
"Saya paling ga tega melihat Mbak dalam keadaan begini," ucap Kiki.
Lili yang berada di dekapan Kiki mendorongnya sekuat tenaga tapi Kiki tetap menahannya di dalam pelukannya.
"Palsu! Kalian palsu! Jangan berlagak baik sama gue!" ucap Lili yang masih mendorong tubuh Kiki.
"Saya ga akan melepaskanmu, Mbak," ucap Kiki sambil memaksa kepala Lili ia tenggelamkan di dadanya.
"Kalian palsu! Yang asli pasti mati! Kalian palsu!" ucap Lili sekali lagi.
"Oke, Mbak. Oke!" ucap Kiki yang melepaskan dekapan Lili karena sedari tadi Lili bersikeras melepaskan Kiki.
"Saya memang orang yang dibayar Celine untuk mendekati kamu, tapi cinta saya asli kepadamu, Mbak!" ucap Kiki tegas.
"Pergi lu sana! Pergi!" ucap Lili sambil mendorong mundur Kiki menuju pintu.
Kiki berjalan mundur dan ketika Kiki sudah terpojok di pintu, ia pun bermanufer. Diputarnya posisi mereka, hingga kini Lili yang terpojok dan bersandar di pintu. Kiki menahannya dengan tangannya.
Kiki menyeka wajah Lili denan telapak tangannya. Ia mencoba membersihkan noda hitam yang mengotori pipi Lili di mana itu adalah make up di tepi mata Lili yang luntur.
"Saya benar-benar tak menginginkan hal ini terjadi, Mbak," ucap Kiki pelan. Sementara Lili menangis dalam pejamnya. Sesekali Lili menggeleng mendengar Kiki berbicara.
"Saya serius bahkan saya akan menikahimu, Mbak," bisik Kiki sembari menempelkan pipinya ke pipi Lili. Kiki berbisik tepat menghadap ke salah satu telinga Lili.
"Saya menginginkanmu, Mbak," ucap Kiki. Tubuh Kiki sudah menahan tubuh Lili hingga Lili tak dapat memberontak lagi. Mereka benar-benar berhimpitan.
Mereka bertatapan. Lantas, Lili menggeleng.
"Percaya sama saya, Mbak. Percayalah," bujuk Kiki yang terus menatapnya dalam.
Kiki mendekat, nyaris mengenai mulut Lili. Namun, Lili mendorongnya kuat-kuat di tengah cengkeraman Kiki yang melemah.
"Lili?" panggil Kiki kecewa.
"Jangan sentuh gue, cowok bayaran!" ucap Lili geram.
Kiki memaksa untuk kembali mendekap Lili. Kali ini mereka melakukannya di sisi dinding yang lain.
"Jangan muna, Mbak. Kamu sebenarnya senang kan bila ada di dekat saya seperti ini?" ucap Kiki.
"Lepas!" ucap Lili meronta.
"Lupa waktu kamu demam malam itu? Lupa apa yang saya katakan ke kamu? Saya tidak akan pergi, kamu sendiri yang minta," bisik Kiki.
"Itu karena gue belum tahu bahwa lu adalah penipu," balas Lili.
"Saya bukan penipu. Saya dibayar Celine untuk mendekati kamu. Lalu saya jatuh cinta sama kamu. Jadi, bukan penipu, hanya cinta yang kebetulan dibayar. Dengan itu kita bisa sedekat ini. Itu hanya jalannya saja, Mbak," protes Kiki.
__ADS_1
"Kalau bayaran lu macet, cinta lu buat gue juga ga akan ada apa-apanya lagi," ucap Lili.
"Serius, Mbak. Bukan seperti itu," ucap Kiki.
"Udahlah, Ki. Lu pergi aja," ucap Lili.
"Ga akan. Saya sudah janji, saya ga akan pergi meninggalkan Mbak," ucap Kiki.
"Saya benar-benar mencintaimu, Mbak," ucap Kiki. Lagi-lagi Kiki mencoba mendekati Lili. Ia membujuk dengan kedua matanya yang menatap sangat dalam.
Akhirnya mulut Kiki mendarat tepat di tempat yang ia mau. Tempat yang cukup manis di mana senyum dan tawa Lili biasa terukir di sana.
Lili membiarkannya. Ia tak bisa menahan apa yang berdegup di dalam dadanya. Hingga pada akhirnya Lili tersadar ada yang mulai menjalar di pahanya.
Lili kemudian mendorongnya kasar.
"Jangan seperti itu, Mbak," ucap Kiki dengan lemah lembut, tapi perilakunya tidak demikian.
BUUG...
Tubuh Lili dibenturkan di pintu kemudian Kiki kembali menghimpitnya. Lili meronta dan mengangkat tubuhnya menjauh dari pintu.
Lagi-lagi...
BUUG...
Lili kemudian menendang ************ Kiki agar bisa melepaskan diri.
BRAAK...
Pintu itu membuka dengan keras.
"Apa yang kalian... " Itu adalah Victor. Ia sengaja membuka pintu itu setelah beberapa kali ia mendengar keributan dari luar.
Victor menarik pergelangan tangan Lili hingga Lili berpindah ke sisinya.
"Berani lu mau macam-macam sama Lili?" ancam Victor.
"Hei, Abang Mesum! Jangan campuri urusan kami! Balikin cewek saya ke sini!" ucap Kiki.
"Mesum? Bukannya lu yang baru aja berniat berbuat mesum ke Lili?" tegas Victor.
"Lu ga kenapa-kenapa kan Li?" tanya Victor pelan.
Lili menggeleng. Wajah Lili benar-benar tampak berantakan, rautnya memperlihatkan bahwa Lili sedang tertekan.
"Ini yang lu bilang pacar? Lu tega giniin pacar lu sendiri?" ucap Victor kepada Kiki.
__ADS_1
"Justru saya sedang mencoba menenangkannya! Dia itu tadi... " ucap Kiki.
"Jangan banyak bacot!" ucap Victor sambil menodongkan senjata api kepada Kiki.
"Hahaha... " Kiki tertawa kikuk sambil mengangkat kedua tangannya.
"Mbak, temenmu ini sudah gila, Mbak. Ngomong-ngomong, kamu ga mau belain saya, Mbak?" ucap Kiki dengan suara yang gemetar.
Lili masih diam. Ia memperhatikan kedua laki-laki itu begitu saja, tanpa bicara apapun, tanpa bertindak apapun. Lili ketakutan dengan apa yang sedang dilihatnya, sebuah senjata api. Senjata itu bisa kapan saja ditarik pelatuknya dan bisa kapan saja berganti arah ke depan kepala Lili. Jadi, dengan alasan ketakutan itu Lili hanya diam saja.
Victor melangkah memutar pelan-pelan bersamaan dengan Lili yang ia bawa di sisinya. Kiki yang ditodongkan senjata jadi berjalan berputar mengikuti Victor. Kiki yang kini berdiri di depan pintu yang menganga, sedangkan Victor dan Lili ada di arah sebaliknya.
"Pergi lu sana, sebelum gue berubah pikiran!" ucap Victor sambil masih menodongkan senjata kepada Kiki.
Kiki yang ketakutan pun pergi. Setelah Kiki tak tampak lagi, Victor oun menurunkan senjatanya dan menutup pintu dari dalam.
"Li, lu ga apa-apa kan?" tanya Victor.
Lili masih diam dan gemetar. Ia memperhatikan Victori kembali menaruh senjatanya di balik ikat pinggangnya.
"Oh, lu takut sama ini? Tenang aja, ini aja belum gue kokang, gimana gue bisa nembakinnya," ucap Victor.
Lili menghembuskan napas lega sambil mengelus dadanya.
"Duduk, biar tenang," ucap Victor. "Tunggu di sini biar gue ambilin lu minum," ucap Victor.
Lili pun duduk di sofa. Victor cekingukan kemudian bertanya, "dimana gue bisa ambilin lu minum?"
"Di samping kulkas di sana," jawab Lili.
Victor pun pergi dan kembali dengan membawa sebotol air dingin dan dua buah gelas bertangkai.
Victor menaruhnya di meja depan Lili lalu menuangkannya ke satu persatu gelas. Victor lalu memberikannya kepada Lili. Lili menerimanya dan meneguk minuman itu.
"Thanks ya, Tor. Tapi ngapain lu bawa-bawa pistol kaya gitu?" tanya Lili.
"Akhir-akhir ini kriminal makin membahayakan di kota kita, jadi gue jaga-jaga," ucap Victor."
"Gue ga percaya," ucap Lili.
Victor bergeser duduk di samping Lili. Victor menaruh helaian rambut Lili yang jatuh di keningnya. Ia menyangkutkannya di belakang telinga Lili dengan ujung jarinya.
"Lu kelihatan ga sehat, Li. Pacar lu itu udah parah banget sampai bikin lu kaya gini," ucap Victor.
"Ga sepenuhnya salah dia juga. Tadi gue abis dari persidangan sohib gue. Gue sebagai saksi di sana dan gara-gara itu gue ngedrop kaya gini," jelas Lili.
"Ngomong-ngomong lu kenapa tiba-tiba datang ke sini? Mau ada perlu apa?" tanya Lili kepada Victor.
__ADS_1