Dimadu Tak Semanis Madu

Dimadu Tak Semanis Madu
Erlangga


__ADS_3

Tujuh hari setelah Aksa lahir. Siti dan Erlangga melakukan acara qiqah untuk anak mereka. Menyembelih dua ekor domba besar dan juga bershalawat. Di hadiri banyak tamu dan sodara.


Bu Han, Bu Amira dan juga Lee datang saat itu. Mereka membawa berbagai hadiah untuk Aksa.


Acara demi acara selesai di laksanakan. Makanan untuk anak yatim dan orang sekitar sudah pun di antarkan.


"Cucu Eyang," ucap Bu Amira sambil menimang Aksa. Terlihat jelas di wajahnya, dia begitu merindukan sosok cucu yang selama ini belum dia dapatkan.


"Kamu kenapa enggak ngasih kabar waktu lahiran? kasian Erlangga hanya sendiri jagain kamu, Siti," tanya Bu Han, tangannya mengelus kepala Siti penuh kasih.


"Maaf, kami tidak tau kepergian Bapak kamu, andai saja kami di beritahu, mungkin kami akan kesana sesegera mungkin," lanjutnya.


"Enggak apa-apa, Mam."


Fokus mereka tertuju pada Aksa. Malaikat kecil yang selalu di tunggu keluarga besar Bu Amira.


"Lee, kita bicara sebentar."


Lee mengikuti langkah Erlangga menuju taman samping rumah. Mereka duduk di sebuah gazebo.


"Apa kabar, Lo?" tanya Lee.


"Sangat baik. Belakangan ini gue udah jarang ngerasain sakit. Cuma, itu bukan berarti gue sembuh."


"Jangan pesimis. Lo harus kuat demi Aksa, dia butuh Lo."


"Itulah ...." Erlangga menarik nafas panjang. "yang akan gue omongin sekarang."


"Apa?"


"Gue mungkin tidak akan hidup lama. Yaaa meski gue tau, umur itu bukan kita yang nentuin. Tapi, di dunia ini yang benar-benar sayang sama Siti selain gue, Lo."


Lee menyipitkan mata. Berusaha memahami arah pembicaraan Erlangga.


"Andai, gue pergi saat anak gue masih sangat kecil. Gue harap, Lo bisa jagain dia, jadi pengganti gue." ucap Erlangga terdengar sangat menyesakkan dada.


Ada bulir-bulir kecil di matanya.


"Itu tanggung jawab Lo, bukan gue. Lo harus sembuh."


"Gua mau. Tapi gak bisa. Bagaimanapun juga penyakit gue udah parah. Tubuh gue udah kering, rambut gue hilang semua. Gue hanya tinggal menunggu waktu."


"Gue gak suka obrolan kita."


"Berjanjilah. Gue mohon."


Lee hanya bisa terdiam menatap Erlangga. Dalam hatinya dia memang ingin kembali bersama Siti. Dengan perginya Erlangga bukan hal yang dia inginkan.


"Gue mohon." wajah Erlangga memelas, hampir memohon. Lee menganggukkan kepala.


"Sayang ...." Suara Siti memecah suasana sedih saat itu.


"Ada apa?" tanya Erlangga.

__ADS_1


Siti berjalan semakin dekat. Dia sempat melirik Lee yang sedari tadi menatap dirinya.


"Ayo, masuk. Diluar dingin," ujarnya sambil memakaikan selimut di punggung suaminya.


Mereka berjalan. Dengan tangan Siti yang merangkul punggung Erlangga.


Ada sedikit rasa perih dalam hati Lee melihat adegan tersebut. Sesal dalam dadanya begitu kuat.


"Minum obat nya, ya." Siti memberikan obat dan segelas air. Semua mata tertuju pada mereka. Ada rasa bahagia, sedih menyelimuti ruangan itu.


"Nyo-Nyonya." Bibi terbata memanggil sosok yang tengah berdiri di pintu. Membuat semua mata berbelok arah padanya.


"Mami?"


Mendengar ucapan Erlangga. Siti sadar, itu adalah ibu dari suaminya.


Sosok wanita cantik yang elegan. Memakai celana peach dengan balutan jas berwarna putih yang dibiarkan terbuka. Memperlihatkan kemeja yang dia pakai senada dengan warna celana.


Sepatu dengan heels yang lancip. Kacamata hitam yang dia letakkan di atas kepala.


Dia berjalan bak model. Menghampiri Erlangga. Memberi isyarat tangan agar Siti menyingkir dari sisi Erlanngga.


"Jangan bergerak sedikitpun." sergah Erlangga saat Siti hendak pergi. "Tetap diam disitu." tambahnya.


Siti duduk kembali.


"Ada apa? kenapa kemari?" tanya Erlangga ketus.


"Mami, ingin bertemu dengan cucu mami. Apa salah?"


"Lupakan. Mana cucuku?" tanyanya seraya memutar badan, matanya mencari.


"Ah! itu dia." wanita itu berjalan menghampiri Bu Amira. "Kemari, sayang."


"Tidak! kamu harus izin dulu pada ibunya."


"Ayo, dong. Kenapa Ibu selalu begini? itu cucuku, Bu."


"Dia cicitku. Kita mempunyai hak yang sama. Bedanya, kehadiran kamu disini tidak diinginkan."


"Benarkah? ayo, sini. Aku ingin melihat cucuku, Bu!" bentaknya. Siti berjalan menghampiri keduanya. Mengambil Aksa dari tangan Bu Amira.


"Jangan bertengkar di depan anakku."


Siti menggendong anaknya. Menghampiri Lee. Mereka berjalan menuju kamar.


Saat mereka di dalam kamar. Terdengar keributan di luar. Seperti biasa, pertengkaran antara menantu dan mertua yang memang sedari dulu tidak pernah akur.


Mami Erlangga yang dikenal sebagai pembangkang. Dia membuat suaminya menjauhi keluarganya dan pergi begitu saja saat itu.


Bu Amira yang tidak setuju sejak mereka menikah karena perbedaan keyakinan. Dimana Papi Erlangga adalah muslim dan Mami Erlangga non muslim.


Keinginan Bu Amira yang meminta Mami Erlangga untuk masuk Islam membuat mereka berseteru hingga saat ini. Bahkan, sampai Papi Erlangga tiada.

__ADS_1


Aksa tertidur lelap. Segera Siti mendekati suaminya yang duduk tertunduk mendengar pertengkaran antara Bu Amira dan Maminya.


"Sayang ...."


"Aku benci selalu begini. Kenapa aku memiliki ibu yang sangat kerasa hati. Tidak perduli apapun agamanya, aku hanya ingin dia bersikap baik pada siapapun. Bukankah semua agama selalu mengajarkan kebaikan. Kenapa mami begitu keras?"


"Sabar, semua butuh proses."


"Sampai berapa lama lagi? dia bahkan lebih kerasa dari batu. Sikapnya padamu membuat aku semakin muak."


"Jangan begitu. Bagaimana juga, dia ibumu. Wanita yang telah melahirkan kamu. Lihat sendiri bagaimana aku berjuang melahirkan anak kita?"


"Aku ragu dia merasakan rasa sakit itu."


"Sayang ...."


"Kamu begitu mencintai Aksa, sementara dia? bahkan sejak lahir aku diasuh pembantu. Dia yang merasa wanita karir yang hebat tidak pernah mau merawatku selayaknya ibu!"


"Erlangga ...." Siti sedih.


"Saat aku kecil hidup di luar negeri. Mereka teman-temanku selalu menghadiri acara di sekolah bersama ibunya, dan aku? aku selalu ditemani Bibi, bahkan sampai detik ini. Aku sakit, dia tidak perduli."


"Sayang, sudah."


"Aku sekarat! apa dia perduli? apa dia pernah menengok meski sebentar saja? tidak bukan? sejak aku sakit dia tidak pernah menunjukkan batang hidungnya."


"Sayang ...." Siti memeluk erat Erlangga.


"Aku tidak ingin dia ada disini, hatiku semakin sakit." tangisan Erlangga pecah di pelukkan istrinya.


"Argh!" Erlangga meringis.


Siti melepas pelukannya "Sayang, kenapa? kepala kamu sakit?" tanya Siti cemas. Erlangga tidak menjawab, dia bahkan berteriak dan meremas kepalanya.


"Lee ... Mama!"


Teriakan Siti membuat pertengkaran di luar mereda.


"Lee ... tolooong."


Brak!


"Ada apa? Erlangga ...." Lee segera berlari menghampiri. Sementara Erlangga terus berteriak kesakitan. Kejang. Hingga akhirnya dia pingsan.


Tanpa basa-basi, Lee segera menggendong Erlangga. Membawanya ke mobil dan segera melarikan Erlangga ke rumah sakit. Disusul yang lain dalam mobil yang berbeda.


Sesampainya di rumah sakit. Dokter segera melakukan tindakan.


"Sepertinya Tuan Erlangga harus melakukan perawatan intensif. Penyakitnya semakin parah. Tidak bisa di bawa pulang dalam waktu dekat."


"Lakukan apapun dokter. Selamatkan adik saya."


"Kami akan melakukan yang terbaik."

__ADS_1


Dokter pergi.


Erlangga masuk ruang perawatan. Semua tampak sedih, apa lagi Siti. Dia yang sedari tadi tidak melepaskannya genggaman tangannya, tidak berhenti menangis. Mulutnya selalu berdzikir.


__ADS_2