Dicintai Brondong Online

Dicintai Brondong Online
30. Ditembak Victor


__ADS_3

Lili memasuki ruang kerja Victor dengan percaya diri dan profesional. Tapi, bukannya ia melupakan sifat Victor yang jelalatan, ia tetap waspada dengan menyuruh salah satu staf junior mengganggu mereka setelah lima menit ia berada di ruangan itu.


TOK... TOK... TOK...


"Ya, Lili. Masuk. Sudah lama saya menunggu kamu," ucap Victor.


"Iya Pak," ucap Lili.


"Eh, jangan lupa pintunya bisa tolong ditutup kembali," ucap Victor.


"Oh, oke Pak. Nah, sudah," ucap Lili.


"Silakan duduk, Li," ucap Victor.


"Terima kasih. Bapak ada perlu apa ya dengan saya?" tanya Lili.


"Udah, ga usah formal-formal banget. Gini, Li. Gue ada projek ke Bali buat ngecek investor kita. Nah, lu kan jago buat nge-lobby tuh, makanya gue minta elu yang pegang projek ini," ucap Victor.


"Investor yang di Bali? Maksud lu si Sutta?" tanya Lili.


"Ya. Tim gue nyium gelagat mencurigakan dari dia, tapi sayang banget kalau seumpama investasi kita putus gara-gara kelakuan dia. Gue yakin lu bisa ngebujuk bokapnya buat ngambil alih kuasa si Sutta," ucap Victor dengan serius.


"Iya sih. Gue juga pertama kali ketemu Sutta, rasanya ada yang bikin gue ga srek gitu. Ga tahu apaan. Ya, tapi kalau gue cuma ngandelin naluri doang jadi ga profesional namanya," ucap Lili.


"Jadi apa isunya?" tanya Lili.


"Penggelapan aset. Gue pernah minta laporan pihak Sutta, angka yang mereka tunjukkan gue rasa ga logis gitu," jelas Victor.


"Oh gitu. Udah riset duluan dong berarti lu. Lumayan kalau gue jadi nge-handle projek itu, gue jadi ada bahan buat pegangan. Oh iya, bye the way, itu projekan buat gue sendiri apa buat nemenin elu?" tanya Lili.


"Buat elu sendiri. Gue ga ikut. Gue ada kerjaan lain. Ini, CI management divisi gue kan belum kelar," ucap Victor.


Lili menghela napas lega. Lili kira ini bagian dari akal-akalan Victor untuk dapat berlibur ke Bali bersamanya. Tenyata ini dirasa murni soal pekerjaan.


"Gimana? Lu bisa kan ngambil projek ini?" tanya Victor.


"Kebetulan pekerjaan gue ga yang padat banget gitu sih. Tapi, kita perlu menunggu keputusan Bu Eva dulu. Doi bakal ngebolehin gue pegang projek itu apa enggak," jawab Lili.


"Oke. Berarti di elu udah oke, tinggal gue urus ke Bu Evanya," ucap Victor.

__ADS_1


"Yup. Ada yang lain?" tanya Lili.


"Wus... Entar dulu. Lu ngapa buru-buru amat sih? Nyantai dulu lah di ruangan gue. Ngadem di sini. Daripada di tempat lu yang meja kubikan itu. Pasti ga nyaman, udahlah rame, gerah juga," ucap Victor.


"Bukannya gerah, Tor. Elu aja yang terbiasa dengan AC sekenceng gini. Kalau gue yang lama-lama di sini yang ada gue bisa beser," ucap Lili.


"Hahaha... Elu Lik, bisa aja. Paling jago dah bikin gue hepi," ucap Victor.


"Oh, jadi sekarang gue ambil side job sebagai komika yang tukang menghibur lu gitu?" protes Lili.


"Gue balik ya? Yang tadi tinggal urusan lu sama Bu Eva kan?" ucap Lili kemudian hendak berdiri dari duduknya.


"Sebentar dulu, sebentar dulu. Ih, lu nih ngapa buru-buru amat? Gue mau nanya nih," ucap Victor.


"Ya, apaan? Buru. Nanya tinggal nanya," ucap Lili.


"Kondisi kaki lu udah sembuh?" tanya Victor.


Lili pun langsung berdiri dan hendak meninggalkan Victor. Namun, Victor menahan langkah Lili. Dengan cepat Victor mencegat Lili sehingga Lili tidak jadi pergi.


"Kenapa sih, Li, lu ga pernah respek sama bentuk perhatian dari gue?" tanya Victor.


"Kenapa gitu? Elu ga mau berteman sama gue?" tanya Victor.


"Ga cuma sama elu, gue juga ogah berteman sama orang lain. Lu perhatiin aja mana ada orang korporat yang benar-benar dekat sama gue," jawab Lili.


"Iya, sih. Tapi kenapa Li? Di sini orangnya baik-baik loh. Ga ada persaingan yang menjatuhkan. Ga kaya korporat sebelah. Di sana orang silih berganti resign," jelas Victor.


"Iya. Di sini orang-orangnya pada baik," jawab Lili.


"Lah terus? Ayolah, Lik. Ga ada alasan lu buat nutup pertemanan di sini. Termasuk sama gue," bujuk Victor.


"Ga tau. Gue ga bisa aja, Tor. Gue lebih cocok berteman sama orang yang itu-itu aja, walau pun circle kecil tapi intens. Gue ga bisa buka pintu ke banyak orang buat bisa dekat sama gue. Gue memang gitu kan dari dulu," jelas Lili sembari berjalan ke arah jendela. Ia menjelaskan sambil memunggungi Victor.


"Kalau begitu... " Victor pun jalan mendekat.


"Ijinkan gue dekat sama elu dengan perasaan yang gue punya ini terhadap lu," ucap Victor sambil menepuk sebelah pundak Lili dari belakang.


Lili pun menjatuhkan tangan Victor dari bahunya. Ia berbalik dengan tatapan heran.

__ADS_1


"Perasaan apaan? Ga ada itu. Ga ada pake perasaan-perasaan. Ga boleh. Kita rekan kerja yang profesional, Tor," ucap Lili.


"Di kantor iya, tapi di luar kan ga masalah? Ga ada yang ngelarang kok?" ucap Victor.


"Ga ada yang ngelarang, bener lu bilang. Tapi, kan belum tentu gue punya perasaan yang sama dengan lu. Apa hal semacam itu bisa dipaksain?" tanya Lili.


"Nah ini. Membicarakan hal-hal pribadi di jam kerja aja udah sangat ga profesional. Udah berapa lama kita ngobrolin hal ini? Jadi korup waktu kan namanya," ucap Lili sambari melihat arlojinya.


"Santai aja sih, Li. Kenapa lu kaku banget," protes Victor.


"Gue permisi," ucap Lili sembari melangkah pergi.


Tangan Lili pun tertahan oleh genggaman tangan Victor.


"Please Li. Kasih gue kesempatan. Gue cinta sama elu," ucap Victor dengan tatapan yang sangat dalam dan wajah yang begitu dekat.


"Gue... udah... punya... pacar. Paham?" jawab Lili singkat.


TOK TOK TOK...


Suara ketukan pintu membuat Victor melepaskan tangan Lili dan bergeser sedikit menjauh dari tempatnya semula.


"MASUK," sahut Victor.


"Permisi... Pak Victor, Bu Lili," ucap salah satu staf yang datang itu.


"Ya? Ada apa?" tanya Victor.


"Anu, Pak... Bu Lili. Bu Lili diminta menghadap Bu Eva. Beliau ada perlu katanya," jawab staf tersebut.


Lili pun menengok kembali ke arah Victor lalu mengangkat alisnya. Victor lalu mengangguk, mengisyaratkan mempersilakan Lili pergi.


"Baiklah, saya permisi dulu Pak," ucap Lili.


Lili pun pergi bersama staf tersebut meninggalkan ruangan Victor.


Setelah sampai di luar ruangan, Lili melotot kepada staf tersebut. "Ini sepuluh menit, bukan lima menit!" ucap Lili pelan.


"I-iya, maafkan saya, Bu," ucap staf tersebut.

__ADS_1


Lili pun pergi meninggalkannya. Staf tersebut kikuk sambil menggaruk kepalanya.


__ADS_2