
Sepekan sudah. Lee terbaring tak sadarkan diri. Kesehatan Siti pun sudah pulih. Tiga hari lamanya Siti di rawat.
Malam ini. Adalah giliran Siti menjaga suaminya.
Siti hanya bisa menatap suaminya yang tidak berdaya. Mencium keningnya dengan penuh kasih sayang.
Dia juga sering membaca ayat Alquran di samping telinga Lee. Berharap dia mendengarkan dan segera bangun.
"Sayang ... ayo bangun. Aku kangen. Aku ingin kita masak bareng lagi, aku ingin kita nonton lagi. Aku ingin ... aku ingin kita segera memiliki anak."
"Waktu itu, kamu bilang. Ingin memiliki banyak anak. Bahkan ingin memiliki anak kembar. Mereka akan menangisi dirimu saat akan berangkat kerja. Mereka akan berlarian menghampirimu, menyambutmu setelah kerja."
"Anak laki-laki kita, dia akan memintamu menjadi kuda, kuda yang akan dia tunggangi. Kamu bilang, anak perempuan kita akan kamu buatkan istana boneka sendiri. Memberikannya banyak mainan. Menyisir rambutnya, dan mengecat kukunya."
"Sayang, semangatlah. Ayo bangun, jangan tidur terlalu lama."
Siti terus berbicara. Wajah cantiknya, basah. Perlahan dia mendekatkan wajahnya. Mencium bibir Lee begitu lama. Isak tangisnya masih terdengar jelas. Air matanya jatuh menetes di wajah Lee.
"Sayang. Bangun."
Siti memeluk tubuh suaminya dengan erat. Rasa rindu yang menggebu. Kesedihan yang memilukan. Pikiran yang kacau. Andai dia tidak ingat akan adanya Allah. Dia ingin sekali mengakhiri hidupnya.
Hidup yang dia pikir akan indah, meski menikah tanpa pondasi rasa. Tapi, rasa cinta yang tumbuh seiring berjalannya waktu. Malah menghancurkan segalanya. Cintanya untuk suaminya, ternyata mengundang petaka.
__ADS_1
"Apakah, untuk menjamin keselamatanmu. Pernikahan kita yang harus menjadi korban? bagaimana jika aku masih tetap bersamamu, apakah orang itu akan mencelakakan dirimu lagi? Apakah ini semua Naura lakukan, karena di ingin memilikimu seutuhnya?"
"Lee. Bangunlah, apapun akan aku lakukan. Asal kamu selamat, dan tetap aman. Meski itu harus mengorbankan pernikahan kita."
Siti terus menangis.
"Pada siapa aku harus bercerita? haruskah aku memberitahu Erlangga? mungkin dia bisa mencari tahu, siapa peneror itu? jika ini perbuatan Naura. Maka aku akan membawa ini ke jalur hukum."
Siti segera menghapus air matanya. Dia berniat pergi menemui Erlangga. Dia akan menceritakan segalanya.
Siti hendak melangkah. Namun, tangan Lee memeganginya, meski masih sangat lemah.
"Lee ...." mata Siti berbinar. Melihat Lee membuka matanya.
"Sayang ... aku panggil dokter ya."
Namun, lagi-lagi tangan Siti di pegang oleh Lee.
"Ada apa? apa kamu ingin sesuatu."
Lee menggeleng, lemah. Dengan tenaga yang ada. Lee menarik tangan Siti. Memintanya untuk berbaring di sisinya. Dan merekapun tidur dalam satu ranjang yang tidak terlalu lebar. Siti menangis sambil memeluk tubuh suaminya, erat.
Menjelang subuh. Dokter dan suster melakukan visit. Mereka sedikit kaget, melihat Siti yang tertidur bersama pasien yang dalam keadaan koma.
__ADS_1
Seorang suster berjalan mendekat, berniat membangunkan Siti. Namun Lee segera melarangnya. Dengan menggelengkan kepala perlahan.
Petugas itu kaget sekaligus bahagai, karena ternyata pasiennya sudah siuman.
"Saya periksa sebentar ya, Pak."
"Lee menggeleng. lengannya bergerak memberi isyarat agar mereka pergi. Lee hanya ingin tetap seperti ini. Memeluk istri yang sangat dia cintai.
Dokter dan para suster itupun pergi meninggalkan ruangan. Mereka hanya mengecek cairan infus, mengecek nadi Lee.
Mereka melakukan pengecekan yang sifatnya silent. Lee tidak ingin istrinya terbangun.
bersambung ...
Lee
Siti
Erlangga
__ADS_1