
Ku dekap erat tubuh kecil anakku, Aksa. Entah kenapa, malam ini dia memaksa untuk tidur bersama. Aku memang tidak pernah menolak saat dia meminta. Kapanpun dia mau.
"Bun, hari ini aku bahagia banget," ucapnya dengan suara samar karena setengah mengantuk. "Apa kita kan menjadi keluarga bahagia?" tanyanya dengan mata yang hampir menutup.
"Iya, sayang. Aksa akan memiliki Bunda dan juga Papi. Kamu akan menjadi anak yang paling bahagia."
"Hmm. Terima kasih mau menerima Papi. Aksa seneng." dan akhirnya dia tertidur lelap. Aku tersenyum. Wajahnya yang begitu tampan, membuatku jatuh cinta begitu dalam.
Setelah Aksa tertidur pulas. Aku turun. Mengambil secangkir teh di dapur. Duduk di sofa lalu menyalakan televisi.
"Teh." Zidan menghampiri. Dia duduk di sampingku. Menyeruput teh yang baru saja aku ambil.
"Kenapa belum tidur?"
"Aku enggak bisa tidur. Teteh?"
"Sama."
Dia menatapku lekat. "Teteh, apa kita akan menjadi keluarga yang bahagia mulai sekarang? aku sudah bosan melihat Teteh selalu menangis."
Entahlah, aku hanya berdoa semoga jalan yang aku ambil tidak salah. Selama sepekan aku istikharah, sepekan saat Lee tidak ada kabar. Dia selalu datang dalam mimpiku.
Aku melihat kembali cincin yang melingkar di jari manisku. Cincin lamaran yang Lee berikan.
**
Mobil jemputan datang. Aku dan Aksa masuk ke dalam. Sepanjang perjalanan, pikiranku melayang kemana-mana. Takut dengan apa yang aku bayangkan, aku takut apa yang aku harapkan tidak sesuai keinginan.
Mengingat baju yang aku pakai hari ini, aku rasa ini bukan baju untuk makan malam biasa. Pun dengan baju yang Aksa pakai. Formal.
Tunggu! jalan ini sepertinya tidak asing bagiku. "Pak, kita mau kemana? bukankah kita akan makan malam ke restoran?" tanyaku pada supir.
"Saya tidak tau, Nyonya. Saya hanya diminta mengantarkan sesuai alamat yang di berikan." Jawabnya. Ah, bagaimana aku bisa menanyakan ini pada supir, dia hanya bekerja sesuai perintah. Kalaupun dia tau, dia pasti akan diam.
Ternyata benar. Kami berhenti di depan sebuah rumah. Rumah tempatku dan Lee dulu tinggal.
"Nyonya, anda di minta mengambil sesuatu di dalam. Ini kuncinya." Supir memberikan kunci rumah padaku. Meski sedikit heran, aku tidak punya pilihan untuk menuruti.
Langkah kakiku terasa berbeda kali ini. Setiap langkahnya mengingatkan pada semua kenangan yang dulu ada di sini. Dimana aku harus ke mini market untuk numpang buang air, sungguh sangat memalukan.
Rumah yang di dalamnya tumbuh cinta antara sepasang manusia yang sudah menikah. Lee, kenapa kamu memintaku untuk datang ke sini? taukah kamu, betapa dadaku sesak mengingat semua tentang kita di sini.
Aku menarik nafas dalam. Membuka pintu. Begitu masuk, semerbak wangi yang tetap sama seperti dulu. Hanya saja, kenapa lampunya padam? ah, aku baru sadar. Kenapa gelap sekali.
Aku segera berjalan cepat menuju sakelar lampu.
Trek!
Lampu menyala. Dan betapa kagetnya aku saat melihat hamparan kelopak mawar di lantai. Kepalaku berputar ke kanan dan kiri, semuanya penuh dengan mawar. Bahkan aku berdiri di atas lantai yang penuh dengan mawar.
Rasa penasaran menuntutku untuk lebih masuk ke dalam. Dan ya, semuanya memang penuh dengan mawar.
Aku melihat meja makan yang ada di atas kolam renang di hias bunga-bunga yang cantik. Aku berniat mendekatinya hingga Lee turun dari tangga, membuat langkah ini terhenti.
"Mama? Eyang? Papa? Zi-Zidan? kalian semua ...."
Mereka hanya memberi senyuman atas kebingungan yang aku rasa.
Lee berdiri tegak di hadapan ku. Memakai stelan jas yang sama dengan yang Aksa pakai. Aksa? ya anakku ada di mobil. Aku membalikkan badan dan ....
__ADS_1
"Aksa?" anak itu ada di belakang ku dengan bucket mawar merah. Dia tersenyum riang.
"Siti," panggil Lee. "Maaf sebelumnya jika semua ini membuat kamu bingung."
Kami saling bersitatap. Saling melempar senyum.
"Aku tidak bisa berbicara banyak, mungkin kamu tau itu. Emm, apa ya. Entahlah, aku tidak tau harus mulai dari mana?" Lee tampak gugup. Aku tau, dia memang laki-laki yang tidak bisa merangkai kata untuk merayu wanita.
"Bicaralah, aku akan menunggu."
Lee menatapku lekat. Ku lihat dia menarik nafas dalam.
"Maukah kamu membuatkan aku sarapan setiap pagi, menyisir rambutku setiap selsai keramas, menyiapkan baju saat aku akan pergi bekerja, menemaniku saat sore tiba dan minum teh bersama menunggu matahari terbenam. Dan ...."
"Ya, aku akan melakukan itu semua. Aku akan menyiapkan saran untukmu dan Aksa. Aku akan menyiapkan baju dan semua keperluanmu. Aku akan menemani di setiap suka dan duka hidup mu. Ya, aku mau melakukannya itu semua."
Lee tersenyum dengan matanya yang nanar. Dia bahagia dan juga haru, rasa yang dia rasakan sama seperti yang aku rasa saat ini.
Aksa yang memang masih anak-anak, bersorak-sorai. Dia menghampiriku, memberikan bucket bunga dan juga kotak cincin. "Bun, terima kasih," ucapnya sambil memasukkan cincin pada jari manisku.
"Sama-sama, sayang. Terima kasih juga karena telah menjadi anak hebat."
"Apa aku hebat seperti ayah?" aku menatap bola matanya bergantian. Kemudian mengangguk. Kupeluk erat. Ku kecup berkali-kali. Harta berharga peninggalan Erlangga.
Mama dan Eyang bergantian memeluk dan mencium ku. Mereka menangis haru.
"Baiklah. Aksa sama Zidan ikut eyang, yuk. Biarkan bunda sama papi makan malam berdua. Aksa akan eyang ajak beli mainan. Mau?"
"Iya, Aksa mau." tanpa pamit padaku, Aksa berjalan begitu saja menjauh. Zidan pamit padaku, dia mengucapkan selama karena aku akhirnya mau menerima Lee kembali.
"Selamat datang kembali, sayang. Papa bahagia karena akhirnya harta berharga keluarga kembali lagi."
"Makasih, Pah. Terima kasih karena masih menyayangi aku sampai saat ini."
Kini hanya tinggal kami berdua, Aku dan Lee. Kami berdua diam dalam hening. Tidak tau apa yang harus di lakukan atau kami ucapkan.
"Rumah ini." aku membuka percakapan."Tidak berubah sama sekali. Masih sama seperti dulu."
"Hmm," gumamnya seraya mendekat. Aku menoleh saat dia sudah tepat di sampingku. Kami saling menatap dengan berbalas senyum.
"Yang berhak merubah apapun di rumah ini, ya ... hanya pemiliknya, kamu."
Aku tersenyum. Sungguh aku sangat terharu, bahkan saat aku berbahagia dengan Erlangga, mungkinkah Lee masih merana karena memikirkan aku?
"Kita makan?" tanyanya.
"Iya, aku sudah sangat lapar."
Aku dan Lee berjalan melewati jembatan pendek menuju meja makan di tengah kolam renang.
Steak. Menu makan malam kali ini. Canggung, sungguh. Aku dan Lee sibuk dengan pikiran masing-masing. Tidak bersua sama sekali.
"Kamu mau langsung pulang?" tanya Lee saat kami selesai makan.
"Ya, aku takut Aksa lama menunggu."
"Ya, benar. Jagoan kita jangan dibiarkan menunggu terlalu lama."
"Lee ...."
__ADS_1
"Ya."
"Apa kamu benar-benar mencintai anakku? bagaimanapun juga dia anak Erlangga, anak yang dulu ikut andil merusak rumah tangga kita." Lee menatap tajam mendengar pertanyaan dariku.
"Bahkan aku tidak ingat kesalahan apa yang telah sodaraku lakukan pada kita."
Jawaban yang menohok untukku. Dia bahkan sudah melupakan kesalahan Erlangga, yang aku saja masih kadang mengingatnya.
"Terima kasih."
Lee tersenyum. "Ayo, aku antar kamu pulang."
"Hmm."
**
Dreetttt dreetttt.
Lamunanku buyar begitu ponselku bergetar. Aku melihat Zidan bahkan sudah tidak ada di sampingku lagi.
Sebuah pesan masuk.
[Sedang apa?]
Baru aku akan membalas, satu pesan masuk kembali.
[Apa sedang memikirkan diriku? jujurlah, karena kini aku pun sedang memikirkan dirimu]
[Emot mata berbentuk hati]
[Gitu aja balasannya?]
[Harusnya gimana?] balasku.
[Bilang aja iya, kan enggak susah.]
[Iya.]
[Iya, apa?]
[Aku sedang memikirkan dirimu. Zidan sampai pergi gara-gara aku melamun memikirkan dirimu.]
[Pinter gombal, ya, sekarang. Belajar dari siapa?]
[Gugel]
[Aku juga mau belajar sama Gugel kalau begitu.]
Aku tidak membalas. Bingung harus mengetik kata apa lagi.
[Terima kasih karena mau menerima aku kembali. Aku berjanji, tidak akan mengecewakan kamu lagi. Kamu dan jagoan kita adalah hidupku yang harus aku jaga. Dari dulu hingga saat ini, hatiku tidak pernah berubah. Aku masih sangat mencintaimu, sayang.]
Aku semakin bingung harus membalas apa. Karena perasaan ini tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata. Betapa bahagianya saat ini, betapa aku merasa seperti gadis yang baru pertama kali dilamar laki-laki.
[Aku mencintaimu, calon imamku.] hanya itu yang bisa ku katakan padanya. Tidak berharap akan ada balasan dan Lee pun memang tidak membalas pesanku.
Biarkan hati kami yang merasa apa yang begitu indah saat ini. Cinta yang memang seharusnya bersatu. Hubungan yang memang seharusnya tidak pernah terpisah.
Takdir. Dialah hal yang tidak bisa kami hindari. Hubungan ini terpisah lalu kembali bersatu. Melewati banyak halang rintang yang siapa sangka, bahwa aku dan Lee akan kembali bersama.
__ADS_1
Cobaan datang silih berganti. Perjalanan hidup yang berwarna telah aku lewati. Namun ternyata, hidup Lee hanya aku. Tidak ada warna lain selain diriku.
TO BE CONTINUE