Dimadu Tak Semanis Madu

Dimadu Tak Semanis Madu
Bonus#8


__ADS_3

..."Jika nanti kusanding dirimu, miliki aku dengan segala risau hatiku. Dan bila nanti engkau di sampingku, jangan pernah letih tuh mencintaiku."...


...🌺🌺🌺🌺🌺...


Berdoa di setiap sepertiga malam. Meminta petunjuk pada Sang Illahi. Karena hanya dia yang tau apa yang terbaik untuk umatnya.


Kerisauan dan gundah gulana hatiku, semoga mendapat jawaban yang baik menurut-Nya. Benteng yang selama ini kokoh berdiri, akhirnya mulai luntur perlahan.


Bukan, bukan karena aku sudah tidak mencintai Erlanngga lagi. Aku hanya sadar bahwa selain hatiku, ada hati Aksa yang harus aku pikirkan. Selama ini, anakku memang terlihat baik-baik saja. Namun ternyata, itu hanya karena dia ingin menjadi anak yang kuat di hadapanku.


Sedih rasanya saat mendengar dia berdoa selepas salat magrib. "Ya Allah, Aksa mau punya papi. Tapi, bunda tidak mau melupakannya ayah. Ya Allah, Aksa tidak mau bunda nangis. Aksa enggak apa-apa tidak punya papi, yang penting bunda tidak sedih. Jaga bunda Aksa ya Allah. Aamiin."


Ingin rasanya aku menghukum diriku sendiri. Kenapa selama ini aku tidak pernah bisa tau hati anakku sendiri?


Kenapa aku menjadi ibu yang egois untuk Aksa. Mas, apa yang harus aku lakukan sekarang? haruskah aku menikah dengan orang lain demi anak kita? Mas ....


"Meski ada aku, tapi dia tetap membutuhkan sosok ayah yang menjadi penguat hidupnya, Teh. Bagi seorang anak laki-laki, kehadiran ayah itu sangat penting. Bagi seorang anak laki-laki, ayah itu adalah super Hero yang akan dia contoh. Teteh, bisa memberikan segalanya, tapi tetap saja tidak bisa mengganti peranan seorang Ayah." ucap Zidan saat aku mencoba berdiskusi.


Ya, memang benar. Aku tidak bisa menjadi seorang ayah meski kasih sayangku untuk Aksa melimpah. Maafkan Bunda, Aksa.


*


"Bunda, pekan depan akan ada acara belajar di luar. Bunda harus ikut nemenin, ya."


"Iya, sayang. Kemana perginya?"


"Kata Mrs enggak jauh-jauh, katanya ke kebun raya Bogor."


"Euhm, kalau begitu kita harus bawa makanan banyak sekalian piknik."


"Asiikkkk. Bun, kata Mrs boleh bawa kendaraan sendiri kok. Kita bawa mobil Oma aja. Biar Om Zidan bisa ikut."


"Emmm, oke. Bunda setuju, masih ada waktu lima hari lagi untuk siap-siap."

__ADS_1


"Aku mau main lagi sama Bibi."


"Iya, Nak. Hati-hati, ya."


"Andai Papi bisa ikut sama kita." ucapnya sebelum berlalu. Aku tersenyum kecut mendengarnya. Bukan aku tidak suka, perasaan menyesal di dalam dada ini membuat aku merasa sangat tidak becus menjadi ibu.


"Aksa." panggilku, dia menoleh. "Apa kita harus menyiapkan bekal untuk Gisel dan papinya?" Dia terdiam, dan hanya menganggukkan kepala sebagi jawaban dari pertanyaanku.


"Baiklah, lebih baik aku pergi ke taman yang ada di balkon. Sudah lama tidak melihat bunga-bunga di atas." Kuletakkan majalah, beranjak dari sofa kemudian pergi menuju lantai atas.


Bunga-bunga di sana masih terlihat bagus dan terawat, mungkin Bibi sering kesini. Tak apalah, aku hanya ingin sekedar menyapa.


Berbagai jenis bunga ada di sana. Ku siram satu per satu.


Aku jadi teringat akan masa-masa dimana Erlangga masih hidup. Kami sering menghabiskan waktu di sini. Menyiram dan memupuk bunga-bunga. Setelah itu kami akan meminum teh, sambil ngemil. Indah.


"Aaa ...." aku menjerit sekeras mungkin.


"Sayang, kenapa? kamu tidak apa-apa. Ada apa?" Erlangga panik.


"Astaga, itu ulet doang sayang."


"Geli, ihhh."


"Iya, huss. Pergi sana. Sayang, uletnya udah aku buang."


"Ahhh, syukurlah. Aku geli sama ulet, apa lagi berbulu lebat gituh. Hiiyyy."


"Masa?" godanya, sambil memeluk tubuhku erat, hingga untuk bernafas pun terasa sesak.


"Sayang, apaan sih? awas ah! Nanti ada yang liat."


"Kalau begitu, ayo kita ke kamar biar tidak ada yang lihat."

__ADS_1


"Mau apa? tangan kita masih kotor."


"Mau bikin seblak."


"Ah?" dia tertawa begitu keras melihat aku yang tampak bodoh. Dia yang memang sedikit nakal mulai menjahiliku. Mencium paksa pipiku berkali-kali. Aku berusaha menolak karena takut ada yang melihat.


Dia tidak pernah menyerah, mencium apapun yang bisa dia cium dari wajahku.


"Pak Erlangga, masih pagi." Teriak satpam yang kebetulan sedang berkeliling dengan sepedanya. Astaghfirullah .... wajahku panas.


"Iya, Pak. Semalam belum selesai, mau lanjut pagi ini saja mumpung masih fresh."


"Mas! ish." aku memukul dadanya manja. Dia terkekeh.


Matanya menatapku lembut. Banyak cinta yang kudapat dari netra indahnya. Untu beberapa detik mata kami bersitatap. Hingga wajah kami saling mendekat, dan bisa merasakan nafas satu sama lain.


"Mas, jangan di sini." Bisikku. Namun, kenakalan dia memang tidak tau tempat. Aku yang hendak berbicara, terlanjur ditutup dengan bibirnya. Aku masih sedikit menolak, hatiku masih takut kembali di lihat orang lain.


"Sayang, malu." ucapku lagi saat dia sedikit memberi ruang untukku bernafas. Erlanngga tidak menggubris. Hatiku luluh. Dan aku membalas ciuman dia yang begitu lembut dan hangat. Kenapa juga harus memperdulikan orang lain? kami sudah menikah. Tidak ada yang salah, meski aku sadar ini melanggar etika.


"Astaghfirullah ...." lamunanku buyar seketika. Saat air meluber dari pot bunga yang sedang aku siram. Aku sedikit bingung harus berbuat apa, kesadaranku belum seutuhnya pulih dari bayangan Erlangga.


Yang jelas aku harus menyimpan alat penyiram ini terlebih dahulu. Aku sedikit berjalan menuju rak, tempat perkakas di simpan.


Aku berbalik badan untuk kembali, hingga sesuatu menahan langkahku dan kembali membalikkan badan.


"Lee? apa itu mobilnya? kenapa dia berhenti di depan rumah Pak Broto?"


Ya, aku tidak salah lihat. Itu mobil Lee, tidak mungkin aku lupa. Bahkan aku masih ingat no polisinya. Ah, bagaimanapun juga, kami pernah hidup bersama. Aku tahu semua tentang dirinya.


Beberapa menit kemudian, mobil itu bergerak perlahan lalu pergi.


Lee? apa dia ....

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2