Dimadu Tak Semanis Madu

Dimadu Tak Semanis Madu
Bonus #13


__ADS_3

"Bunda ...." suara Aksa membuat kami tersadar. Lee segera melepaskan jarinya dari sudut bibirku. Aku beranjak dan menghampiri Aksa.


Kuusap wajahnya. " Ada apa, sayang. Bunda disini."


"Papi, mana Papi?" suaranya serau. Sambil mengerjapkan matanya berkali-kali.


"Ada apa jagoan? Papi sama Bunda dari tadi di sini. Kenapa ,sayang? laper ya?" tanyanya sambil membawa mangkok bubur yang disediakan pihak rumah sakit.


“Dengan telaten dan penuh kasih sayang, Lee menyuapi Aksa. Tak segan Lee mengusap mulut Aksa yang belepotan dengan tangan kosongnya.


Mereka mengobrol. Membahas robot kesukaan Aksa. Optimus Prima dan Bumblebee. Robot yang sering dia mainkan di rumah.


Apa jangan-jangan, robot itu?


Hahh! kenapa aku bisa mengira itu dari Johan. Johan? kenapa dia belum menghubungiku? aku ingin tau bagaimana keadaan Gisel.


Tok tok tok


"Permisi." aku menoleh pada sumber suara yang berasal dari pintu. Suara yang sangat aku kenal.


"Jo ...?"


Dia tersenyum. Masuk dengan membawa parsel dan hadiah. Dia menghampiriku. Sejenak kami saling pandang dengan senyuman.


"Kamu kemana aja? gak ngasih kabar juga, gimana Gisel?"


"Ah, ya ampun. Apa sebegitunya kamu merindukan aku?" tanya Johan.


"Ish. Narsisnya gak pernah hilang ternyata."


"Gisel baik, aku yang tidak baik."


"Kenapa? kamu sakit?"


"Menahan rindu sama kamu, itu lebih dari sakit." ya ampun! Johan, tidak sadarkah dia ada orang lain di kamar ini selain Aksa.


"Om, Johan." panggil Aksa. Johan menoleh, senyumnya hilang begitu dia tau ada Lee di dekat Aksa. Kemudian dia kembali menatapku.


"Itu, Lee. Dia sepupu suamiku." Johan mengangguk. Dia berjalan mendekati Aksa.


"Hai Aksa. Gimana keadaan kamu, sayang?"


"Baik, Om. Gisel enggak ikut?"


"Sepertinya dia masih malu untuk ketemu Aksa."


"Aku enggak marah kok sama Gisel, Aksa yang salah udah bikin Gisel sedih."


"Om minta maaf, ya."


"Iya, Om."


"Ini, Om punya sesuatu buat Aksa."


"Waaah, ini apa? besar banget." dengan semangat Aksa membuka hadiah itu, dibantu Johan.


"Saya permisi sebentar." Lee bangkit, sepertinya dia merasa tidak nyaman dengan kehadiran Johan.


"Papi, jangan pergi." pinta Aksa merajuk. Ku melihat Johan seperti terkejut saat Aksa memanggil Lee dengan kata Papi.

__ADS_1


"Tetaplah disini. Biar saya yang keluar. Kebetulan saya ingin berbicara dengan Siti." ucap Johan. Dia berdiri dan mengajakku keluar. Aku menatap Lee, sebagai isyarat meminta izin. Dia mengangguk kecil. Barulah aku mengikuti langkah Johan.


Kami berjalan menuju kantin. Kami terdiam sampai tiba di kantin dan duduk. Memesan minuman dan kami masih saling diam.


"Aku benar-benar minta maaf tentang Gisel."


"Enggak apa-apa. Mereka hanya anak-anak. Bagaimana kabar dia? aku sangat merindukan gadis kecil itu."


"Dia baik, hanya saja belakangan ini selalu murung. Dia sepertinya menyesal telah mendorong Aksa."


"Dia gadis yang baik, pasti punya asalan sampai semarah itu pada Aksa."


"Hem. Dia tidak terima saat Aksa tidak ingin menjadi sodaranya."


Tanganku yang sedang memainkan minuman, seketika berhenti. Aku sangat terkejut dengan apa yang di katakan Johan barusan.


"Saat itu, Gisel mengatakan bahwa dia dan Aksa akan jadi adik kakak pada teman-temannya. Namun, Aksa menolak. Aksa berteriak bahwa dia tidak ingin kita menikah. Itulah kenapa Gisel marah dan tidak sengaja mendorong Aksa sampai seperti saat ini."


"Astaghfirullah ...." aku menutup mulut dengan kedua tangan. Sedih rasanya membayangkan apa yang Gisel rasakan. Dia yang begitu semangat memilih baju kembar, dia yang begitu semangat ingin Aksa menjadi adiknya. Dan Aksa ... Dia menolak di depan teman-temannya.


"Jo ... aku minta maaf. Pasti Gisel merasa sedih dan sakit hati saat itu."


"Tidak, justru aku yang memikirkan Aksa. Dia sangat pintar menyembunyikan perasaan. Selama kita dekat, dia selalu terlihat bahagia padahal hatinya menolak. Mungkin selama ini dia diam, karena menjaga perasaan bundanya."


Oh, Aksa sayang. Dia memang tumbuh menjadi anak yang baik, penurut dan tidak banyak meminta. Selalu berkata 'apapun yang bunda mau akan Aksa lakukan, yang penting bunda bahagia.'


Aku tidak percaya dia bahkan bisa melakukan hal yang menyakiti hatinya demi diriku. Ingin rasanya aku segera berlari memeluk buah hatiku.


"Siti, mungkin memang lebih baik kita tidak bersatu, aku tidak ingin menyakiti anakmu. Meski ...." Johan menundukkan kepala dalam. Aku melihat kesedihan yang teramat dalam diraut wajahnya.


"Jo ...."


"Johan, apa yang harus kita lakukan? hidup kita saat ini bukan hanya tentang perasaan kita. Ada anak-anak yang harus kita utamakan, bukan? lagi pula, hatiku sudah lama mati, terkubur bersama suamiku. Aku ...."


"Tidak apa. Aku mengerti. Apa aku boleh meminta sesuatu?"


"Katakan." dia merogoh kantong di jas nya. Mengeluarkan sebuah kotak yang sama persis dengan kotak yang dia keluarkan saat hendak melamarku.


"Ini, aku ingin memberikan ini sebagai hadiah saja." dia tertawa getir. Matanya mulai berkaca-kaca.


"Pakaikan di jariku, Jo." aku menyodorkan tangan kiri padanya. Sejenak dia menatapku. Kedua alisku terangkat. Mengangguk kecil.


Dengan tangan yang gemetar, dan air mata yang mulai turun, dia meraih jariku. Dingin. Tangannya begitu dingin.


Johan memakaikan cincin bertahtakan berlian hitam di atasnya. Air mata Johan semakin deras saat menatap cincin itu melingkar di jari manisku.


Aku tahu bagaimana perasaannya. Hanya saja, aku tidak mengobati lukanya meski kenyataannya aku adalah obat satu-satunya untuk luka yang dia rasa saat ini.


"Cantik. Pertama aku melihat cincin ini, sudah sangat jatuh cinta. Entah kenapa aku ingin menjadikan cincin ini sebagai cincin lamaran." dia segera menyeka air matanya.


"Aku menyukai cincin ini, terima kasih."


"Hemm."


Hening. Kami kembali membisu.


"Laki-laki itu. Ternyata sering mengawasi kalian diam-diam."


"Apa?"

__ADS_1


"Ya, aku sering melihat dia di sekitar kamu dan Aksa. Pertama kali aku melihat dia saat aku berkunjung ke rumahmu untuk pertama kalinya. Bahkan saat kita pergi bersama ke mal. Dan aku baru sadar, dia adalah laki-laki yang diam-diam sering menemui Aksa saat kami terlambat menjemput."


Apa yang Johan ucapkan membuat aku hampir tidak bernafas.


Jadi, apa yang aku lihat bukan halusinasi atau sekedar perasaan belaka?


"Dia mantan suami pertamaku."


Johan seketika menatapku tajam. Mulutnya sedikit terbuka karena terkejut dengan apa yang aku katakan.


"Sebelum menikah dengan Erlangga. Dia adalah suamiku. Lee menceraikan aku dengan alasan sepele. Itulah yang membuat aku hampir gila di buatnya. Selama masa tersulit, Erlangga hadir menemani. Saat itu, Lee menceraikan aku bertepatan dengan meninggalnya Bapak."


Johan semakin tercengang dengan penuturan yang panjang dariku.


"Dulu, aku sangat mencintainya melebihi apapun di dunia ini. Aku rela menderita demi keselamatan jiwanya. Bagiku dia adalah sumber kehidupan. Hingga akhirnya takdir memilih untuk kami berpisah. Aku menikah dengan Erlangga karena saat itu dia sakit keras, dia yang begitu baik membuatku ingin mengurusnya, menjaganya dalam ikatan yang halal. Aku sendiri yang meminta Erlangga untuk menikahiku."


Sesak rasanya saat aku menceritakan kisah ku dengan Erlangga. Sejenak aku menyeruput minuman yang sedari tadi aku aduk tak karuan.


"Selama aku menjadi istrinya, aku mendapatkan perlakuan bak ratu di dunia ini. Tidak sekalipun dia menyakiti hatiku. Aku jatuh cinta padanya. Cintaku melebihi rasa yang ada untuk Lee. Bahkan, sampai saat ini aku tidak bisa mencintai laki-laki lain. Dalam hatiku, hanya ada mendiang suamiku."


Johan memberikan sapu tangan, untukku menyeka air mata. Erlangga selalu membuat ku menangis saat mengenangnya. Laki-laki yang tidak pernah menyiratkan luka dalam hatiku. Cintanya yang murni selalu berpihak padaku, dia tidak pernah goyah dengan hal apapun. Baginya aku adalah yang utama di dunia ini.


Dengannya aku merasa sangat aman dan nyaman. Kenangan indahnya tidak pernah ada yang aku lupakan meski sejengkal kisah.


Erlangga, cinta pertamaku saat aku masih sangat kucel, jelek dan miskin. Laki-laki pembangun jalan yang berhasil membuatku tersenyum saat berdoa di tengah malam. Laki-laki yang pertama aku sebut namanya dalam doa setelah Bapak dan Zidan.


"Serumit itukah kisah hidupmu? ah, andai saja Aksa mau menerimaku. Aku akan mengobati semua luka yang ada dalam hatimu." ucapnya getir.


"Aku harus segera pulang, Gisel terlalu lama aku tinggalkan. Salam untuk Aksa dan ... dan kalau kamu butuh sesuatu, jangan sungkan menghubungiku. Aku akan selalu ada kapanpun kamu butuh."


"Ya, tentu. Aku akan menghubungimu saat aku membutuhkan seseorang. Salam untuk Gisel. Aku akan menganggap dia adalah putriku yang terpisah. Jujur, aku jatuh cinta padanya."


"Hemm." aku dan Johan berdiri. Setelah membayar, kami berjalan menuju pintu keluar. Aku mengantarnya sampai parkiran.


"Siti ...."


"Ya." aku melihat Johan terdiam, kemudian menatapku lekat dengan satu tangan memegang pintu mobil yang terbuka.


Alangkah terkejutnya aku sampai tidak bisa melakukan apapun saat dia memelukku dengan tiba-tiba. Hanya sejenak. Dia langsung melepas dan masuk ke dalam mobil.


Astaghfirullah ... ya Allah. Ampuni hamba dan Johan. Sebagai manusia biasa, aku bisa mengerti kenapa dia melakukan itu padaku.


Aku menatap mobil Johan yang semakin lama semakin hilang dari pandangan.


Maaf, Johan .... semoga kamu menemukan wanita yang jauh lebih baik dariku.


"Cihhh! apa kamu sedih dengan kepergiannya? bahkan aku tidak berani melakukan itu meski aku ingin."


"Lee?"


Apa? kenapa dia ada disini? apa dia melihat semuanya?


Astaghfirullah!


Aku melihat Lee berjalan dengan kedua lengan yang dia masukkan ke dalam saku celana. Dia terlihat begitu marah.


Ah! kenapa jalan hidupku seperti ini ya Allah. Kenapa banyak yang mencintaiku, Namun aku tidak bisa memilih satupun diantara mereka.


Mas, aku harus bagaimana?

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2