Dimadu Tak Semanis Madu

Dimadu Tak Semanis Madu
BAB 36


__ADS_3


Siti nampak begitu kurus. Wajahnya yang tembem kini terlihat sedikit kempis. Terlihat jelas lingkaran panda di matanya.


Tidak ada yang bisa keluarga lakukan untuk membujuknya agar bisa makan dengan normal. Bagaimana bisa membujuk jika untuk bicara saja mereka tidak di izinkan oleh Siti.


"Eyang minta bantuan kamu ya ... datang dan bujuk Siti, dia sudah lama membatasi diri dengan kami semua. Bahkan dia tidak memperdulikan dirinya sendiri."


"Iya Eyang. Nanti Erlangga segera ke rumah. Semoga Siti mau bicara."


"Terimakasih Er ...."


Itulah percakapan Bu. Amira dan Erlangga di telepon. Wanita sepuh yang masih terlihat cantik itu tau, bahwa Siti dan rekan cukup dekat.


Sementara disana, Erlangga hanya menatap layar ponselnya. Diputarnya ponsel dengan jarinya yang putih bersih.


"Mungkin aku harus segera kesana, sebelum Lee dan Naura tiba."


Laki-laki tampan itu segera bangkit dan naik dari kolam renang yang sedari tadi merendam tubuhnya.


"Bi ... tolong handuk."


"Iyad den, sebentar." teriak wanita paruh baya dari ruangan sana. Tak berapa lama wanita dengan perawakan gempal itu datang. Memberikan handuk pada tuannya.


"Malam ini saya tidak pulang. Bibi masak saja buat para pekerja disini. Jangan tunggu saya pulang."


"Iya den ... hati-hati di jalan."


"Hmm. Makasih Bi."


Erlangga segera berjalan. Memasuki kamarnya. Dia masuk ke kamar mandi. Melepas handuk dan pakaian renangnya. Menyalakan shower. Uap putih seketika menutupi sekat kamar mandi yang terbuat dari kaca tebal.


Di bawah guyuran air hangat, sejenak Erlangga memejamkan mata. Pikirnya jauh menerawang entah kemana.


Setelah selesai membersihkan badan. Erlangga segera mengeringkan tubuhnya. Mengambil baju santai dengan celana jeans sobek dan kaos polos berwarna hitam. Tak lupa anting-anting yang selalu dia pakai. Kalung dan juga jam tangan yang tak pernah lupa menghiasi pergelangan tangannya.


Berjalan menuruni anak tangga. Meraih kunci mobil sport nya berwarna kuning.


Dia menginjak pedal gas begitu dalam. Melaju dengan kecepatan tinggi. Berharap akan segera sampai dan bertemu dengan 'Kembang Desanya'.


Sesampainya di rumah mewah bergaya India Eropa itu, Erlangga langsung menuju kamar Siti. Dia tau, bahwa di rumah tidak ada siapapun. Karena penghuni disini mempunyai kesibukan masing-masing.


tok tok tok


"Siti ... ini Aa. Buka pintunya dong."


Tidak ada jawaban.


"Temenin aa makan yuk. Laper banget soalnya."

__ADS_1


Sepi.


"Siti. Tau gak? kata ustadz madrasah aku waktu kecil, menyiksa diri sendiri itu dosa loh. Allah gak akan suka sama kita."


Masih tidak ada respon. Namun itu tidak menyurutkan semangat Erlangga.


"Andai zidan tau tetehnya seperti ini, aku rasa dia akan kecewa. Pun bapak. Bagaimana mereka bisa bahagia dengan kehidupannya yang sekarang, kalau anak kesayangannya menderita. Mungkin mereka akan memilih hidup di gubuk reyot lagi dan ...."


Klek! pintu terbuka.


Segera Erlangga memasang senyumnya yang paling manis. Meski tidak berbalas.


Siti hanya terdiam, memasang wajah datar tanpa ekspresi. Wanita itu berjalan keluar, menuruni tangga. Erlangga berjalan mengikutinya dari belakang. Di tatapnya wanita yang masih tersimpan di lubuk hatinya.


Ada rasa yang semakin menguat. Ada khawatir, cemas dan sedih melihat 'kemang desa'nya yang kini layu.


Mereka duduk di taman belakang. Di ayunan yang bernaungkan pohon besar.


Erlangga berdiri di sampingnya. Masih menatap sendu.


"Siti ... kenapa harus seperti ini? jika kamu tidak sanggup, harusnya kamu mencegah pernikahan ini, bukan malah ...."


"Aku tidak pernah tau rasanya akan sesakit ini A."


"Lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?"


"Bertahan? dalam semua derita ini?"


"Ini semua aku yang ingin. Suka tidak suka aku harus terima A."


"Dengarkan aku." Erlangga duduk di hadapan Siti.


"Kamu bisa meminta Lee untuk menceraikan Naura, Lee pasti akan menurutinya."


"Itu tidak mungkin. Pernikahan mereka baru beberapa hari. Dan aku juga yang memaksa Lee menikahi Naura. Rasanya sangat kejam untuk Naura A."


"Kenapa kamu meminta Lee menikahi Naura?"


Siti terdiam. Matanya menatap tajam Erlangga. Siti mencari kesungguhan, bisakah Erlangga di percaya?


"Aku selalu mendapat ancaman dari seseorang. Dia akan mencelakakan Lee jika aku tidak melakukan ini."


"Apa!?"


"Iya A. Aku pikir itu akan sangat menyakitkan. Aku tidak bisa membayangkan sesuatu terjadi pada Lee. Aku pikir apa salahnya aku mengizinkan Lee menikahi Naura. Paling tidak Lee baik-baik saja."


"Lee tau semua ini?"


"Tidak."

__ADS_1


"Kenapa kamu baru cerita sekarang? Mungkin aku bisa membantumu. Dan pernikahan ini tidak akan terjadi."


",Tidak apa-apa A. Mungkin ini sudah takdir. Siapa yang bisa merubahnya?"


"Lain kali jangan ambil keputusan yang gegabah. Kalau ada apa-apa, beritahu aku. Segera!"


"Iya A."


Kruyukk ....


Siti menatap Erlangga penuh tanda tanya. Hingga akhirnya dia tertawa terbahak-bahak.


"Ayo kita makan. Aku tidak mau mendengar suara perutmu lagi." ajak Siti.


Erlangga tersenyum manja, seperti anak kecil.


Siti berjalan mendahului. Erlangga tersenyum bahagia. Akhirnya Siti mau pergi makan.


Mereka pergi ke sebuah restoran mewah di sebuah hotel. Mengobrol apapun yang sebenarnya bukan hal penting.


Sesekali Siti tertawa. Sementara Erlangga hanya bisa tersenyum melihat Siti yang sudah mau tertawa.


Hati Erlangga merasa lega. Melihat 'kembang desa'nya mau makan dan tersenyum kembali. Sebelum pulang ke rumah, mereka mampir ke sebuah butik busana muslim. Membeli beberapa gamis dan hijab untuk Siti.


Saat keluar dari butik, ada sedikit keributan. Masa heboh karena adanya penjambretan. Beberapa orang berlarian mengejar jambret itu. Suasan riuh.


Brak!


Seseorang menabrak Siti. Jilbab yang dia kenakan terlepas karena menyangkut di tangan orang itu secara tidak sengaja.


Dengan refleks Erlangga memeluk tubuh Siti. Menutup bagian kepalanya dengan tubuhnya. Siti merundukkan badannya. Menutupi kepalanya dengan tangan.


"Maaf Mas. Saya tidak sengaja menabrak istrinya."


"Tidak apa-apa. Lain kali hati-hati." ucap Erlangga.


Erlangga masih memeluk Siti. Menutupi rambutnya yang tergerai. Paper bag yang berisikan hijab dan gamis, segera Erlangga sobek kasar. Dengan cepat dia mengambil hijab yang baru di belinya. Dan memakaikannya pada Siti.


Setelah rapi. Siti segera berdiri. Dengan nafas yang tersengal-sengal, wanita cantik itu merapikan pakaian dan hijabnya.


"Makasih A."


Erlangga menggelengkan kepala. Tersenyum untuk menangkan Siti, meski hati dia pun tak kalah kacaunya. Marah pada orang tadi, namun ada sedikit rasa bahagia di dalam hati kecilnya yang paling dalam.


Seperti mengambil kesempatan dalam kesempitan, tapi memeluk Siti membuat Erlangga sangat bahagia. Merengkuh tubuh kecil wanita yang selalu dia damba selama ini.


Pikirkannya melayang. Matanya masih tidak lepas dari wanita yang sedari tadi membenahi pakaiannya.


to be continued.

__ADS_1


__ADS_2