Dimadu Tak Semanis Madu

Dimadu Tak Semanis Madu
BAB 19


__ADS_3

Yang terpenting adalah kini dia hidup berkecukupan. Adik dan Bapak nya tidak perlu hidup susah dan cape bekerja lagi di kampung. Mau bagaimana lagi? Jika tidak begitu, maka mungkin Siti akan segera mengakhiri pernikahan nya dengan Lee saat ini.


Hampir sepekan ini mereka menghabiskan waktu berlibur di pulau seribu pura. Bali.


Meski mereka menghabiskan waktu selama sepekan, tidak ada yang terjadi diantara mereka. Bahkan Siti harus merelakan waktunya terbagi dengan wanita lain.


Terkadang Lee pergi sebentar untuk menemani Noura makan malam atau sekedar jalan-jalan. Lalu Siti? dia akan pergi bersama para bodyguard yang disiapkan oleh mertuanya.


Siti merebahkan badannya yang masih terasa pegal-pegal akibat perjalanan mereka ke Bali kemarin.


Tok Tok Tok


Dengan malas Siti menjawab suara ketukan pintu. " Masuk Lee".


Kreeekkkk.


Pintu terbuka, Lee muncul dari balik pintu dengan sedikit keraguan yang dia tampakan di wajahnya.


"Kenapa?" Tanya Siti.


Lee tersenyum kaku. "Aku tidur disini ya"


Dahi Siti mengkerut. "Iya, boleh". Lalu kembali menenggelamkan wajahnya di atas bantal.


Lee mendekat, dan naik ke ranjang. Dia berbaring di samping istrinya.


Lee terlentang. Tangannya dia simpan diatas dada, matanya memandang lurus ke atas langit-langit.


"Tidakkah kita akan memiliki anak?" Tanya Lee.


Siti membuka matanya seketika. Otaknya berusaha mencerna apa maksud dari ucapan Lee barusan?


"Mungkin keluarga kita akan sangat bahagia jika kita memiliki anak"


Siti membalikan badan, kini dia bisa melihat suaminya dengan jelas.


"Taukah Lele, bahwa kehadiran seorang anak bukanlah untuk membahagiakan beberapa anggota keluarga"


"Hmm. Aku tau itu" Posisi Lee masih tetap sama. " Tapi aku juga ingin menjadi seorangpun Ayah aku rasa". Dia menoleh ke arah Siti. mata mereka kini beradu pandang.

__ADS_1


"Kamu yakin ingin memiliki anak dariku? bukan dari Noura? Apa kamu ingin memiliki anak dari kami berdua?" Mata Siti Mukai berlinang.


Lee mengerti dengan pasti apa maksud ucapan Siti.


"Aku hanya ingin memiliki anak dari istriku. bukan dari kekasihku"


Air mata Siti mulai menetes di sudut matanya, membasahi permukaan bantal yang menempel di wajahnya.


Apakah dia harus bahagia dengan pernyataan Lee? Tapi kenapa dia begitu sangat merasa tersakiti?


"Baiklah." Suara Siti parau.


Lee tersenyum tipis, wajahnya mendekat, dan satu kecupan mesra mendarat di kening Siti.


"Tidurlah, kamu pasti lelah"


Siti kembali membalikan badannya, dan membelakangi Lee. Dekapan hangat dari suaminya membuat Siti tertidur lelap.


*****


Rutinitas pagi seperti pagi-pagi sebelumnya. Setelah tahajud dan solat subuh, Siti memberitahu badan kemudian memasak untuk Lee.


Hidangan sederhana untuk sarapan pagi. Sebuah roti panggang dan rebusan telur ayam, semangkuk salad buah favorit Lee.


Pertanyaan Lee membuat Siti menghentikan kunyahannya. Matanya tak berkedip menatap suaminya.


"Aku ada waktu tiga hari di ahir pekan nanti, kalau kamu mau kita bisa pergi berkunjung"


Mata Siti membulat sempurna, senyuman lebar menghias wajahnya. Sangat bahagia yang Siti rasakan membuat dia berlari dan memeluk suaminya yang sedang sarapan.


"Makasih ya Lee..." Siti memeluk Lee erat, sesekali dia mencium pipi suaminya.


"Aku seneng banget Lee... gak sabar peher ketemu Bapak. makasih... makasih... makasih" Ucapnya dengan ciuman yang bertubi-tubi menghujani wajah Lee.


"Sarapan dengan gizi yang over dosis"


Siti tersipu malu. "He he he maaf..."


"Tak apa, lanjutkan saja. Siapa tau aku berubah jadi gemuk kalau sarapan selalu seperti ini" Candanya

__ADS_1


Mmuaachhh.


Satu kecupan lagi, mendarat di pipi Lee. Lee meletakkan sendok dengan secepat kilat, di tariknya tengkuk istrinya.


"Sesekali berikan disini". Bisik Lee seraya melepaskan ciuman panas di bibir istrinya. Ciuman yang sedikit liar membuat lipstik berwarna nude keluar dari garis bibir Siti.


"Kamu ini..." Siti menepuk dada suaminya dengan manja.


Sorot mata teduh yang Lee pancarkan, senyuman manis dan lesung pipi Lee, membuat jantung Siti selalu berdegup kencang.


Dengan keberanian yang dia kumpulkan entah darimana, Siti meraih kedua pundak suaminya, dan mencium kembali bibir Lee.


Sarapan yang sangat menggairahkan.



Hai Readers πŸ‘‹



Maaf ya baru bisa up lagi. Author sibuk dengan proyek lain.



Semoga cerita yang sangat sedikit ini bisa mengobati rasa rindu kalian pada Siti dan Lee. Nanti akan selalu up terus ya Readers πŸ‘πŸ‘



Biar author nya semakin semangat. Mohon barikan



βœ“ Krisan


βœ“ vote


βœ“ like n komentnya


βœ“ Masukan ke daftar favorit kalian ya.

__ADS_1



Terimakasih πŸ™β˜ΊοΈπŸ€—πŸ˜


__ADS_2