Dimadu Tak Semanis Madu

Dimadu Tak Semanis Madu
Luka Tersembunyi


__ADS_3

Hidup seperti tak hidup. Hidup segan mati enggan. Tetapi, jika mati menjadi pilihan terbaik, makan itu yang akan di ambil.


Hanya saja, hidup bukan tentang bernafas atau tidak. Ada pertanggungan yang harus diemban.


Mata terbuka tapi tidak melihat. Bertelinga tapi tidak mendengar. Memiliki raga meski jiwa entah kemana.


Hidup namun tak bernyawa. Bernafas tapi seakan mati. Kembang desa yang selalu mekar menyebarkan bau harum pada setiap insan yang berada di sekitarnya. Kini, layu.


Lee masih diam. Tidak percaya dengan apa yang terjadi. Dia merasa bertanggungjawab atas hilangnya calon anak dari rahim Siti yang juga anaknya sendiri. Anak yang sedari dulu dia tunggu datang hanya untuk pergi lagi.


"Kenapa? kenapa Lo ngasih tau dia sekarang? kenapa Lo gak ngasih tau dia setelah Lo resmi nikah aja?"


Lee tidak menggubris ocehan Erlangga.


"Lo udah ambil dunianya. Baru saja Pak Muhiddin pergi, sekarang Lo ngasih kabar tentang pernikahan? Lo tau gak? bahkan! setelah bercerai, Siti masih sangat mengharapkan Lo. Brengsek!"


"Apa? Pak Muhiddin meninggal?"


"Tepat di hari Lo ngirim surat perceraian."


"Shit!"


"Dan sekarang? gara-gara Lo, calon anak kalian ikut pergi. Kenapa? apa saking dia enggak mau ketemu sama Lo? gue yakin, dia malu ketemu pecundang yang tak lain adalah bokapnya sendiri."


"Jaga bicara, Lo! tau apa Lo?"


"Gue tau semuanya! gue tau gimana Siti sedih ditalak begitu saja tanpa kesalahan yang dia perbuat!"


"Dia salah! dia yang maksa gue nikah sama Naura."


"Dari awal kesalahan ada di tangan Lo. Andai Lo langsung manjauhi Naura setelah menikah. Nyatanya? bahkan Lo mengkhianati pernikahan kalian."


"Dari awal harusnya gue yang jadi suaminya, bukan Lo yang terlahir dari Bapak kagak bener!"


"Hey!" teriak Lee. Menyeruduk Erlangga hingga tersungkur. Membabi buta memukul wajah dan kepala Erlangga.


Orang-orang yang ada di rumah sakit, ikut melerai. Lee terus memukul sebisanya. Sementara Erlangga hanya diam pasrah.


"Kurang ajar! awas Lo, Erlangga!"


Erlangga terduduk dengan satu kaki yang dia tekuk. Mengusap darah yang menetes dari sudut bibir dan pelipisnya.


"Kita bersihkan lukanya, Mas. Barang kali nanti infeksi." ajak seorang perawat.


Luka Erlangga di obati. Pukulan Lee membuat pelipis Erlangga mendapat dua jaitan.


Tanpa memperdulikan rasa sakitnya, Erlangga kembali menemui Siti dan Zidan.


"Kenapa, A?" tanya Zidan kaget saat melihat wajah Erlangga lebam dan darah di bajunya.


"Bukan apa-apa. Gimana Siti?"


"Teteh masih diem aja. Gak mau ngapa-ngapain, A."


"Selamat siang." sapa seseorang dari balik pintu.


"Siang, Dok."


"Saya mau memeriksa pasien dulu sebentar, ya."


"Silahkan, Dok."


Dokter yang di dampingi perawatan, memeriksa keadaan Siti. Tekanan darah, nadi dan semua keadaan fisiknya.


"Untuk pemeriksaan selanjutnya, nanti akan ada dokter kandungan. Saya hanya memeriksa keadaan umumnya saja. Penanggung jawab nya siapa?"


"Saya, Dok."


"Baiklah, Mas nanti ikut saya ke ruangan. Ada yang harus saya bicarakan."


"Iya, Dok."


Erlangga mengikuti langkah dokter saat keluar dari kamar Siti. Melewati Lee yang duduk termenung.


Sekilas dia melirik.

__ADS_1


"Bagiamana, dokter?"


"Pasien tidak boleh pulang dulu. Memang, biasanya setelah melakukan kuratase kita melihat kondisi pasien berapa lama dia harus di rawat."


Erlangga menyimak dengan seksama.


"Akan tetapi, untuk pasien ini kami perlu melakukan observasi lanjutan. Sepertinya pasien mengalami trauma yang cukup dalam. Itu hanya prediksi sementara saya. Karena yang memberikan diagnosis pastinya nanti setelah melakukan beberapa tes dan pengamatan."


"Apapun. Lakukan apapun demi menyembuhkannya, Dok."


"Baik, Mas. Saya akan melakukan yang terbaik. Nanti sore kita lakukan pemeriksaan ultrasonografi, untuk melihat kondisi rahimnya."


"Iya, Dok. Kalau begitu saya permisi."


"Iya, silahkan."


Erlangga keluar. Berjalan seraya memijat kepalanya yang terasa berat. Mungkin, karena pukulan Lee tadi.


Dia menggelengkan kepala dengan cepat.


"Kalau lelah, pulanglah. Biar aku yang menjaganya disini."


"Bahkan Lo yang menyebabkan ini semua. Mau jaga dengan cara apa?"


"Cukup! jangan di bahas lagi."


"Enyahlah!"


Erlangga berlalu. Masuk ke kamar Siti. Selang beberapa detik, suara Zidan terdengar keras meminta tolong.


Lee segera berlari dan mendapati Erlangga tergolek di lantai.


"Astaga! Zidan, tolong panggil perawat atau siapapun di luar."


"Iya."


Zidan berlari meminta bantuan. Sementara Lee menopang kepala Erlangga. Bantuan datang. Erlangga segera di bawa ke ruang UGD.


"Zidan, temani saja Teteh. Biarkan saya yang menjaga Erlangga."


Dokter selesai memeriksa.


"Anda siapanya pasien?"


"Saya Kakak nya, Dok."


"Apa adik anda selama ini sering mengalaminya sakit kepala hebat?"


"Entahlah, karena kami tidak tinggal serumah. Memang kenapa? adik saya baik-baik saja, bukan?"


"Belum bisa kami pastikan. Mungkin kami akan melakukan beberapa pemeriksaan lanjutan."


"Iya, Dok. Lakukan saja yang terbaik untuk adik saya."


Lee duduk di samping Erlangga. Menatap penuh sesal saat melihat luka dan lebam di wajah Erlangga.


"Gue minta maaf."


Dreetttt dreetttt.


"Halo, Ma."


"Kamu masih disana?"


"Iya, kenapa?"


"Ini ada pembantunya Erlangga, dia kesini nanyain Erlangga ada dimana? dia ada sama kamu bukan?"


"Iya, dia sama aku, Mam. Kenapa?"


"Erlangga sedang sakit katanya, obatnya ketinggalan."


"Obat?"


"Iya! ini obatnya ada sama Mama."

__ADS_1


"Coba, Mam. Foto obatnya terus kirim, ya. Segera!"


"Ada apa, sih?"


"Gak apa-apa, cepet ya, Mam. Aku tunggu."


Lee menutup pembicaraannya dengan Bu Han.


Tak lama kemudian. Ponsel Lee berbunyi. Sebuah pesan masuk lewat aplikasi yang sedang digandrungi banyak orang.


Ada foto beberapa obat yang di kirimkan Bu Han. Lee celingukan mencari dokter yang bisa dia tanyai.


"Dok."


"Ya."


"Maaf, saya mau tanya. Dokter tau ini obat apa?"


Lee menyodorkan ponsel. Memperlihatkan beberapa jenis obat.


"Bapak sakit?"


"Bukan. Ini punya adik saya yang ada di sana."


"Ini obat yang biasa diminum oleh pasien penderita kanker."


"Apa? kanker, Dok?"


"Iya, atau bapak bisa minta bantuan ke apoteker kami untuk ...."


Tanpa mendengar penjelasan lebih lanjut. Lee berlari menuju apotek.


"Permisi. Saya mau tanya tentang obat ini, Mba."


Wanita yang sedang berjaga di apotek rumah sakit mengambil ponsel yang diberikan Lee. Melihat satu-satu gambar yang ada di layar.


"Ini obat untuk penderita kanker otak, Mas. Ini biasanya buat menekan pembengkakan disekitar kanker itu tumbuh. Nah, kalau yang ini biasanya buat meringankan barang kali pasien kejang. Obat yang lainnya obat kemoterapi."


Pandangan Lee mendadak buram. Dia syok berat mendengar penjelasan tentang obat ini.


"Kenapa? kaget?"


Lee segera membalik badan saat suara itu sangat tidak asing baginya.


"Lo? apa ini semua kenyataan? kenapa? kenapa tidak ...."


"Udah. Gak usah lebay! Beliin gue obatnya disini. Kepala gue sakit banget."


"Pulang. Ayo kita pulang sekarang. Lo harus berobat ke luar negeri atau kemanapun. Lo harus mendapatkan pengobatan yang terbaik."


"Siti sama siapa kalau kita pulang?"


"Biarkan. Ada Zidan. Nanti kita minta bantuan warga untuk mengurusnya. Ayo kita pulang," ucapnya seraya hendak berlalu


"Itulah bedanya gue sama Lo. Cinta gue buat dia bahkan rela gue tukar dengan nyawa."


Lee sontak menghentikan langkah kakinya.


"Gue mencintai Siti, sebelum dan saat dia jadi istri Lo. Sampai saat ini, rasa itu masih tetap sama."


Lee bergeming.


"Pulanglah, gue tetep di sini."


"Kalau begitu, Lo harus sembuh dan nikahi dia. Itu yang Lo mau bukan? menikah dengannya dan membangun rumah tangga bersamanya. Kalau Lo sakit, bagaimana Lo bisa menjadi kepala rumah tangga?"


"Lee ..."


"Gue menikah hanya karena ingin melupakan dia, dia wanita yang tak pernah sekalipun pergi dari hati gue. Kesalahan yang gue lakukan sangat fatal. Itulah kenapa gue enggak berani menemuinya lagi."


"Kenapa? Lo ...."


"Tapi, jika dia menikah sama Lo, gue ikhlas. Karena gue tau, Lo pasti bisa jagain dia dengan baik. Pergilah, gue yang jagain dia. Berobat sampai sembuh dan nikahi Siti."


Lee pergi berlalu. Meninggalkan Erlangga yang masih terpaku.

__ADS_1


__ADS_2