
Hampir sebulan sudah, Lee dirawat di rumah sakit. Dengan setia, Siti selalu menanti meski, terkadang bergantian dengan madunya.
Kini, Lee telah kembali ke rumah utama. Saat Lee datang, sebuah penyambutan hangatnya oleh seluruh keluarga dan semua pelayan yang berkerja pada keluarganya ikut serta.
Sesuatu yang tidak pernah dilakukan.
Lee merasa canggung dan aneh. Tapi, ada rasa bahagia haru dalam hatinya. Dia yang masih duduk di kursi roda mendongak. Menatap Siti dengan penuh cinta. Laki-laki bermata sipit itu tau, ini semua pasti ulah istrinya.
Siti membalas senyuman Lee. Memeluknya dari belakang. Sebuah kecupan hangat mendarat di pelipis Lee.
Ada sosok yang sama sekali tidak tersenyum. Berdiri diantara anggota keluarga lainnya. Naura.
"Baiklah. Sekarang kita biarkan mereka beristirahat. Tolong, bantu angkat kursi roda Lee, ya." perintah Bu Han pada para pelayan laki-laki.
"Tidak usah, Mam. Aku bisa jalan sendiri. Biar Siti yang memapahku naik ke atas."
"Oh ... ok!"
Mereka yang tadi berdiri menyambut kedatangan Lee. Kini, membubarkan diri. Hanya ada beberapa pelayan laki-laki yang berjaga. Mungkin, mereka takut Siti tidak kuat menahan beban Lee.
Lee yang memang sudah sangat baik, berjalan dengan dipapah istrinya. Sesekali mereka tertawa ringan. Saling mengelus satu sama lain. Bahkan, Lee tidak segan mencium Siti di depan orang-orang.
"Malu ...." Siti mencubit mesra pinggang Lee. Membuat laki-laki itu terkekeh geli.
Seorang wanita dengan seragam yang sama dengan beberapa pelayan wanita di bawah, membuka pintu kamar begitu Siti dan Lee sampai.
Dengan penuh kebahagiaan, Lee memasuki kamarnya. Bernafas lega.
Lee membaringkan tubuhnya. Sementara Siti pergi untuk mengambil air wudhu. Dan melakukan salat duhur.
Begitu selesai salam yang kedua. Siti dibuat terkejut saat sebuah tangan melingkar ditubuhya. Memeluknya erat. Sebuah kecupan mampir di pipinya yang masih sedikit lembap karena air wudhu.
"Miss You."
__ADS_1
Siti tersenyum. Mendengar suara manja suaminya.
Tangannya mengelus pipi Lee yang halus seperti bayi.
"Sama."
Merek berdua tersenyum. Lee mengeratkan pelukannya. Mengambil nafas pendek.
"Aku penasaran, bagaimana kejadiannya. Kenapa kamu bisa separah ini?"
"Mobilku melaju cepat. Tiba-tiba ada mobil yang menyalip dan menurunkan kecepatannya tepat di depanku. Aku kaget dan membanting stir dan ...."
Lee terdiam.
"Sstt. Ya sudah. Yang penting sekarang kamu baik-baik saja, sayang."
"Hmm.
Tapi, apa kamu tidak apa-apa? mengingat sebelah wajahku penuh dengan luka jahitan."
"ITU BUKAN MASALAH," ucapnya tegas. "Aku mencintai kamu, apapun kondisinya, bagaimana keadaan kamu, aku akan tetap mencintai kamu. Sekarang ataupun nanti," lanjutnya.
Lee tersenyum. Dia merebahkan kepalanya di pangkuan Siti yang masih memakai mukena.
Siti mengelus kepala Lee. Sesekali meraba luka yang masih terlihat memerah.
"Apa masih sakit?"
"Sakit banget."
"Nanti kita obati lagi, ya. Aku ...."
"Mau di cun."
__ADS_1
"Ishh ishh ishh. Kenapa jadi manja begini, sih?"
"Gak mau? ya sudah." Lee mencoba bangkit namun, ciuman Siti membuat dia kembali merebaknya tubuhnya.
"Pelan aja, sakit tau. Nafsu amat."
"Ikh. Siapa yang nafsu?"
"Kamu. Ciumnya sampe gitu banget. Ini luka, masih sakit, sayang ...."
"Maaf deh maaf, ya ...." Siti mengelus luka di wajah Lee.
"Tapi, kalau nanti malam gak apa-apa nafsu juga."
"Kenapa harus malam? kenapa enggak sekarang aja," goda Siti.
"Ya ampuun ... ini istriku kenapa? sebulan tidak di ...."
"Diem ah! berisik." Siti menyumpal mulut Lee dengan tangannya. Lee berusaha membuka dan masih terus menggoda istrinya.
"Udah gak kuat, ya ...."
"Hust!" Siti kembali menutup mulut suaminya.
"Pasti udah ...."
"Apaan sih."
"Hayuu atuh kita ...."
"Lee .... udah."
Selalu begitu. Siti yang selalu berusaha menutup mulut suaminya. Dan Lee yang dengan senangnya terus mengejek dan menggoda istrinya.
__ADS_1
to be continued.