
Dengan di temani teh panas yang masih mengelus uap, Siti dan Lee duduk di teras. Saling diam dengan pemikiran masing-masing.
Hanya angin yang sesekali berdesir, meniup agak kencang malam ini. Nyanyian dedaunan yang saling bergesekan, burung malam yang saling bersahutan sesekali, tak banyak. Mungkin karena mereka ada di perkotaan.
"Jelaskan semuanya, jangan ada yang di tutupi lagi."
"Baiklah. Tapi aku mohon percayalah! apapun alasannya, bagaimanapun awal pernikahan kita, saat ini, detik ini. Aku mencintaimu dengan tulus."
"Katakan saja apa yang tidak aku ketahui."
Lee terdiam. Dia membenarkan posisi duduknya. Menyeruput teh hangat yang Siti buatkan, meski Lee berharap Siti akan membuatkan dirinya susu jahe, seperti yang Siti janjikan sebelumnya.
"Saat aku ikut pengajian waktu itu. Aku melihatmu dari dalam mobil. Kamu tau itu bukan?"
"Hmm."
"Entah kebetulan atau tidak, eyang menyukaimu. Dia menginginkan aku menikah denganmu, dan berjanji akan menyerahkan semua warisan pada anak kita nanti."
"Dan kamu menerimanya?"
"Keluargaku menyarankan aku untuk menerima semua tawaran eyang, termasuk kedua orang tuaku."
"Itu artinya ...."
"Tidak! dengarkan dulu semuanya. Awalnya aku ragu, tapi hatiku sendiri mengatakan bahwa aku ingin menikah denganmu saat itu. Waktu itu, jika memang aku tidak mengingat pernikahan kita, aku bisa melawan eyang. Tanpa warisan darinya pun, warisan dari keluargaku di Korea tidak kalah banyak dari yang eyang tawarkan."
"Maksudmu?"
"Kamu seperti magnet yang menarik hatiku. Aku ragu tentang perasaan yang aku rasakan saat itu, karena kamu tau aku dan Naura ...."
"Yang itu lewat saja."
"Tapi semakin lama, aku yakin bahwa rasa itu memang cinta. Sayang ... aku tidak tau apa yang harus aku katakan lagi padamu, bagaimanapun menjelaskannya kalau aku memang mencintai dirimu saat ini."
__ADS_1
"Tinggalkan Naura, itulah satu-satunya bukti yang bisa meyakinkan diriku. Jika tidak ...."
"Apa."
"Aku akan benar-benar pergi dari hidupmu, untuk selamanya."
Tanpa mendengarkan apa yang akan Lee katakan, Siti beranjak dan meninggalkan Lee sendiri. Siti kembali tidur di kamar yang berbeda dengan Lee.
🌺🌺🌺🌺
"Semua ada konsekuensinya. Tindakanmu yang gegabah membuat aku harus meninggalkan dirimu untuk selamanya."
"Apa?"
"Sudah aku bilang! jika kamu ingin hidup bersamaku, terima kenyataan bahwa kamu adalah yang kedua. Tapi apa? kamu menghancurkan segalanya."
"Tidak ada wanita yang ingin jadi nomer dua, Lee!"
"Lee!" Naura berteriak.
"Dengar! aku memang mencintai dirimu, dari dulu hingga kini rasa itu tetap ada. Hanya saja ... hanya saja rasa itu tidak sama lagi kadarnya."
"Tidak Lee, di hatimu hanya ada aku seorang, sejak dulu sampai nanti. Jangan gantikan posisiku di istana hatimu Lee."
"Maaf ... tapi Siti merubah segalanya. Kepolosan, kesetiaan, ketulusan hatinya padaku merubah semuanya. Aku mencintai dirinya melebihi apapun, kini."
"Bedebah! enak banget kamu ngomong! setelah apa yang aku berikan, setelah apa yang kamu nikmati dariku, kamu buang aku begitu saja? Keparat!"
"Maaf."
"Maaf? No!"
"Naura ...."
__ADS_1
"Jika aku tidak bisa memilikimu, maka Siti juga tidak boleh bahagia."
"Jangan sentuh dia! apapun yang terjadi semua salahku. Lakukan apapun padaku, tapi jangan padanya."
"Hh? jika itu yang kamu inginkan. Maka akan aku kabulkan. Lee!"
Lee terdiam, otaknya berusaha mencerna apa yang Naura katakan.
"Kenapa Lee? apa kamu takut?"
"Apa maksudmu?"
"Jika tidak di dunia ini, ayo kita hidup di dunia lain, dimana tidak ada Siti disana."
"Naura?"
"Ayo kita mati bersama Lee, kita akan hidup abadi di alam sana, hanya kita berdua ... tidak ada yang lain."
"Tunggu, Na ... Naura ...."
Lee kaget dengan apa yang Naura lakukan. Dengan sebuah senjata api di tangannya, Naura nampak gemetar, mengarahkan moncong panas itu ke arahnya.
"Naura ... tunggu dulu, jangan begini."
"Jangan takut Lee, aku tidak akan menyakiti Siti. Aku hanya akan membawamu bersamaku pada keabadian."
"Na ...."
Dor.
Bruk!
BERSAMBUNG ....
__ADS_1