juga yang membuka hati. Biasa aja kali. Hati gue biasa-biasa aja, ngapa pakai terbuka tertutup gitu?" tanya Lili kikuk.
"Jadi, elu bisa nerima gue Li?" tanya Victor.
__ADS_1
"Apaan sih lu, Tor? Yuk balik ah. Ga cuma lu yang ngehalu, lama-lama gue juga jadi bisa masuk angin di sini," ucap Lili menarik paksa Victor.