Dimadu Tak Semanis Madu

Dimadu Tak Semanis Madu
Bonus #2


__ADS_3

Usia Aksa sudah lima tahun. Setiap pagi aku akan selalu mengantar dia berangkat sekolah siraman kanak-kanak, jaraknya agak lumayan jauh. Dia sekolah di sana sesuai keinginan ayahnya, Erlangga. Saat masih hidup, Erlangga selalu bercerita ingin menyekolahkan anaknya di sana. Sebuah sekolah elit yang bayarannya melebihi anak kuliahan.


Tidak heran, Aksa kecilku sudah sangat pintar dalam segala hal. Erlangga pasti sangat bangga melihat anaknya tumbuh dengan baik dan hebat. Ah! andai dia masih hidup, baik Erlangga maupun Aksa pasti akan sangat bahagia.


Kerap kali Aksa selalu menatap penuh iri saat melihat temannya di jemput ayah mereka. Di gendong lalu di angkatnya ke atas. Bercanda penuh kehangatan.


"Sayang, yuk kita pulang," anjakku kala itu. Tatapannya tidak berpaling sedikitpun. Anakku masih melihat kehangatan dan kebakaran yang dilakukan temannya dan ayahnya. Sakit.


Aku jongkok, menyetarakan tinggi ku dengan Aksa. "Sayang ...." ku tatap matanya yang penuh dengan kesedihan di dalamnya. Ingin rasanya aku menangis. Tidak, itu tidak boleh terjadi. Aku harus kuat di hadapannya.


"Mau ketemu ayah?" dia merespon. Menatap dengan sedikit harap. "Ayo, kita jenguk ayah."


Aksa tersenyum riang. Dia menarik tanganku dan segera bergegas menuju mobil. Sesampainya di makan, Aksa selalu berlari menuju tempat penjual bunga. Dia selalu membeli bunga sangat banyak, bucket dan juga bunga untuk dia tabur. Begitulah Aksa, dia yang selalu rindu pada ayahnya akan senang saat dia kubawa ke makam Erlangga.

__ADS_1


"Ayah, hari ini aku dan bunda datang. Ayah tau gak? tadi di sekolah dapat nilai besar lagi loh ... kata bunda aku pintar seperti ayah.


Ayah, jangan beritahu bunda. Aku dikasih permen sama Gisel di sekolah, kalau bunda tau pasti marah, nanti gigiku bolong dimakan ulet katanya. Ayah janji, ya. Ini rahasia kita." Aksa berbisik pada pusara Erlangga. Sesak rasanya melihat dia seperti itu setiap kali kami ke sini.


Aksa akan bercerita tentang harinya pada pusaran Erlangga. Seakan dia sedang berbisik pada ayahnya. Ya Allah ... andai saja Erlangga masih hidup, dia akan bercerita padanya, berbisik-bisik di belakangku. Mungkin, saat aku marah akan ada Erlangga yang membelanya. Astaghfirullah ... maafkan hamba ya Allah, yang masih belum ikhlas sampai saat ini.


Aku merindukan dia ya Allah. Aku sangat merindukanmu, sayang.


"Bunda ... kenapa nangis? sedih, ya karena aku makan permen? maaf ya Bunda, aku janji gak akan makan permen lagi. Ayah, bunda nangis. Aku harus minta maaf ...." Aksa kecil memelukku. Dia meminta maaf, berbisik ditelinga bahwa dia tidak akan makan permen lagi. Polosnya anakku.


"Iya sayang, Aksa harus seperti ayah. Dia sangat nurut sama bunda, apapun yang bunda katakan selalu dia patuhi." aku mengurai pelukanku. "Janji, ya. Jangan makan permen, nanti giginya rusak." Dia mengangguk.


"Mau pamit sama ayah?" dia kembali mengangguk. Kembali jongkok dan berbisik pada Erlangga.

__ADS_1


"Ayah, aku pulang ya. Nanti aku ke sini lagi sama Om Zidan. Aku mau jadi anak baik sama kaya ayah. Mau nurutin semua kata bunda, biar bunda enggak nangis lagi. Bye ayah."


"Sayang, kami pulang dulu. Aku akan sering membawa dia ke sini. Semoga kamu tenang di alam sana. Aku mencintai kamu, Erlangga. Sangat." kembali air mataku turun. Kenapa merindukan orang yang tidak bisa kita temui lagi begitu menyakitkan dari apapun? saat ego merasukiku bahkan aku ingin segera menyusul dan bertemu dengannya. Ampun ya Rabb ....


Kulanglahkan kaki dengan berat, meninggalkan Erlangga di sana. Ragaku kembali ke rumah bersama Aksa. Namun, jiwaku selalu di sana bersama Erlangga. Menemani dia setiap waktu, setiap hari, sepanjang tahun.


Bersambung ....


Aduh! entah sampai berapa bonus yang akan aku berikan, karena setiap menulis kisah ini selalu ketagihan.


Okeh, berikan komen terbaik kalian ya Readers.


Love U all

__ADS_1


__ADS_2