
Sepi. Rumah besar itu setiap hari memang sepi. Tetapi, kali ini terasa begitu dingin. Tidak ada makan malam keluarga.
Bahkan, Lee dan Siti tidak berada dalam satu kamar.
Lelaki dengan lesung pipi itu merasa kecewa dengan apa yang terjadi selama ini.
"Bagaimana bisa, Papa selingkuh dan memiliki dua orang anak? stroke? Kakak Naura? kenapa semua ini bisa terjadi?"
Lee terus bertanya-tanya. Apa yang hari ini terjadi membuat dia merasa sangat depresi. Naura, wanita yang dulu pernah dia cintai dengan begitu tulus, ternyata istri dari laki-laki lain.
Dia mendekatinya hanya karena dendam. Dendam pada orang tuanya yang telah membuat Kakaknya stroke. Terlalu stres dan frustasi membuat Kakak Naura yang saat itu hamil besar mengalami pecah pembuluh darah di otak. Bahkan, kakak Naura melahirkannya dalam keadaan tidak bisa apa-apa.
Memikirkan hal itu, kepala Lee benar-benar seperti mau pecah. Berulang kali dia menjambak rambutnya kasar.
"Selama ini, aku tidur dengan istri seseorang? Cih! menjijikan," gerutu Lee.
Sementara itu, keadaan Bu Han tidak lebih buruk dari anaknya. Dia yang sama-sama di buat syok, tidak berhenti menangis.
Naura yang selama ini dia anggap pelakor yang menggoda suaminya--dulu, ternyata adik dari pelakor yang sesungguhnya. Dan yang lebih mengejutkan adalah, suaminya memiliki dua anak dari hasil perselingkuhannya itu.
Bu Han memukul dadanya yang terasa sesak. Dunianya hancur untuk kedua kalinya.
Sampai tengah malam, Lee tidak datang ke kamar. Siti ingin menemuinya di kamar tamu tapi selalu di urungkan. Dia tidak ingin menambah keruh suasana hati suaminya.
"Kenapa semuanya menjadi sepertinya ini, ya Allah. Kuatkan semua keluarga hamba. Aamiin," doanya.
Kenapa dan kenapa? itulah yang selalu menjadi pertanyaan yang berputar-putar dalam kepala Lee.
Dia ingin bertanya pada Papanya yang sampai saat ini belum kembali? apakah dia tidak akan pernah kembali dan memilih tinggal bersama wanita itu? benak Lee terus berbicara.
Hari ini pukul 09.00 WIB. Satu hari setelah terbongkarnya kebusukan sang kepala rumah tangga.
Lee belum juga menemui Siti di kamarnya. Siti yang memikirkan kondisi suaminya, dengan mengumpulkan tekad berjalan menuju kamar tamu. Namun, langkahnya terhenti saat pintu kamarnya terbuka dan Lee ada di sana
"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Siti seraya menghampiri suaminya dan memeluknya.
Terkejut sangat saat Lee menghempas lengan Siti yang akan memeluk dirinya.
"Lee?"
"Menjauh dariku."
"Kenapa? ada apa, Lee?" tanya Siti yang mengekor di belakang suaminya.
"Ini semua ... gara-gara kamu!" bentaknya dengan telunjuk yang hampir menempel di ujung hidung Siti.
"Lee ... ada apa?" Siti menangis.
"Jika bukan karena permintaan kamu yang konyol itu, aku tidak akan berzina dengan Naura. Tanggung semua dosanya, SITI!"
Suara Lee yang melengking, membuat Siti hampir terjengkang karena terkejut. Bukan karena tingginya suara Lee. Akan tetapi, tentang apa yang Lee ucapkan terasa benar di telinganya.
Tubuh Siti roboh. Kedua tangannya menutup mulutnya yang terbuka tanpa suara. Air matanya mengalir begitu deras.
"Pergilah ...." suara Lee melunak.
__ADS_1
"Tapi, Lee."
"Pergi aku bilang."
"Tidak, aku tidak akan membiarkan kamu sendirian melewati ini semua. Aku ...."
"Apakah harus aku talak dirimu agar mau pergi, hah!" lagi-lagi suara Lee begitu menggelegar.
"Lee! sadarlah dengan apa yang kamu ucapkan." suara Siti ikut meninggi.
"Aku dengan sadar dan tanpa paksaan menginginkan kamu pergi dari sini, sekarang juga. Dan jangan pernah kembali. Pergilah ...." pelan namun penuh dengan tekanan.
"Lee, kumohon ... tarik kembali ucapanmu. Jangan begini, Lee. Aku minta sama kamu ja ...."
"Siti, ku talak tiga engkau. Mulai saat ini tidak ada hak dan kewajiban di antara kita. Pergilah, mulai saat ini kamu bukan istriku dan bukan menantu dari keluarga ini lagi."
"Astaghfirullah ...."
"Apa belum jelas apa yang ...."
"Jelas. Sangat jelas. Baiklah, aku akan pergi sekarang juga. terima kasih."
"Kemasi barang-barangmu."
"Tidak perlu. Aku datang kesini bahkan tidak membawa harga sedikitpun."
Siti yang merasa begitu sakit hati, pergi begitu saja. Keluar rumah tanpa di ketahui anggota keluarga yang lain. Hanya beberapa pelayan yang berusaha bertanya saat melihat dirinya pergi dalam keadaan menangis.
Seorang supir yang kebetulan mengetahui nomor telepon Erlangga, segera menelpon dan memberitahukan semua yang terjadi.
Tidak pikir panjang. Erlangga segera meraih kunci, berlari dan menyalakan mobilnya. Menancap gas dengan kecepatan penuh.
Erlangga turun, mengetuk salah satu mobil yang berada tepat di belakangnya.
"Maaf, apa selain Bapak, ada yang bisa menyetir lagi?" tanya Erlangga pada pengemudi mobil putih.
"Saya bisa." jawab seseorang yang persisi di samping pengemudi.
"Bagus. Itu mobil saya yang di depan, tolong anda bawa. Ini kartu nama saya, bawa mobil itu ke alamat yang ada disini. Kalau mas mau, ambil saja." ucap Lee begitu saja.
"Tapi, Mas ...."
Erlangga mengabaikan orang-orang yang ada dalam mobil itu, bahkan dia tidak perduli mereka menganggap dirinya pencuri yang tergesa-gesa.
Erlangga celingukan, mencari sesuatu yang bisa dia mintai pertolongan.
"Ojek. Sini."
"Ya, Mas."
"Anterin saya sekarang juga."
"Kemana?"
"Ikut saja dulu, nanti saya yang nunjukin arahnya."
__ADS_1
"Wah, Bang. Kita harus nego ongkos dulu nih."
"Saya bayar berapapun yang Bapak minta. Tolong segera antar saya."
"Bohong enggak nih?"
Erlangga naik pitam, rahangnya mengeras dengan kepalan yang siap di wajah tukang ojek itu.
"Ini. Ini baru uang mukanya."
Wajah tukang ojeg berbinar melihat beberapa lembar uang ratusan ribu di tangan Erlangga.
"Cepat anj***!" bentak Erlangga yang sudah tidak sabar lagi.
"Iya, iya, Mas."
Motor melaju di tengah kemacetan. Menyelinap di antara mobil-mobil yang diam membatu.
"Cepetan dong, ah!"
"Rossi juga gak akan bisa cepet , Mas. Jalannya macet."
"Cari jalan alternatif emang gak bisa?"
"Lah, Mas nya baru mengingatkan saya."
"eh, ******!"
"Tenang, Mas. Saya akan mencari jalan yang lebih cepat."
Menyelusuri jalan sempit, kang ojek dengan cekatan meliuk-liuk. Hingga akhirnya sampai di gerbang perumahan elit di ibu kota. Dimana motor tidak boleh masuk ke dalamnya.
Erlangga turun.
"Diem. Jangan kemana-mana. Tunggu!"
Dia berlari menuju rumah Eyang Amira. Bertanya pada security. Mendapat jawaban bahwa Siti sudah lama pergi, Erlangga berpikir keras. Kemana dia akan pergi?
Erlangga kembali berlari pada tukang ojek tadi. Bersyukur dia masih menunggu.
"Kita jalan lagi. Buruan!"
"Iya, iya, Mas."
Erlangga berpikir, bahwa Siti akan pergi ke terminal. Setelah cukup lama berjalan, Erlangga melihat sosok wanita dengan gamis dan kerudung yang sangat dia kenal.
"Mang, kita kesana." menunjuk ke arah Siti.
"Siti!"
Langkah Siti terhenti saat mendengar suara yang tidak asing di telinganya.
"Erlangga ...." suaranya parau dengan deraian air mata yang tidak berhenti menetes.
Erlangga segera turun, menghampiri Siti.
__ADS_1
"Ada apa?" tanyanya dengan tangan memegang kedua bahu Siti. Tak ada jawaban. Siti masih sangat terlihat syok berat.
Erlangga meraih Siti. Menarik tubuhnya dalam dekapan.