
Hari ini, pukul 05. 00 WIB. Aku merasa ada suara yang membuatku terbangun dari tidur. Tidur? sejak kapan aku tertidur?
Aku segera membuka mata sempurna. Ternyata aku sudah terbaring di kursi, dengan jaket yang Lee pakai semalam kini ada di atas tubuhku.
Sadar sepenuhnya. Aku melihat Aksa sudah terbangun. Dia dan Lee ... sejak kapan mereka akrab?
"Bunda." Aksa yang sadar aku terbangun, memanggil dengan wajah cerianya. Aku melepaskan jaket Lee, menyimpannya di sofa.
"Sayang ...." kepeluk bayi kecilku. Menciumnya berkali-kali.
"Bunda, makasih ya. Udah ajak papi kesini."
"Papi?" aku merasa heran, karena saat itu hanya ada aku, Aksa dan Lee.
Aksa memeluk Lee erat. "Ini papi aku, Bunda."
Tak ada ekspresi yang aku keluarkan selain terbengong. Aku tidak mengerti apa yang terjadi saat ini. Mungkinkah karena aku masih terkantuk?
"Bunda, jangan terima papinya Gisel. Aksa mau Papi yang ini." lanjutnya sambil bergelayut manja dileher Lee.
"Ah! Papi gak mau punya anak kaya Aksa."
"Papiiii ..." Aksa merengek manja.
"Masa, jagoan papi kalah sama perempuan. Di dorong sedikit aja pingsannya lama banget."
"Aksa gak mau bangun, Papi."
"Kenapa?"
"Aksa gak mau Papinya Gisel jadi Papi Aksa."
Lee menatap lekat Aksa. Pun sebaliknya. Aksa menatap Lee penuh harap. Aku ingin sekali menangis, bahkan menjerit sekeras mungkin.
__ADS_1
Kenapa aku tidak menyadari bahwa Aksa tidak ingin aku dekat dengan Johan, tapi malah sebaliknya.
"Bunda ,salat dulu ya sayang. Kamu main dulu sama Pa ... Eumm, maksud bunda sama Om Lee."
"Ooo, nama Papi, Papi Lee?"
"Hehehe. Ahhh ketahuan deh!"
"Papi kalah. Itu artinya Papi harus tepati janji Papi. Jangan bohong! kata bunda orang suka bohong itu dosa."
"Kalian punya perjanjian apa?"
"Papi bilang, kalau suatu saat Aksa tau nama Papi, maka Papi akan sering main ke rumah."
"Saat Aksa tau namaku, itu artinya kita sudah bertemu setelah sekian lama aku menghindar."
"Kenapa? kenapa selalu menghindar?"
"Aku tidak sanggup menerima penolakan yang selalu kami berikan padaku."
"Aksa, Papi keluar sebentar. Mau beli sarapan buat bunda."
"Ikuuuttttt ...."
"Sayang, jangan dong. Aksa masih sakit, nanti dokter marah kalau Aksa ikut Papi keluar."
"Aksa gak mau jauh-jauh dari Papi. Huu huu."
"Sayang, udah dong." Lee menggendong Aksa. Memeluknya erat, berusaha menenangkan hatinya.
"Ya udah, Lee. Aku aja yang keluar beli makanan untuk kita."
"Kita?" tanyanya. Pertanyaan yang entah kenapa berhasil membuat aku merasa ... kugelengkan kepala untuk menepis semua rasa yang tidak seharusnya hadir.
__ADS_1
Kutinggalkan mereka berdua. Meski langkah kaki sudah jauh, aku masih bisa mendengar tawa Aksa yang begitu keras. Dia sangat bahagia.
Rasanya ingin segera sampai ke kamar. Entah apa yang membuat aku begitu tidak sabar. Dengan makanan yang ku bawa, aku mempercepat langkah kaki.
"Ak ... sa." aku yang antusias memanggil nama anakku, harus memelankan suara saat melihat Lee menyimpan telunjuknya di mulut.
Aksa tertidur lelap. Mungkin dia mengantuk. Entah sejak kapan dia bangun dan becanda dengan Lee.
Aku berjalan perlahan. Menapakkan kaki secara mengendap-endap. Duduk di sofa, lalu membuka makanan yang kubawa.
"Apa dia sudah nyenyak?"
"Hem. Sejak pagi dia bangun, mungkin dia ngantuk sekarang."
"Terima kasih, Lee."
"Untuk apa?"
"Memberikan Aksa kebahagiaan. Aku belum pernah melihat dia tertawa seperti itu sejak lama."
"Hmm." Lee terlihat cuek. Dia sibuk membuka makanan. Perih. Itulah yang kurasa saat ini.
Kami berdua makan dalam diam. Sulit rasanya bagiku menelan makanan saat ini.
"Lee."
"Ya. Kenapa?" dia mendongak. Menatapku dengan makanan yang masih memenuhi rongga mulutnya.
"Kebiasaan," ucapnya. Lengannya membuat aku kaget saat menyentuh ujung mulut. Menyeka noda makanan.
"Kenapa setiap makan, selalu belepotan begini?" ujarnya lagi. Dia tidak sadar betapa gelisahnya hati ini. Apa dia tidak bisa merasakan ketegangan yang aku rasakan. Semoga saja dia tidak mendengar detak jantung yang seperti genderang mau perang.
Akhirnya, Lee menyadari bahwa sedari tadi mataku tidak berkedip menatapnya. Dia kembali menatapku dengan tangan yang masih menempel di bibir.
__ADS_1
Bersambung ....