Dimadu Tak Semanis Madu

Dimadu Tak Semanis Madu
Bonus#22


__ADS_3

Aku dan Gisel bermain di kamar hotel yang sudah di pesan Johan. Dia, gadis kecil yang sangat membutuhkan Ibu sepertiku. Ah! andai saja Aksa tidak terlalu jatuh hati pada Lee, mungkin aku akan memilih menerima Johan. Setidaknya Gisel bisa aku urus.


Dua jam aku menunggu. Gisel sudah tertidur pulas. Johan belum juga datang. Aksa sudah pasti menunggu di rumah.


Ting tong.


"Permisi, layanan kamar,'' ujar seseorang di balik pintu.


Klek! Aku membuka pintu. Dan ada seorang petugas hotel membawa beberapa makanan.


"Ya, Mas. Ada apa?"


"Ini, Bu. Tadi Bapaknya memesan makanan untuk Ibu dan Anaknya. Boleh saya masuk?"


"Oh, iya. Silahkan." Aku mempersilahkan dia masuk, sesekali melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan.


"Maknannya sudah saya sajikan di meja, Bu."


"Iya, terima kasih."


"Sama-sama. Nanti kalau ada yang kurang boleh telepon kami, Bu."


"Ya, baik."


Aku menutup kembali pintu kamar. Melihat begitu banyak makanan yang Johan pesan. Aku membaringkan tubuh di samping Gisel yang meringkuk di balik selimut. Anak ini benar-benar sangat cantik. Aku ingin memilikinya.


Klek. Suara pintu terbuka. Aku segera bangkit dan berdiri di samping tempat tidur. Itu pasti Johan.


Benar saja.


"Loh, makanannya kok utuh?" tanyanya seraya melonggarkan dasi, kemudian membuka jas yang dia pakai.


Aku merasa sangat tidak nyaman.


"Aku sudah kenyang, Jo. Tadi aku habis makan."


"Paling tidak, ciciplah sedikit."


"Tidak, terima kasih. Oh, iya. Aku harus pulang, Aksa terlalu lama menunggu di rumah. Aku pamit, ya." Aku mengambil tas, bergegas menuju pintu.


Krep!


Aku terhenyak, tangan Johan menahan tanganku begitu kuat. Dia menarikku kembali berhadapan dengan dirinya.


"Jo?" aku mulai merasa takut.


"Sebentar saja. Temani aku makan," pintanya dengan mata yang terlihat memaksa.

__ADS_1


"Maaf, Jo. Aksa sudah menungguku di rumah." aku berusaha melepas genggaman Johan. Namun, dia sama sekali tidak berniat melepaskan tangannya. Semakin aku berusaha melepaskan diri, semakin kuat cengkraman tangannya.


Johan berjalan semakin mendekat dan aku berjalan semakin mundur hingga merapat tembok.


"Jo, apa yang kamu lakukan? jangan seperti ini, kumohon."


Johan tetap diam. Matanya menjelajahi setiap lekuk wajah dan tubuhku.


"Jo!" aku membentaknya. "Jangan begini, ada apa denganmu? lepaskan." Johan menahan kedua tanganku kini.


"Ssstttt ...."


"Johan ... plisss"


"Kenapa? apa kamu takut? harusnya kamu sadar, bahwa kita ini sudah dewasa. Apa yang seharusnya kita lakukan di kamar berdua seperti ini. Ah ...." dia memalingkan wajah. "Ada kamar lain di kamar ini, haruskah kita ke sana?" dia melirik ke arah Gisel. Menyeringai yang membuatku sesak nafas.


"Aku hanya ingin menemani Gisel. Aku merindukan anak itu, dan tugasku selesai. Aku mau pulang."


Sudut bibirnya naik. "Dan aku memanfaatkan kebaikanmu. Aku suka kepolosan dirimu, Siti. Apa haruskah kita melakukan semuanya dengan panggilan video bersama Lee? ya! Lee yang ternyata partner kerjaku. Dia yang kini menjalin bisnis denganku."


"Johan, aku mohon hentikan." Aku memelas.


Johan semakin mendekatkan wajahnya padaku. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya di pipi saat aku memalingkan wajah.


"Apa kamu juga ingin kembali pada Lee? hahaha andai dia tau kamu ada di sini bersamaku. Apakah harus aku panggil dia? dia masih ada di ruang meeting. Aku buru-buru minta izin karena sudah tidak tahan ingin bertemu denganmu." Johan mencoba menciumku namun tidak berhasil. Aku segera memalingkan wajah semakin jauh ke belakang. Tak apa meski leherku terasa sakit.


Tidak! jangan seperti ini. Aku harus melakukan sesuatu.


"Gisel! bangun!" aku berteriak. Membuat Johan marah. Dia menyeretku menuju kamar yang dia maksud sebelumnya. Tidak ada yang bisa aku lakukan untuk melindungi diri selain ....


Prang!!!


Tubuh Johan terjerembab. Dia memegang kepalanya yang mungkin terasa sakit. Berdarah setelah aku memukul kepala bagian belakangnya dengan mangkuk sayur yang ada di meja. Pecahannya berserakan kemana-mana. Begitu kuatnya aku memukul dia?


Aku segera membuka pintu dan keluar. Berlari tidak tentu arah. Tas dan sandalku sudah tidak ada pada tubuhku.


"Bu, ada apa? ibu kenapa?" tanya seorang petugas hotel yang kebetulan berpapasan denganku.


"Ruang meeting. Di mana ruang meeting?" tanyaku dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Mari ikut saya."


"Lari, ayo lari. Jangan berjalan." aku membentak. Ternyata, untuk menuju ruang meeting harus naik satu lantai lagi. Dia menuntunku pada sebuah ruangan yang cukup besar.


"Itu, Bu." dia menunjuk sebuah pintu. Aku segera berlari. Dan membuka pintu begitu saja. Suara pintu yang keras membuat semua orang kaget dan serempak menatap ke arahku. Mataku mencari, Lee.


Ah! itu dia. Dia yang duduk agak jauh dari pintu. Lee segera berlari menghampiriku. Memegang pundak ku yang bergetar hebat.

__ADS_1


"Ada apa?" tanyanya. Matanya melihat kondisiku dari atas sampai bahwa. "Kenapa kakimu berdarah?"


Pertanyaannya membuat aku sadar. Aku menginjak pecahan mangkuk.


"Aku ... aku ...."


"Iya, kamu kenapa?"


"Lee, a-aku. Aku ...."


Lee pergi mengambil air minum. Membuka tutupnya lalu memberikannya padaku.


"Pelan-pelan."


Setelah aku merasa bisa mengatur nafasku kembali. Aku mulai bicara pada Lee. "Aku membunuh Johan." bukan hanya Lee. Seluruh orang yang ada di ruangan itu kaget. Mereka berdiri dan menatapku heran.


"Bagaimana ... kamu becanda kan?"


Segera ku gelengkan kepala. "Dia ingin memperkosaku, tidak ada pilihan lain untuk melindungi diri. Lee .... dia ... dia ... hu hu hu" aku menangis begitu keras.


Lee mengepalkan tangan. Dia begitu sangat marah. Dia memejamkan mata, berusaha mengatur nafasnya yang terlihat memburu.


Lee memapahku berjalan menuju kamar Johan. Diikuti beberapa orang yang ada di ruang meeting.


Kami melihat sudah banyak petugas hotel di depan kamar Johan. Mungkin petugas yang mengantarku tadi merasa curiga dan mengecek ke kamar Johan.


Lee melepas tanganku yang sedari tadi dia genggam. Dia menerobos masuk begitu saja.


"Kurang ajar!" aku mendengar teriakan Lee. Ku percepat langkah kakiku yang terasa begitu perih.


Aku melihat Lee sudah di pegang beberapa orang. Sepertinya dia hendak memukul Johan.


Sementara itu, Johan terduduk dengan kain yang melingkar di kepalanya. Tangannya masih belepotan dengan darah. Pecahan mangkuk sudah bersih di rapikan. Gisel? di mana anak itu?


"Gisel pulang. Asistenku membawanya pulang," ucap Johan seakan mengerti dengan apa yang aku pikirkan. "Pulanglah! perkara ini akan rumit jika sudah masuk ke ranah hukum. Akan menyita waktu dan tenaga."


"Awas! aku akan membuat perhitungan atas kejadian ini. Sebagai hukuman awal, hubungan bisnis kita akan berkahir saat ini juga. Aku tidak sudi menjalin bisnis dengan bedebah seperti kamu. Lepaskan!" Lee menepis orang-orang yang memegangi dirinya. Berjalan menghampiriku.


"Kita pulang." Lee menatapku penuh sesal. Dia yang tadi penuh amarah, menjadi lembut seketika saat berhadapan denganku. Lee ....


"Sebentar." Aku berjalan menghampiri Johan. "Maaf atas lukamu. Jo, aku sedih atas kejadian ini. Kamu laki-laki ketiga yang menorehkan luka dalam hatiku. Luka yang bahkan tidak ingin aku sembuhkan. Aku kecewa."


Johan menatapku. Dari matanya aku bisa melihat kesedihan dan penyesalan meski raut wajahnya masih sangat terlihat emosi.


Aku pergi. Pergi meninggalkan hotel yang mungkin sampai aku mati tidak akan ku injakan kaki di sini.


Aku dan Lee tidak banyak bicara saat di dalam mobil. Begitu juga saat kami ada di klinik untuk mengobrol luka yang cukup lebar di telapak kaki.

__ADS_1


Lee langsung pergi begitu saja saat aku baru saja menutup pintu mobilnya. Apa dia marah? apa dia kecewa padaku?


Apa yang salah denganku? aku hanya ingin menemani Gisel. Itu saja.


__ADS_2