
Lee masih belum sadarkan diri. Dia masih terbaring koma di ruang ICU. Penunggu pasien sangat terbatas. Hanya satu orang saja. Itu artinya, Naura dan Siti bergantian untuk menjaga Lee.
Siti tidak pernah meninggalkan Lee sepenuhnya. Saat Naura menemani Lee di dalam. Maka, Siti akan berdoa di mushola.
Bu. Han sangat khawatir dengan keadaan Siti. Itulah kenapa Erlangga selalu menemani Siti, atas permintaan Bu. Han.
"Kenapa? Dingin?"
Tanpa menunggu jawaban. Erlangga langsung melepas jaket dan memakaikannya pada tubuh Siti.
"Kenapa malam ini begitu dingin, A?"
"Sekarang sudah memasuki musim panas. Biasanya di tandai dengan angin yang kencang."
"Hm."
"Bapak sama zidan, dimana?"
"Mereka masih di musholla, sepertinya."
"Mereka biar tidur di rumahku saja. Nanti supir yang akan antar jemput mereka."
"Tidak perlu. Biar mereka tinggal di rumah utama untuk segmen waktu."
"Di rumah utama tidak ada orang. Lagi pula rumahnya sangat besar. Aku takut mereka akan kesepian. Kalau di rumah aku, banyak orang. Dan rumahnya tidak terlalu besar."
"Nanti Siti bicarakan sama bapak dulu."
"Ya, itu harus."
"Aa. Tidak perlu setiap hari menemani Siti disini. Sesekali saja. Aa juga harus istirahat."
"Aku pulang saat kamu di dalam. Dan kembali lagi saat wanita itu yang menjaga Lee."
"Terimakasih ya, A. Aa begitu baik, semoga istri Aa kelak, wanita baik juga."
Erlangga menatap Siti. Dipandanginya wajah wanita yang sebenarnya ingin dia jadikan istri itu. Rasanya terlalu menyakitkan untuk Erlangga mengingat penyesalan masa lalu.
"Siti ...."
"Ya, A."
"Ah! tidak apa-apa. Lupakanlah."
Malam itu, keduanya duduk di pelataran mushola. Saling diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1
Siti yang tidak pernah berhenti mendoakan suaminya. Dan Erlangga yang tidak pernah berhenti mengutuk dirinya sendiri. Penyesalan begitu dalam, saat dulu dia tidak menentang Ibunya yang melarang dia untuk melamar Siti.
"Dia itu wanita kampung. Keluarga nya miskin. Tidak sebanding dengan kita."
Itulah yang di ucapkan ibunya. Lalu apa sekarang? Siti menjadi menantu keluarganya.
Hatciimmm ....
Lamunan Erlangga buyar. Saat mendengar Siti bersin.
"Kamu kenapa?"
"Gak apa-apa A. Hanya flu aja kayanya."
Refleks. Erlangga memegang kening dan pipi Siti. Panas.
"Kamu demam, Siti. Kita periksa ke dokter, ?"
"Gak usah, A. Aku gak apa-apa."
"Tidak. Kita harus periksa dulu, bagaimana kamu bisa menjaga suamimu. Kalau kamu sendiri sakit? Bisa-bisa wanita itu yang terus-menerus jagain Lee. Jangan membantah!"
Siti memijat kepalanya yang terasa pusing. Dia mencoba berdiri. Meski, akhirnya tubuhnya roboh, jatuh ke pangkuan Erlangga yang dengan cekatan menangkap tubuh Siti sebelum sampai ke tanah.
"Bagaimana, Dok?"
"Saya sudah memasukkan obat penurun panasnya lewat infusan ya, Pak. Soalnya ini demamnya tinggi, 40,5. Besok kita lihat hasil laboratoriumnya dulu untuk melakukan tindakan selanjutnya. Semoga hanya dengan biasa."
"Terimakasih, Dokter."
"Nanti setelah daftar, segera masuk ruangan, suster."
"Iya, Dok. Mari pak, ikut saya untuk daftar terlebih dahulu.
"Baiklah."
Setelah menyelesaikan proses pendaftaran. Siti segera di bawa ke ruang perawatan. Sebuah ruangan kelas VVIP.
"Hallo, Tante."
"Ya, kenapa Er? apa lee sudah siuman?"
"Belum, Tante. Tapi Siti di rawat?"
"Apa?"
__ADS_1
"Badannya demam, tadi dia pingsan. Dan sekarang ada di ruang perawatan. Masih belum sadar."
"Astaga ... ada apa ini? kenapa jadi begini sih, Er."
"Sabar Tante. Semua akan baik-baik saja."
"Titip Siti dulu ya, Er. Tante belum bisa kesana. Besok Tante harus ke Hongkong. Ada pekerja Lee yang harus tante selesaikan."
"Begitu? Mm, baiklah. Serahkan semuanya sama Er."
"Makasih, ya. Untung ada kamu. Kalau tidak, tante gak tau harus bagaimana? bahkan besan tante juga malah nginep di rumah kamu."
"Itu bukan masalah."
"Baiklah. Sekali lagi terimakasih."
"Iya, tante."
Erlangga menutup pembicaraannya. Di tatapnya layar ponsel dengan tatapan kosong. Pikirkan nya melayang entah kemana.
"Hmm," gumam Siti.
Erlangga segera mendekat. Duduk di samping Siti. Menggenggam jemari Siti, erat.
"Kenapa? apa sakit?"
"Haus," bisik Siti.
Diraihnya gelas yang kebetulan ada di sampingku ranjang.
Tangan kiri Erlangga menyangga tubuh Siti. Sementara, tangan yang satunya membantu Siti meminumnya air. Dengan perlahan-lahan, Erlangga membaringkan kembali tubuh Siti.
"Apa lagi? ada yang kamu inginkan?"
"Kepalanya sakit."
Dengan spontan. Erlangga memijat kening Siti. Siti yang saat itu setengah sadar dan tidak, hanya bisa diam. Tidak merespon apapun, bahkan tidak melarang Erlangga untuk menyentuh dirinya. Itu karena rasa sakit yang menguasai Siti.
Erlangga menghela nafas panjang. Satu sisi dia merasa kasihan melihat Siti kesakitan. Sisi lain dia bersyukur, karena dengan begini dia bisa berdekatan dengan Siti. Menyentuhnya dan menjadi pelindung untuknya.
Seulas senyum terukir di wajah Erlangga.
bersambung ....
__ADS_1