Dimadu Tak Semanis Madu

Dimadu Tak Semanis Madu
BAB 26


__ADS_3

Begitu sampai di rumah. Lee dengan langkahnya yang gontai, menyeret tubuhnya memasuki rumah.


Tidak ada lagi semangat dalam dirinya untuk masuk ke dalam rumah itu, tidak akan ada lagi yang menyambut dirinya dengan senyuman manis. Pelukan hangat dengan wangi yang semerbak. Genggaman erat tangannya yang lembut, menuntun langkah menuju meja makan yang di atasnya tersedia makanan lezat yang masih hangat.


Langkah Lee berhenti sejenak. Dia memijat kuat pangkal hidungnya yang terasa sakit. Perlahan dia membuka mata, dan terkejut saat melihat ada sepasang kaki di hadapannya. Segera dia mengangkat kepalanya, memastikan bahwa matanya tidak salah melihat.


"Siti ....?"


Segera Lee berlari kecil, meraih tubuh Siti ke dalam pelukannya.


"Aku menunggu. Menghitung waktu, seberapa lama kamu akan datang."


"Syukurlah ...."


"Kenapa lama sekali? apa dia ...."


Ucapan Siti yang belum selesai, terhenti oleh ciuman yang Lee daratkan. Siti yang tidak siap sontak terkejut. Namun, akhirnya dia menikmati dan membalas ciuman dari suaminya.


"Kenapa kamu lama?" tanya Siti, saat mereka masih terlilit selimut tanpa memakai sehelai benangpun di tubuh mereka.


"Macet sayang ...."


"Bohong." rengek Siti.


"Seriusan. Tadi jalanan macet banget."


"Lalu, dia?"


"Entahlah, aku bahkan lupa berpamitan padanya. Haruskah aku menelponnya sekarang?" goda Lee.


"Ish ...." Siti membalikan tubuhnya, membelakangi Lee-- suaminya.


"Nggak sayang ... sini ...." Lee melingkarkan tangannya di perut Siti yang tanpa busana itu.

__ADS_1


"Nyebelin ih! masa dalam keadaan seperti ini, kamu mau telponan sama selingkuh kamu, begitu?"


"Hey ... aku becanda sayang."


"Gak lucu!"


"Biarin, yang penting kamu suka 'kan? iyalah, secara aku ini tampannya kebangetan."


"Sejak kapan kamu begini? ngeri aku ah!"


"Ngeri-ngeri sedap tapi 'kan."


"Udah ah! ayo kita tidur."


"Tidur?"


"Iyalah. Terus mau ngapain?"


"Lee ...."


Bukk! Sebuah bantal mendarat di wajah Lee. Tak mau kalah, Lee pun membalas pukulan Siti.


Mereka berdua bermain pukul bantal seperti anak kecil yang sangat bahagia. Ranjang Lee yang selalu terlihat rapi. Kini, sudah sangat tidak beraturan. Bantal dan guling sudah tak lagi pada posisinya, seprei pun kini tidak lagi berfungsi sesuai tujuan dia ciptakan.


Hingga rasa lelah membuat keduanya berhenti bermain. Siti berbaring dengan lengan Lee sebagai bantalannya.


Nafas keduanya saling memburu. Diselingi tawa kecil yang masih tersisa.


"Sayang ...."


"Hmm."


"Beri sedikit waktu. Untuk apapun, aku tidak ingin kamu pergi."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Karena aku mencintaimu. Sejak dimana aku melihatmu malam itu, entahlah ... ruang dalam hatiku terbuka semua untukmu."


"Aku berharap apa yang kamu katakan adalah sebuah kebenaran, Lee."


"Aku yakin, ini adalah sebuah pengakuan yang jujur. Siti ...."


"Ya."


"Apa kamu mencintaiku?"


Siti menengadahkan kepalanya, berusaha menjangkau pandangan untuk melihat wajah suaminya.


"Lee ...."


"Hmm." Lee membalas tatapan Siti.


"Di setiap nafas yang ku hembuskan saat aku berdoa, aku hanya selalu menyebut namamu, ku ungkapkan cintaku untukmu pada Allah. Aku selalu meminta agar dia menjaga hati dan cintamu untukku. Kamu tau Lee? hatimu ini ...." Siti menunjuk dada Lee.


"Hati ini milik sang pencipta. Jika aku menginginkan hati ini, maka aku akan memintanya pada sang empunya. Dia yang punya kuasa atas hatimu. Bukan kamu."


"Aku selalu meminta agar dimanapun kamu berada, Allah selalu menjagamu. Melindungi dirimu dari kejahatan dan godaan yang menyesatkan. Apa itu cukup untuk menjadi bukti bagaimana perasaan aku?"


Lama mereka terdiam. Saling menatap satu sama lain. Lee menatap lekat netra indah istrinya bergiliran.


"Aku mencintaimu istriku ...."


Lee menarik dagu istrinya. Mencium setiap jengkal bibir dan wajah istrinya. Hingga kini tubuh Lee menguasai seluruh pergerakan dari keduanya.


Malam yang hangat, menggantikan pagi hari yang menguras hati Siti.


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2