
[usahamu akan menentukan apa yang akan aku lakukan selanjutnya. pastikan kamu melepas sebagian cintamu itu]. 00.23 WIB
Siti yang belum tidur, ketakutan setelah membaca pesan itu. Kepalanya terasa sangat sakit. Dia menjambak rambutnya sendiri dengan keras. Mengacak-acak nya tak beraturan.
Menyeringai seperti orang yang sangat kesakitan. Ya, kepala Siti memang terasa sangat sakit. Dia masih sadar, segera pergi mengambil air wudhu dan melaksanakan salat malam.
Siti salat dengan khusyuk. Seusai salam, dia mengangkat kedua tangannya. Mengadu, menangis pada sang Maha, atas apa yang sedang dia alami saat ini. Air matanya tumpah ruah membasahi mukena putih–sutra. Mukena seserahan yang dulu Lee bawa untuk dirinya.
"Sayang."
Siti tersentak. Ternyata Lee terbangun dan mendengarkan semua yang Siti adukan pada Allah SWT.
"Kenapa? apa alasan yang membuatmu begitu ingin aku menikah dengan Naura?"
Siti tersenyum, meski air matanya masih mengalir. Di usapnya wajah tampan suaminya, dengan kedua tangan lembut nan dingin miliknya.
"Karena aku tidak ingin kehilangan dirimu."
"Hmm. jujur! aku tidak mengerti dengan alasanmu itu, bukankah dengan aku menikahi Naura, maka waktuku, perhatianku, hartaku akan terbagi dua. Maksudnya ...."
"Itu jauh lebih baik, untukku saat ini."
Lee menggelengkan kepalanya. Sungguh! Siti sangat tidak logis. Menurut Lee.
"Sayang ... apa kamu yakin? bukankah waktu itu kamu menolak keras saat aku sendiri yang meminta untuk menikah lagi."
"Aku ikhlas! aku restui kamu menikah dengan Naura."
__ADS_1
Segera Siti berhambur pada pelukan Lee. Tangisannya pecah! dengan sangat erat, Siti memeluk suaminya.
Aku tidak ingin kehilanganmu untuk selamanya, itu akan sangat sakit. Melebihi sakitnya berbagi waktu, dan cintaku pada wanita lain. Bisik Siti dalam hati.
🌺🌺🌺🌺
"Wow! drama apa ini? wanita kampung itu sangat pandai berakting rupanya."
"Aku sendiri tidak yakin. Bahkan, dia berani menentang mama dan eyang."
"Hh! ada apa ini? mana ada istri yang dengan begitu keukeuhnya meminta suaminya untuk menikah dengan wanita lain? Ok. Fine. Jujur, aku bahagia. Hanya saja ... entahlah!"
"Bagaimana?"
"Apanya?"
"Ha ha ha. Kamu gila! jelas mau lah! ini yang aku tunggu selama belasan tahun. Menikah denganmu dan menjadi nyonya di rumah kita."
"Bagiku Siti nyonya di kehidupanku."
"Terserahlah ... yang jelas, kita harus menikah dengan meriah!"
"Tidak! kita akan menikah secara agama saja."
"What!?"
"Atau tidak sama sekali."
__ADS_1
"Dasar! wanita itu ...."
"Ini syarat yang di berikan eyang. Secara agama atau tidak sama sekali. Satu hal lagi, kamu tidak akan tinggal di rumah utama keluargaku. Mama, sudah mempersiapkan rumah kontrakan lainnya."
"Kontrakan?"
"Ya! setelah menikah, kamu jangan tinggal disini lagi."
"Wow! apa ini?"
"Terima semuanya atau tidak."
"Ok! aku terima semua syarat aneh itu!"
"Baiklah. Kita menikah dua hari lagi. Semua sudah di persiapkan. Kamu hanya harus menjaga diri."
"Secepat itu?" Naura nampak bahagia.
"Ya!"
"Yeaayy!"
Naura berlari menghampiri Lee. Memeluk laki-laki tampan ber-stelan jas abu-abu itu. Lee hanya membalas dengan usapan sekilas di punggung Naura. Memberikan senyum yang terasa hambar.
Dulu, Lee berpikir akan merasa sangat bahagia saat waktu ini datang. Tapi, nyatanya sangat jauh berbeda. Ada sedikit luka yang terasa sakit di dalam relung hatinya.
Terbayang wajah sang istri, bagaimana dia akan menangis melihat ini semua. Lalu bagaimana saat akad nanti? akankah dia kuat?
__ADS_1
BERSAMBUNG ....