
"Pagi sayang ...." sapa Lee, dengan matanya yang masih megerjap sesekali.
"Di bangunin susah banget! gak subuh 'kan jadinya." Siti memajukan bibirnya kesal.
"Maaf ya! aku ngantuk banget."
"Udah mandi wajib belum? Nanti Dzuhur masa gak salat lagi." Siti mengikut perut Lee yang sedari tadi nemplok di punggungnya.
"Auch!"
Siti mesem, mendengar suaminya merintih manja.
Lee mencium pipi bulat Siti. "Aku mandi dulu ya." Lee kembali beranjak ke kamarnya, meninggalkan Siti yang sedang asik mengaduk nasi goreng di atas kuali.
Nasi goreng, lengkap dengan acar, keripik melinjo dan telor mata sapi. Sudah siap di meja makan. Tidak lupa dengan Jus Jambu biji tanpa gula dan es batu.
"Wah! enak nih ...."
Siti hanya tersenyum manis. Lee duduk dan perlahan melahap nasi goreng buatan istrinya.
"Gimana? enak gak Lee?"
"Hmm." Lee sibuk melahap nasi goreng yang memang sangat enak itu.
"Pelan-pelan makannya, sampe belepotan gituh." ucap Siti, di lap nya dengan tangan kosong bibir Lee.
"Ini minum dulu ... nanti keselek kamu!"
Ting Tong
__ADS_1
Bunyi bel sepagi ini?
"Biar aku yang buka, kamu lanjutkan saja makannya." Lee beranjak.
Beberapa menit berlalu, tapi Lee tidak kunjung kembali. Siti putuskan untuk menyusul Lee ke depan.
"Siapa say ... yang." Suara Siti melemah setelah melihat Lee berpelukan dengan seorang wanita—Naura.
Lee hanya bisa terdiam dengan pelukannya yang tidak dia lepaskan. Menatap Siti yang mulai berkaca-kaca.
"Maaf ...." Siti segera berlari kecil meninggalkan mereka. Menutup diri di kamar Lee.
Siti menangis sesenggukan di atas bantal. Betapa tidak, hatinya hancur setelah baru beberapa menit yang lalu dia merasa bahagia.
Ah! dunia ini betapa kejam memperlakukan Siti. Membuat dia terombang-ambing di antara cinta yang rumit. Dia tau Lee mencintai wanita lain selain dirinya, tapi Siti tidak bisa berbohong bahwa cintanya begitu besar untuk Lee.
Tok tok tok.
Perlahan Lee membaringkan tubuhnya di samping Siti. Memeluk dengan penuh penyesalan.
"Maaf."
Siti hanya terdiam mendengar permintaan maaf dari suaminya. Jujur! Siti sangat terluka untuk bisa memaafkan Lee saat ini juga.
Wanita yang kini matanya sembab itu bangun, berniat pergi meninggalkan suaminya. Dengan cekatan, Lee menarik kembali tubuh Siti, tepat ke dalam pelukannya.
"Maaf sayang ...."
Begitu erat Lee mendekap tubuh Siti. Dibenamkannya kepala di atas pundak Siti. Air mata Siti tumpah ruah. Tangisannya pecah, menggaung di seluruh kamar. Rasa sesak yang sedari tadi menghimpit dadanya, keluar.
__ADS_1
"Menangislah. Jika itu bisa membuatmu lega."
"Lepaskan!"
"Tidak akan."
"Aku ingin sendiri saat ini. Butuh waktu lama untuk bisa memaafkan mataku yang terlanjur melihat semuanya."
"Sayang ...."
"Bukan salah kamu Lee. Ini semua salahku, karena mencintai suami yang ternyata hatinya untuk wanita lain. Sudah menjadi resiko untukku menahan segala rasa sakit yang mungkin akan kembali datang."
"Tidak seperti itu. Semua ini salahku ...."
"Aku mohon! lepaskan."
Suara Siti yang penuh dengan tekanan, membuat Lee sedikit takut. Di melepaskannya pelukannya.
Dengan langkah gontai. Siti keluar dari kamar, menuruni anak tangga menuju tempat wudhu. Kemudian dia menghabiskan waktunya di atas sajadah. Mengeluarkan segala keluh kesah pada sang Maha.
Dengan penuh kesungguhan Siti berdoa. meminta yang terbaik untuk kelanjutan pernikahannya.
"Ya Allah. Jika pernikahanku adalah Ridho-Mu, maka lindungi keluarga ini dengan caramu. Apapun halangannya akan aku hadapi. Tapi, Ya Rabb ... Jika pernikahan ini hanya mendatangkan mudharat, maka pisahkan kami dengan cara terbaik-Mu. Aamiin."
🌺🌺🌺🌺
*Hai semua.
maaf ya baru up lagi. semoga suka dan tunggu kelanjutannya lagi.
__ADS_1
bantu rate. love, dan vote ya buat author. lopeee all 😍*