Dicintai Brondong Online

Dicintai Brondong Online
50. Cowok Bayaran


__ADS_3

"Bener-bener nih, pasti kerjaan Barista Coffee! Mau berlagak sok misterius. Nyebelin banget. Awas aja kalau ketemu nanti!" gumam Lili yang kembali dari teras kamar hotelnya.


Lili pun beristirahat. Besok ia akan melakukan janji temu dengan kliennya.


*


Malam hari menjelang dini hari. Ponsel Lili bergetar di samping tempatnya tidur. Lili pun terbangun dan meraih ponsel yang ada di meja itu. Matanya masih separuh terbuka.


Lili membuka layar di ponsel tersebut. Tulisan di layarnya membuat mata Lili yang separuh terbuka itu menjadi terbelalak.


"Ih, ngapain Kiki ngechat gue beginian?" gumam Lili.


Kiki


Mbak, kamu ga kangen saya?


Kiki


Mbak, bales dong sesekali. Lagi kangen nih.


Lili


Ganggu banget. Gue tidur.


Kiki


Ih masa tidur bisa balas chat?


Kiki


Mbak, saya ke tempat Mbak sekarang ya?


Lili


Bodo amat.


Lili pun langsung mematikan layanan data di ponselnya sehingga ponselnya itu tidak lagi bisa menerima pesan chat karena sambungan internetnya mati.


Tak lama kemudian...


TOK TOK TOK


"Hah? Siapa malam-malam yang ngetok-ngetok pintu? Nyeremin amat?" gumam Lili. Lili pun melihat jam dan bertambah rasa kesalnya.


"Dini hari! Gila! Siapa sih itu?"


Lili pun bangkit dan mengintip di celah lensa di pintu. Ia melihat seseorang yang menggunakan topi dan masker.


"SIAPAAA...?" teriak Lili dari balik pintu.

__ADS_1


Saat diteriaki, orang tersebut pun pergi. Lili bisa melihatnya melalui celah lensa pintu.


"Ih, ngeri banget sih. Kayanya tu orang psikopat deh?" gumam Lili.


"Yah, ngapain gue teriak tadi ya? Kan doi jadi tahu kalau gue di dalam?" lanjutnya.


Lili pun duduk dan menelepon pihak hotel. Ia mengeluh tentang upaya teror seseorang penguntit. Pihak hotel melalui sambungan teleponnya mencoba menenangkan Lili.


"Kami memiliki CCTV di berbagai sudut ruangan, Nona. Seumpama Nona berkenan, Nona bisa meminta rekamannya untuk meneruskannya ke pihak berwenang kalau Nona mau," tawar pihak hotel.


"Kalau jasa teman bermalam, ada ga?" tanya Lili serta merta.


"Oh, Nona mau layanan kamar tambahan? Kami ada sediakan. Silakan hubungi nomor berikut, Nona," ucap pihak hotel.


Entah mengapa Lili justru berpikiran untuk memakai jasa teman kencan. Lili pun diarahkan untuk memilih orang di antara pilihan yang ada. Lili memilih seorang laki-laki dengan tubuh tegap dan besar.


"Gue bukan mau wik wik, gue cuma mau merasa aman," gumam Lili setelah memanggil jasa tersebut.


Setelah ditunggu-tunggu, orang yang dipanggil pun datang. Orang tersebut berlaku genit kepada Lili, tapi Lili dengan tegas menyampaikan niatannya.


"Duduk, Mas. Silakan. Di sana," ucap Lili tegas setelah orang tersebut masuk dan pintu kamar dikunci.


Orang tersebut pun duduk, tapi sikapnya masih membuat Lili risih. Ia duduk dan hampir membuka kancing teratas baju kemejanya.


"Eh, eh. Mau ngapain lu Mas? Ga! Ga pakai acara buka-bukaan begitu. Dengerin gue," ucap Lili mengomelinya.


"Gue di sini membayar Mas karena gue hanya minta Mas jagain gue tidur. Gue merasa ada penguntit yang neror gue," lanjut Lili.


"Aduh, repot banget kalau harus berurusan sama polisi," jawab Lili.


"Jadi oke ya? Gue bayar lu semaleman. Tapi ga pakai acara berhubungan badan," ucap Lili tegas.


"Oh, iya iya. Tapi saya ga mau dibayar buat berantem ya Mbak. Saya ga bisa kalau yang begitu-begitu," ucap orang asing tersebut.


"Ah, gimana sih? Badan doang gede, kelahi ga bisa!" protes Lili.


"Kalau itu terjadi, gue bakal bayar lu langsung dua kali lipat. Gimana?" ucap Lili.


"Tiga kali lipat," tawar orang asing itu.


"Ih, nyebelin banget. Ya udah, iya," ucap Lili.


"Ya udah. Gue mau tidur. Lu jangan macam-macam ya selama gue tidur!" ucap Lili.


"Saya tidur di mana, Mbak?" tanya orang asing itu.


"Tuh, di situ aja," ucap Lili sambil menunjuk ke arah sofa. "Eh, tapi ya jangan tidur juga lah. Kan lu gue bayar buat ngejagain gue. Masa tidur?" protes Lili.


"Iya Mbak, iya. Saya jagain dari sini ya. Tapi boleh lah kalau sambil baring-baring. Capek juga kali kalau standby semalaman," ucap orang asing itu.

__ADS_1


Lili pun beranjak istirahat di tempatnya yang terpisah dari orang asing bayarannya itu.


Pagi pun tiba.


TOK TOK TOK


Ketukan di pintu itu membangunkan Lili dan orang bayarannya.


"Heh, lu tidur?" protes Lili yang melihat wajah orang asing itu berantakan.


"Hehe... ya sorry, saya ketiduran Mbak," jawab orang itu.


Lili pun beranjak ke pintu dan mengintip melalui celah lensa pintu. Itu adalah Kiki. Lili benar-benar terkejut. Ia hampir tak bisa percaya.


Lili pun membuka pintu dengan bersemangat. Walau pun Lili membencinya, ia tidak dapat menampik perasaan yang masih ia simpan.


" Kiki? Lu di sini?" ucap Lili di depan pintu yang terbuka.


Kiki pun tersenyum tapi senyumannya itu memudar begitu Kiki dapati seorang lelaki bertubuh kekar ada di dalam kamar.


"Itu siapa, Mbak?" tanya Kiki.


"Oh iya, ga usah dijawab. Saya sebenarnya cuma mau ngasih ini," ucap Kiki. Ia memberikan sekotak makanan untuk sarapan Lili. Setelahnya, Kiki pun segera pamit dan hendak meninggalkan Lili.


"Waduh. Kayanya lu salah sangka deh," ucap Lili yang kata-kata itu sempat menahan sebentar langkah kaki Kiki. Kiki pun kembali melangkah pergi.


"Ya, ga penting juga sih lu percaya atau enggak," ucap Lili kecewa.


"Iya, kenapa gue harus klarifikasi sama dia? Emang dia siapa? Sesuka hati gue dong mau bayar jasa cowok panggilan. Dia punya hal apa," gumam Lili.


"Ada apa?" tanya orang asing itu ketika Lili sudah menutup kembali pintu kamarnya.


"Ga penting," ucap Lili ketus.


"Ya udah. Ini sudah pagi. Tugas saya sudah selesai kan?" tanya orang asing tersebut.


Pintu kamar belum benar-benar tertutup. Lili hendak membayar orang asing itu lalu Kiki pun datang. Kiki menyaksikan transaksi itu.


"Ki?" Lili terkejut.


"Mbak, kamu membenci saya karena saya adalah cowok bayaran, tapi kenyataannya kamu sendiri melakukan hal seperti ini? Mana yang lebih buruk?" ucap Kiki.


"Hah?" Lili melihat ke arah Kiki lalu ke orang asing itu, lalu ke Kiki lagi terus-menerus secara bolak-balik.


"Ini ga seperti yang elu sangka, Ki," ucap Lili.


"Ih, kenapa gue jadi sibuk klarifikasi sama elu? Terserah juga sih anggapan lu mau gimana," ucap Lili.


"Mbak, sekarang saya di sini. Kamu tahu? Saya di sini. Saya ga akan ninggalin kamu. Itu janjiku. Kamu ga perlu mencari orang lain, saya sudah di sini," ucap Kiki yang mendekat dan memegang kedua bahu Lili.

__ADS_1


"Eh, sangka lu gue ngapain? Idih," ucap Lili.


"Iya, gue dibayar bukan buat muasin nafsu. Gue dibayar buat jadi satpam. Gue sama sekali ga nyentuh dia. Oke Mbak. Thanks. Gue pamit," ucap orang asing itu. Ia pun pergi


__ADS_2