Dimadu Tak Semanis Madu

Dimadu Tak Semanis Madu
Bonus#25


__ADS_3

...Sebelumnya aku mau minta maaf lama gak up. Aku baru saja kehilangan sahabat terbaik di hidupku. Sebenarnya sekarang pun masih berkabung. Hanya saja, aku sudah berjanji pada diri sendiri akan menyelesaikan dengan cepat kisah Siti dan Lee....


...Selamat membaca 😊...


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Sayang ...." aku menoleh. Dia menghampiri dengan senyuman yang selalu membuatku berdebar. "Lagi apa? kenapa berdiri di sini sendirian? Aksa mana?"


"Sudah tidur."


Dia memeluk tubuhku erat. Aku bahkan bisa mendengar detak jantungnya. Begitulah, tubuhku yang tidak terlalu tinggi ini, membuat telinga berada tepat di dekat jantungnya.


"Udah malam. Ayo kita tidur."


"Hmm. Aku lupa ini malam pertama kita, maaf."


"Tidak, bukan itu." dia mengurai pelukan, hingga kami bisa saling menatap."kamu pasti lelah. Meski pernikahan kita sangat sederhana dan hanya ada keluarga dekat, kamu pasti lelah bukan?"


Aku mengangguk dengan mata terpejam.


"Jalannya lemes," rengekku manja.


"Ckckck ... baiklah kalau begitu, ayo." aku yang masih memejamkan mata sontak terkejut saat Lee menggendong tubuhku menuju lantai atas. Dimana ada kamar Lee di sana.


Dia menaiki anak tangga dengan mata yang masih terus menatapku.


"Lihat tangganya, menatapku masih bisa nanti di kamar."


"Aku tidak ingin kehilangan waktu meski hanya satu detik."


Mmuach. Aku mencium suamiku. Dia terperangah. "Nah, kalau begini kan makin semangat. Ayo kita segera ke kamar saja."


"Hahaha. Mau lagi?" godaku, tanpa persetujuan dirinya, aku memberikan ciuman bertubi-tubi di seluruh wajahnya.


**


"Ini suka? kalau ada yang masih kurang biar saya tambahkan."


"Ini sudah bagus, tapi ...."


"Kenapa, sayang?"


"Aku mau pakai kebaya pernikahan kita dulu saja. Masih ada enggak di rumah?"


"Ada di rumah utama, mama simpen dengan baik."


"Lee, sebaiknya kita enggak usah beli lagi, ya?"


"Baiklah kalau begitu."


"Tapi ini sudah Tuan bayar, bagaimana?"


"Tak apa, berikan saja pada yang minta."


Aku, Lee dan Mama keluar dari butik. Kami berencana memilih cincin pernikahan.


"Kali ini jangan menolak. Ini harganya cukup mahal kalau harus aku berikan pada orang lain," ucap Lee, becanda.

__ADS_1


"Baiklah, baiklah, kali ini aku akan memakainya. Biar ada kenangan juga. Siapa tau Aksa akan punya adik laki-laki, jadi menantu kita dua, cincinnya bisa kita berikan pada mereka kelak."


"Astaga. Sayang, ini masih siang." Bisik Lee.


"Terus?"


"Ya, kenapa ngomongin masalah bayi?"


"Loh? kenapa?" tanyaku. Aku baru mengerti saat melihat ekspresi Lee. Tak! aku menyentil dahinya. "Otaknya nanti kita bawa ke loundry." aku mendelik dan dia hanya terkekeh.


"Mau ikut test makanannya juga enggak? Mama harus segera pergi ke pihak catering soalnya."


"Oh, mama aja deh, ya yang pergi. Aku dan Siti harus ke suatu tempat."


"Baiklah. Mama pergi duluan ya."


"Hati-hati, Mam."


"Emang kita mau kemana?" tanyaku saat Mama sudah pergi.


"Mau beli persiapan buat menyambut adiknya Aksa."


"Lee ...." aku mencubit perutnya. Dia meringis kesakitan dan geli berbarengan.


"Ayo, kita makan saja dulu. Kamu lapar?"


"Makan di rumah aja, ya. Mumpung aku masih bisa masak di sana, sebelum mami mengambilnya."


"Kamu sedih?"


"Tidak apa-apa. Aku tidak akan memintamu melupakan Erlangga. Jika dia masih ada dalam hatimu, biarkan saja. Jangan dihapus."


"Lee ...."


"Jangan merasa bersalah. Aku baik-baik saja. Lebih baik kita pulang, masak lalu makan bersama Aksa dan Zidan."


"Hmm."


"Sepertinya aku harus beli rumah baru,rumah kita yang lama tidak akan menampung kita ber empat," ucapnya saat kami sudah jauh berjalan.


"Apa tidak sebaiknya kita tinggal di kampung halamanku saja?"


"Kerjaanku bagaimana?"


"Jadi petani saja. Kita garap sawah bersama."


"Hmm ... tidak!"


"Kenapa?"


"Aku tidak mau kulitku rusak."


"Apa? ishhh. Menggelikan sekali alasan anda wahai Tuan."


"Aku juga tidak mau kamu cape, itu intinya. Kita bisa pulang satu kali dalam sepekan bukan?"


"Baiklah. Deal?"

__ADS_1


"Deal! hessss aku akan memancing ikan bersama Aksa. Kita akan memasak nasi dan makan di luar rumah beralaskan daun pisang."


"Hohoho. Baiklah, Tuan. Akan saya laksanakan."


"Apa Aksa benar-benar akan memiliki adik laki-laki." tanyanya saat kami sudah ada dalam mobil.


"Entahlah, aku berharap kita akan memiliki anak kembar."


"Serius? apa itu tidak merepotkan?"


"Itu akan sangat lucu."


"Hmmm." Lee tampak sedih.


"Kenapa?"


"Aku nanti akan menjadi anak tiri yang terabaikan."


"Hahaha. Apa kamu cemburu pada anak sendiri? sungguh aneh!"


"Bahkan aku cemburu pada mukenamu yang selalu kamu bawa."


"Ya ampun. Apa kamu juga mau aku bawa kemana-mana?"


"Ya! aku akan menjadi bayanganmu kemanapun kamu pergi, aku akan selalu ikut."


"Baiklah. Kalau begitu jadilah bodyguardku."


"Siap! Laksana Nyonya."


Dan percakapan tidak terarah itu terus menemani kami selama dalam perjalanan.


Dia terus saja berceloteh tentang keinginannya setelah resmi menjadikan aku istrinya, lagi.


Jodoh memang tidak akan pernah kemana. Kata-kata klise yang benar adanya. Menikah dengannya tanpa landasan cinta, membina rumah tangga hingga cinta itu tumbuh bersemi, melekat sampai dasar hati.


Takdir memisahkan kami berdua, bahkan dia 'jalannya' perpisahan kami menjadi suami keduaku, Erlangga. Dengannya aku benar-benar merasa di cintai, merasa begitu di hargai meski akhirnya aku harus kembali kecewa.


Lika-liku kehidupan. Pahit, manis, asin dan asam harus kita rasakan. Hanya dengan ikhlas kita bisa menjalani semuanya.


Lee. Terima kasih telah setia menunggu. Keteguhan hatimu yang tetap setiap, membuatku benar-benar yakin akan kembali menjadikanmu imam hidupku.


Semoga, pernikahan kita kali ini benar-benar akan membawa kita ke Jannah-Nya. Aamiin.


...end...


...🌺🌺🌺🌺🌺...


Hallo Readers yang sudah setia pada Siti dan Lee. Aku ucapkan banyak terima kasih. Kalau bukan karena dukungan kalian, mungkin kisah ini tidak akan berlanjutnya sampai bonchap 25.


Jangan lupa baca karyaku yang lain, yaaaa .... kecuali takdir tak akan pernah tertukar, itu tidak akan saya lanjutkan.


Yukkk kita ikuti kisah Hendra dan Rina di Bahasa Halus Suami dan juga Kisah Kinanti yang mencintai pria beristri, kita lihat bagaimana akhirnya? akankah Kinanti mendapatkan pria idamannya yang salah itu?


Love U all 💖😍🤗


By : 🌺BILANOUR 🌺

__ADS_1


__ADS_2