Dimadu Tak Semanis Madu

Dimadu Tak Semanis Madu
Bonus #6


__ADS_3

..."Bantu aku membencimu, ku terlalu mencintaimu. Dirimu begitu, berarti untukku. Selepas kau pergi tinggal lah di sini ku sendiri, ku merasakan sesuatu yang telah hilang di dalam hidupku."...


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Teh, beli mainan baru lagi buat Aksa." tanya Zidan, saat kami sedang menikmati sempolan ayam sembari melihat Aksa yang sedang asik memainkan kereta-keretaan pemberian Pak Johan tiga hari yang lalu.


Aku tersenyum. "Bukan, itu pemberian dari papi."


"Papi yang selalu dibicarakan Aksa?"


"He-em. Dia ternyata papinya Gisel, temen Aksa di sekolah."


"Owh, kirain siapa. Syukurlah kalau memang orang yang di kenal."


"Iya, teteh juga lega. Takutnya orang lain yang punya niatan gak baik."


"Gak bakalan kalau itu sih, 'kan ada penjaganya." Aku mengernyitkan dahi mendengar ucapan Zidan. Dia sadar aku merasa heran, tidak ingin obrolan semakin panjang lebar, dia mengalihkannya pada hal lain.


"Aksa, mau sempolan enggak? enak loh. Nanti Om habiskan yaaa."


"Jangan, aku mau." Aksa menghampiri dengan segera, takut sempolan benar-benar dihabiskan Zidan. Dia makan dengan lahap dan terburu-buru.


"Pelan-pelan, itu mayonaise nya sampe belepotan gitu." aku menyeka mulut Aksa yang sudah belepotan. Dia masih mengunyah dengan lahap.


"Bun, kata papi aku harus jadi anak baik, biar Bunda enggak sedih." aku tersenyum. Lalu mengelus pipinya yang lembut seperti kapas.


"Aksa memang anak baik, bukan? bunda Bahagia memiliki Aksa." dia masih saja mengunyah, entah mendengar atau tidak apa yang aku ucapkan. "Sayang, kenapa kamu mau menerima semua pemberian papi? apa karena dia baik?"


"Dia ganteng, Bun. Aksa mau punya papi." aku dan Zidan saling menatap.


"Sayang, papi tidak bisa kamu miliki. Lagian Aksa punya ayah yang tidak bisa diganti oleh siapapun."


"Papi mau kok gantiin Ayah. Lagi pula, kata papi ayah udah bahagia di sana. Hidupnya lebih bahagia dari kita."


"Apa papi bilang begitu saja kamu?"


Dia hanya mengangguk dengan mulut penuh makanan. Aku terdiam. Entah apa yang telah Johan lakukan pada Aksa. Lagi pula kenapa dia berpikir ingin menjadi ayah dari anakku. Kami bertemu baru sekali.


"Bu, ada tamu di luar."


"Siapa, Bi?"


"Enggak tau, Bu. Tapi laki-laki bawa anak perempuan."


Aku terdiam. Berusaha menerka siapa yang datang.


"Itu pasti Gisel." ucap Aksa. Aku menoleh ke arah Zidan dan Aksa bergantian.


"Suruh masuk aja, Bi."


"Baik, Bu."


Benar saja. Tidak berapa lama, Johan dan Gisel muncul. Johan membawa bucket bunga mawar merah yang cukup besar, sementara Gisel membawa parsel buah. Aku dan Zidan berdiri.


"Selamat sore semuanya ...." aku tersenyum kaku menyambut kedatangan mereka.


"Tante, ini buat Tante." Gisel memberikan parcel buah padaku. Disusul Johan yang menghampiri dan memberikan bunga untukku.

__ADS_1


"Terima kasih, Pak. Repot-repot bawain segala macam."


"Enggak apa-apa, saya senang melakukan ini."


Aku semakin canggung mendengar pernyataan pak Johan. Entahlah apa yang harus aku lakukan sekarang, masa iya harus menyuruh dia pulang padahal baru datang. Tapi, mempersilahkan dia duduk pun aku takut dia akan lama bertamunya.


"Teh, aku keluar sebentar, ya." ucap Zidan.


"Kenapa?"


"Enggak apa-apa, hanya sebentar saja. Nanti aku balik ke sini lagi nemenin Teteh."


"Iya. Bi, maaf, tolong ambilkan minuman dan beberapa cemilan untuk Gisel, ya."


"Iya, Bu. Bapak mau minum apa?"


"Apa saja, Bi."


"Baik." Bibi pergi meninggalkan kami.


"Silahkan duduk, Pak."


"Terima kasi."


Aku melihat Zidan kembali masuk. Namun, aku melihat raut wajah yang aneh. Zidan kenapa? apa dia bersedih? tapi, kenapa?


"Zidan, ada apa?" Dia menggelengkan kepala. Lalu duduk di dekatku. Bibi datang membawakan teh manis hangat, sekaligus jus melon untuk Gisel. Serta beberapa cemilan.


"Saya minta maaf, datang tanpa konfirmasi terlebih dahulu." Pak Johan membuka pembicaraan.


"Tidak apa-apa, Pak. Kami juga sedang tidak sibuk."


"Iya, mungkin karena dia kesepian juga di rumah enggak ada temennya."


"Iya."


Hening kembali. Kami sama-sama bingung tidak tau harus berkata apa.


"Pak, boleh saya bicara sebentar."


"Ya?"


"Saya perlu bicara, kita keluar sebentar. Bisa?"


"Oh, iya, tentu."


Aku mengajak Pak Johan ke halaman. Sementara Gisel dan Aksa bermain dalam pengawasan Zidan. Kami duduk di kursi.


"Pak, sebelumnya saya minta maaf. Hanya saja saya harus membicarakan masalah ini dengan Bapak."


"Panggil saya Johan, atau Jo. Saya berasa tua."


Kami tertawa.


"Maaf, kalau Bapak merasa begitu."


"Tuh, Bapak lagi manggilnya."

__ADS_1


"Eh, iya. Maaf, maaf, Jo. Eh, tapi jeng Ami manggil Han, bukan Jo."


"Oh, itu. Bebas sih sebenarnya asal jangan Bapak aja."


Kami kembali tertawa.


"Baiklah, Jo."


"Lalu apa yang ingin kamu katakan?"


"Oh, itu. Saya jadi lupa mau ngomong sesuatu."


"Hem, biasanya memang seperti itu. Wanita akan merasa terhipnotis saat bersama saya."


"Apa? apakah kamu sedang berusaha narsis, Jo?"


"Kenyataan, sih."


"Ckckck. Ada ya, laki-laki seperti ini? Pede nya luar biasa. Untung baik."


"Buktinya kamu lupa kembali pada inti masalah yang akan kita bahas." perkataannya sekali lagi membuat aku terdiam tidak bisa mengelak.


"Ah, iya. Emm, sebelumnya saya minta maaf, Jo. Saya agak sedikit keberatan tentang ...."


Entahlah, kenapa aku menjadi bingung harus mengatakan apa. Johan menatapku, mengangkat satu alisnya.


"Itu, kemarin Aksa bicara sesuatu yang membuat aku sedikit tidak nyaman. Dia menyatakan bahwa dia ingin memilikimu."


Johan termangu tanpa ekspresi. Aku tidak tau apa yang sedang dia pikirkan. Semoga dia tidak berpikir bahwa aku sedang meminta dia menjadi ayah Aksa.


"Bukan itu inti permasalahannya. Yang aku tidak suka adalah, bahwa Aksa bilang ayahnya bisa tergantikan oleh dirimu. He he he. Aku sedikit sakit mendengar itu ... Jujur saja, sampai saat ini tidak ada yang bisa menggantikan posisi Erlangga di hati kami."


"Kami atau kamu?"


"Maaf?"


"Kamu boleh menyimpan mendiang suamimu di dalam hati. Tidak ada yang akan bisa memaksa untuk menghilangkan dia dari hati dan ingatanmu. Itu pasti. Hanya saja tidak dengan Aksa. Bagaimanapun juga dia masih anak-anak yang menginginkan sosok ayah di sisinya."


"Johan ...."


"Terlepas siapa yang akan menjadi ayah sambung Aksa. Siapapun itu, intinya Aksa butuh sosok ayah. Mungkin kamu sibuk dengan perasaan diri sendiri tanpa mau melihat lebih dalam pada hati Aksa."


"Dia anak saya, Jo."


"Gisel dan Aksa punya cerita hidup yang sama. Keinginan mereka sama, memiliki orang tua yang utuh. Hanya saja, sampai saat ini saya masih belum menemukan wanita yang tepat untuk dia. Saya berusaha mencari, tapi kamu bahkan menutup pintu hati untuk semua orang. Itu perbedaan kita."


Tidak di pungkiri, otakku meng 'iya' kan apa yang Johan katakan. Hanya saja, aku merasa bahwa sulit rasanya menerima laki-laki lain di dalam hatiku. Apa yang harus aku lakukan?


"Saya tidak pernah mengatakan apapun pada Aksa. Tidak pernah sekalipun membujuk dia untuk bisa menerima kehadiran saya. Tapi, dia sendiri memiliki keinginan untuk itu."


Aku mengernyitkan dahi.


"Oh, jangan salah faham. Maksud saya, Aksa bukan menginginkan saya, dia hanya menginginkan ayah. Itu saja."


"Maaf, tapi saya harus masuk."


Tidak memberikan kesempatan untuk Johan mengatakan apapun, aku langsung masuk ke dalam rumah. Melewati anak-anak yang masih asik bermain. Lalu mengunci diri di kamar.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2